Judul: Ilmu Humaniora Kian Tak Digemari
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian FILSAFAT / PHILOSOPHY.
Nama & E-mail (Penulis):
Saya Pengamat di Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Widya Kartika Surabaya
Topik: Filsafat Humaniora
Tanggal: 27 Februari 2006
Ilmu Humaniora Kian Tak Digemari
Oleh: Dewa Gde Satrya
(Peneliti di Pusat Penelitian & Pengabdian Masyarakat,Universitas Widya Kartika Surabaya)
Ensiklopedia Britania (1978) mendefinisikan "education in the humanities is non vocational, nonprofessional, aiming at the maturation of the person as man and citizen, not as a worker in some specialized field; and for that reason, humanistic education is concerned with preserving and developing the arts and skills that find expression in the great objects, problems, and values of human interest" (A. Soenarja, SJ, 1985:52).
Sungguh tidak menimbulkan gairah untuk masyarakat (mahasiswa) yang mencari pekerjaan, kalau dikatakan bahwa "pendidikan humaniora tidak mengarah pada kejuruan, pada keterampilan tertentu, melainkan menuju pada pendewasaan pribadi sebagai manusia dan warga negara, bukannya sebagai pekerja pada bidang tertentu". Abstrak dan tidak praktis untuk mencari pekerjaan.
Sebaliknya, perguruan tinggi yang hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk mencari pekerjaan, tidak akan sampai mendewasakan orang menjadi pribadi sebagai manusia dan warga negara. Banyak robot canggih berhasil diciptakan, namun tetap kerdil sebagai manusia.
Hasil penelitian Sekolah Tinggi Manajemen PPM terhadap pelajar SMU di 40 sekolah se-Jabotabek pada bulan Juli-September 2004, seakan-akan menunjukkan bahwa pendidikan humaniora semakin tidak populer atau bahkan tidak diperlukan oleh calon mahasiswa. Demikian halnya, persepsi di kalangan orang tua, pendidikan humaniora tidak semartabat kedokteran, informatika dan bisnis.
Persepsi terhadap ilmu humaniora terlalu naif. Biaya kuliah yang mahal perlu diperhitungkan dengan pendapatan dari profesi yang dimiliki pada masa pasca sarjana, dan itu berarti bidang ilmu yang mendukung secara langsung pengembalian uang kuliah, cukup laris diminati.
Hasil survei PPM menunjukkan bahwa minat pelajar SMU untuk studi di perguruan tinggi sebagian besar pada jurusan manajemen (30,1%), diikuti dengan akuntansi (19,5%), fisip dan umum (16,9%), informatika (5,6%), teknik (3,5%) dan kedokteran (3,3%). Sebagian besar responden (42,1%) berkeinginan untuk menjadi profesional selepas pendidikan di universitas, dan menganggap studi di perguruan tinggi sebagai modal kerja (34,6%) (Bisnis Indonesia, 5/4, hal. 4).
Situasi pemahaman / persepsi pelajar di Jakarta menjadi sampel pada keseluruhan populasi pelajar di Nusantara. Di Surabaya misalnya, secara empiris pada sebagian besar perguruan tinggi (selain institut kesenian dan sekolah tinggi agama), fakultas ekonomi, jurusan manajemen, bisnis dan akuntansi, juga merupakan penerima mahasiswa terbanyak.
Beberapa panorama yang mudah ditangkap dari performa mahasiswa fakultas ekonomi ialah pragmatis (kuliah untuk mencari nilai / indeks prestasi), intelektualitas rendah (persepsi bahwa ilmu manajemen adalah ilmu hafalan yang mudah), minim kreatifitas, dan banyak waktu santai (karena tidak ada praktikum).
Situasi di Jabotabek dan Surabaya, juga menghampiri Bali. Sastra Bali yang terdiri dari bahasa lontar dan bahasa agama, yang mewujudkan otentitas sebuah bangsa dan alat komunikasi antar manusia, justru semakin ditinggalkan oleh generasi muda. Mahasiswa di Bali menganggap kuliah sastra daerah tidak prospek ke masa depan dan kurang bergengsi (Bali Post, 6/12/03).
Rendahnya minat studi pada ilmu humaniora memiliki korelasi yang erat dengan rendahnya kemampuan mahasiswa untuk bernalar, merumuskan permasalahan dan solusi secara sistematis-rasional, menulis esai/ mengarang ilmiah. Berapa sarjana yang dapat menguraikan isi pikirannya dengan bahasa bersih, gagasan urut, logis, terperinci?
Diantara ilmu humaniora, ilmu filsafat kian tidak digemari oleh kalangan muda. Anggapan tentang filsafat terlampau sulit, abstrak atau tidak konkret, dan tidak menjanjikan benefit materi. Sementara kita tahu, melalui filsafat, manusia ditantang untuk merefleksikan hidupnya, hakekatnya, serta visinya. Maka, kalau Indonesia mau menjadi kelas wahid dalam intelektualitas dunia, apabila ia secara intelektual mau berarti di tingkat mondial, filsafat harus menjadi tempat yang wajar dalam lingkungan akademik di Indonesia (Suseno, 2005:38).
Guru sejarah sekali pun, lebih senang mendikte dari catatan kuliahnya karena tidak mampu berbicara secara bebas, dan menjiwai uraian sejarahnya secara gamblang. Demikian halnya, guru bahasa Inggris, mengulang-ulang gramar tanpa melihat perspektif, kegunaan belajar bahasa modern. Mengajar kesusastraan Indonesia dianggap cukup mengenal nama penyair, pengarang, kapan hidup dan buah karyanya, tanpa pernah membaca puisi atau buku karyanya yang lain.
Humaniora bermaksud meluruskan jalan untuk pendidikan yang lebih lengkap dan harmonis. Manusia jangan keluar menjadi robot, penuh otak dan otot, tetapi tidak memiliki hati yang berbelas kasihan kepada sesama.
Bangsa Indonesia sudah lama memiliki kebudayaan humaniora. Dari dulu bertujuan melestarikan nilai-nilai yang paling tinggi pada manusia dengan sastra, tari, musik, seni lukis, seni patung, dan bangunan-bangunan sejak jaman Hindu, jaman kekawin Ramayana dan Bharatayudha, jaman bangunan Borobudur dan Prambanan.
Performa Kampus
Merosotnya minat mahasiswa untuk studi di jurusan humaniora, berkolerasi erat dengan performa kampus. Arah dan visi kampus berubah total dari agen cendekiawan yang menggagas berbagai perubahan sosial ke arah yang lebih baik, menjadi institusi yang hanya melahirkan para tukang terdidik. Desakan dari berbagai pihak menjadikan kampus sebagai penyelenggara pendidikan demi keuntungan (for profit education provider).
Demikian juga, para mahasiswa dan dosen sekali pun, amat sangat tidak berminat dengan pembelajaran, penelitian dan kajian wacana serta praksis ilmu humaniora. Situasi pembelajaran yang serba instan dan mudah menghasilkan uang, semakin meraja di lingkungan kampus.
Jika demikian, masih mungkinkah aneka disiplin ilmu dan penelitian yang dikembangkan di dalam lingkungan universitas diarahkan secara lebih serius bagi pengabdian masyarakat? Maka, tidak mengherankan, jika kampus-kampus jaman sekarang mandul dengan gerakan-gerakan pembaharuan masyarakat yang identik padanya itu. Sebaliknya, banyak produk kampus yang justru merusak tatanan harmoni kehidupan sosial.
Banyaknya kejahatan atau kriminalitas yang dilakukan oleh para sarjana, merupakan problematika faktual yang menjadi jawaban di balik rendahnya ketertarikan pada ilmu humaniora. Segala macam pembelajaran senantiasa diarahkan dan dipertimbangkan benefit dan kompensasi materialnya.
Saya setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|