Judul: Hati-hati dengan Pendidikan
Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian LAIN / OTHER.
Nama & E-mail (Penulis): dra. Irene Ermaya
Saya Guru di SMK Negeri 4 Kupang
Topik:
Tanggal: 6 Februari 2008
HATI-HATI DENGAN PENDIDIKAN
(inspirasi untuk direnungkan)
Irene Dethan-Ermaya
" .. Bila kita memprihatinkan Negara seratus tahun mendatang,
berilah pendidikan yang layak "
Gerbong mutasi pemerintah yang akan dan sudah digelar setelah pilkada merupakan berita yang menarik dan selalu dinantikan dengan perasaan yang tak menentu, termasuk mutasi para kepala-kepala sekolah merupakan salah satu kebijakan politis dengan alasan yang cukup rasional , yaitu kepala sekolah dapat bekerja sama untuk menjalankan program dan garis kebijakan pemerintah di bidang pendidikan sesuai regulasi yang dikeluarkan. Permasalahan yang akan muncul nanti bila pergeseran tersebut lebih banyak dilandaskan oleh "DUK" (daftar urutan kedekatan) tanpa melihat kemampuan dibidangnya, bukan pada DUK (daftar urutan Kepangkatan/kemampuan), sebab sekolah adalah tempat dimana seorang anak dididik, dibina, dilatih mengelola diri sendiri dan lingkungannya agar mampu menghidupi diri dan liongkungannya melalui pemberdayaan IPTEK Sosbud yang didapat dari bangku sekolah dengan budi pekerti yang tinggi yang menjadikannya manusia handal, kreatif, berambisi, trampil mengambil resiko, dan disiplin.
Untuk mampu menghasilkan tamatan seperti itu maka pendidikan sebagai satu system yang tak terpisahkan terdiri dari pemerintah (regulasi,dana,dll), sekolah ( kepsek,guru, dll), masyarakat, stake holders, orang tua harus didudukan pada posisi masing-masing secara benar dan professional untuk melaksanakan tupoksinya secara bertanggung jawab, sehingga system ini dapat berjalan dengan baik.
Kepala sekolah merupakan pimpinan satuan pendidikan (istilah untuk sekolah) yang memiliki fungsi manajerial, administrator, educator, supervisor, leader, motivator, wirausahawan harus mampu menjabarkan fungsi dalam tugas dan tanggungjawab kesehariannya, atau memiliki kompetensi yang dituntut dalam permendiknas no. 13 tahun 2007 tentang standard kepala sekolah, dimana seorang kepala sekolah harus memiliki dimensi kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervise dan social.
kepala sekolah harus mampu mengelola seluruh sumber daya yang ada baik di dalam sekolah maupun luar sekolah sehingga proses pembelajaran mampu menjawab kebutuhan anak dan pengguna tenaga kerja (pasar kerja) baik sebagai tenaga siap pakai atau tenaga siap latih tingkat menengah (Johanis Manulangga, dlm seminar sehari-FPPAP,2007).
Untuk mampu mengakomidir peran dan fungsi secara maksimal maka kepala sekolah harus memiliki :
1; Visi,misi, tujuan (visioner)
2; Kemampuan mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya dengan tujuan
3; Kemampuan mengambil keputusan secara trampil
4; Toleransi pada perbedaan setiap orang yang menjunjung tinggi kualitas,prestasi, standard dan nilai-nilai
5; Kemampuan menggunakan input manajemen
6; Memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar
7; Memberdayakan sekolah
Dalam menjawab perubahan pola manajemen pendidikan yang mengarah pada manajemen berbasis sekolah membuka ruang gerak lebih luwes untuk memberdayakan seluruh sumber daya yang kompeten , sehingga dengan kewenangan kepala sekolah yang cukup luas membutuhkan sosok yang kompeten , visioner yang bertanggung jawab.
Memang dirasakan agak sulit menemukan sosok yang ideal (visioner), yang mampu menyeleksi input-input positif walau telah berada dalam satu system politik yang seringkali lebih mementingkan sekelompok orang dan bersifat sesaat yang mampu memendam idealisme seseorang yang mengakibatkan tujuan mulia dunia pendidikan akan terkikis habis
Dari kondisi ini saya terilhami seorang filsuf dari timur yang menyatakan "..., bila kita memprihatinkan Negara seratus tahun mendatang, maka berilah pendidikan yang layak . Pertanyaan kita semua, apakah pemerintah kita sekarang sedang memprihatinkan Negara seratus tahun mendatang ? atau ....dan pertanyaan yang sama untuk para kepala sekolah, apakah mereka berempati ? atau sekedar mengamankan jabatannya? Saya percaya masih banyak kepala sekolah yang memiliki idealisme, tetapi ketika idealisme itu terantuk pada kebijakan yang "membingungkannya" masihkah mampu berjalan pada koridor yang tepat?
Seperti yang telah ditulis bahwa kepala sekolah (sekolah) merupakan bagian dari satu rangkaian system yang saling mendukung dalam menjalankan roda pendidikan, apabila salah satu bagian terganggu (disfungsi) maka akan terganggu roda pendidikan dalam mencapai tujuan. Gangguan tersebut bisa karena tidak kompetennya kepala sekolah dalam mengelola sekolah. Dengan demikian penempatan kepala sekolah harus dinilai dari kemampuan untuk menjalankan tupoksinya .
Untuk meminimalisisr subyektifitas penentuan kepala sekolah, penentuannya tidak hanya pada penilaian administrasi belaka (bukan satu-satunya penentu) tetapi disertai dengan pemaparan visi dan misi secara interaktif pada forum terbatas (dihadiri baperjakat dan perwakilan komunitas guru,LSM).
Dengan demikian proses perekrutan dapat dijalankan seobyektif mungkin, sehingga kompetensi dan kemampuan kerjasama dalam menjabarkan visi dan misi demi peningkatan kualitas tamatan dan bukan sekedar peningkatan angka-angka kelulusan tanpa makna, sebab pemberian otonomi yang cukup luas bagi kepala sekolah terbukti telah membawa dampak positif terhadap motivasi dan komitmen guru dan terhadap keberhasilan sekolah (Gazie,1998) dan William,1997 yang membuktikan "the increase decision-making power of principals has allowed them to introduce innovative programs and practice " atau peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam pengambilan keputusan telah membuat mereka memperkenalkan program dan praktik (penyelenggaraan pendidikan) yang inovatif.
Akhirnya dengan besar hati kita harus mau melihat keberhasilan sekolah lain yang telah berhasil dengan komitmen tinggi pada mutu pendidikan, seberapapun usia sekolah tersebut dan siapapun pemimpin sekolah tersebut.
Semoga tulisan ini ada sedikit arti dan mampu memberikan inspirasi bagi kita, sehingga apa yang diidamkan oleh masyarakat dapat terwujud , dan untuk satu tujuan mulia... Selamatkan Indonesia dari kebodohan dan kemiskinan yang merupakan lingkaran setan tanpa awal dan akhir, seperti telur dan ayam. .
Penulis adalah guru
Saya dra. Irene Ermaya setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|