Judul: METODE PRESENTASI DENGAN MS POWER POINT UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN WRITING DAN SPEAKING
Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian BAHASA / LANGUAGES.
Nama & E-mail (Penulis): Nurdin Somantri
Saya Guru di SMA di Yogyakarta
Topik: Peningkatan kemampuan speaking dan writing
Tanggal: 3 Maret 2005
METODE PRESENTASI DENGAN MS POWER POINT UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN WRITING DAN SPEAKING
SISWA SMA
Latar Belakang
Hampir setiap guru mungkin pernah menemukan suasana kelas yang tidak kondusif untuk proses pembelajaran. Para siswa tidak merespon apa yang guru bawakan dan guru merasa tak ada gunanya lagi berbicara di depan siswa karena siswa juga ngomong, rame sendiri, dan kelas berubah menjadi pameran abab. Jelas suasana begitu tidak akan mencapai tujuan pembelajaran seperti yang direncanakan.
Penulis pernah juga merasakannya. Rugi rasanya nyerocos dalam Bahasa Inggris, sedangkan mereka mendengar tetapi tidak mendengarkan. Sebagian mengerutkan dahi karena tidak mengerti perkataan saya atau sedang punya masalah lain? Diajak membuka buku paket malah digambari macam-macam, disuruh mengerjakan latihan dari LKS malah saling contek. Pusing jadinya.
Permasalahan
Apabila kita amati, sebenarnya anak-anak sekarang bukanlah anak-anak bodoh. Mereka mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara sederhana. Sebagian dari mereka juga terbiasa menggunakan komputer dan sering chatting, browsing, surfing di warung internet. Yang mereka rasakan adalah kebosanan karena selalu dijejali dengan soal-soal dan teori-teori dari Senin - Sabtu, menjadi pendengar yang baik, notulis yang rajin, dan calon penderita ambeien yang akut. Apa yang harus dilakukan???
Dengan suasana hati siswa atau guru yang tidak senang, hampir bisa dipastikan proses pembelajaran tidak berjalan baik, dan hasilnya juga tidak maksimal. Untuk Bahasa Inggris, bisa kita lihat banyak siswa SMU yang sudah 6 tahun mempelajarinya, bahkan 9 tahun, masih belum bisa berbahasa Inggris, dan nilai dalam UAN rata-rata di bawah 5. Seperti gunung es, siswa yang berkemampuan bagus itu hanya beberapa (itupun umumnya karena mereka ikut kursus di luar sekolah).
Kekurangan tersebut mungkin salah satunya karena kurikulum terlalu menekankan pada reading skill, padahal dalam kenyataannya -lebih-lebih untuk masa mendatang-, kemampuan writing dan speaking yang banyak dituntut. Belajar Bahasa Inggris menuntut 3 M: Mood, Motive, Method. Mungkin pula kekurangan itu disebabkan mood dan motive-nya kurang baik, ditambah lagi metode yang disampaikan guru juga tidak sesuai dengan karakter, usia, atau kesenangan siswa.
Memahami watak dan karakter siswa
Pada awal tahun pelajaran, ketika masuk kelas pertama kali, seyogyanya guru mencoba mengetahui watak dan karakter masing-masing siswa. Bapak Ibu wali kelas tentunya harus bekerja lebih keras pada tahap ini.
Mengacu pada buku 'Revolusi Cara Belajar' karya Gordon Dryden dan Jeannette Voss, ada 3 kategori gaya belajar siswa yaitu auditorial, visual dan kinestetik/haptik. KBK menuntut adanya pemenuhan individual dan berorientasi kepada proses bukan kepada hasil. Jika kita mengajar melulu menggunakan metode ceramah, hal ini hanya menguntungkan siswa yang berkarakter auditorial saja, sedangkan dua karakter lainnya terabaikan. Maka harus kita cari metode yang dapat menggabungkan ketiganya. Dengan mengetahui karakter siswa, kita bisa menentukan metode yang mungkin cocok untuk diterapkan di kelas.
Metode Presentasi
Metode presentasi adalah metode pengungkapan ide, gagasan, perasaan di depan umum oleh satu atau lebih presenter dengan menyertakan naskah makalah atau tidak. Bagi kebanyakan orang metode presentasi menuntut adanya pembuatan ringkasan dari sekian masalah yang akan dipaparkannya.
Tujuannya adalah melatih siswa mengembangkan kemampuan writing dan speaking serta cara berfikir kritis dan analitis. Jika persiapan dan pelaksanaannya menggunakan komputer, maka mereka mempermahir penguasaan atas program yang digunakan dalam komputer tersebut, dalam tulisan ini adalah Microsoft Power Point. Sebenarnya metode ini sudah terbiasa dilakukan para guru, lalu sekarang kita alihkan kepada siswa.
Hal-hal yang harus diperhatikan guru adalah:
1. Menyiapkan daftar topik atau mendiskusikan topik terlebih dahulu dengan siswa.
2. Menyediakan kamus yang cukup untuk proses penulisan makalah dan point of talks, serta menerangkan atau memberi contoh cara presentasi yang baik.
3. Membagi dan menerangkan tugas setiap anggota kelompok dalam proses pembuatan makalah dan proses selanjutnya.
4. Menyiapkan sarana misalnya OHP, komputer atau LCD. Sebaiknya presentasi dilakukan di ruang khusus misalnya ruang multi media yang biasanya sudah ada laboran yang mengoperasikan peralatan yang diperlukan. Bisa juga siswa secara mandiri mengoperasikan sarana yang sudah disediakan sekolah.
Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
1. Membentuk kelompok per kelas terdiri dari 4 - 5 siswa.
2. Mendiskusikan topik yang akan dipresentasikan, bisa juga berdasarkan penelitian yang dilakukan siswa, misalnya pelaporan hasil angket atau studi pustaka.
3. Menulis naskah lengkap. Masing-masing kelompok berbagi tugas siapa yang menulis latar belakang, permasalahan, tujuan, bagian pokok, kesimpulan dan saran.
4. Menyusun point of talks, yakni hal-hal pokok yang akan disampaikan dalam presentasi. Naskah presentasi berbeda dengan naskah makalah, yakni berisi hal-hal penting atau ringkasan dari makalah.
5. Memasukkan data ke dalam komputer dengan bantuan program MS Power Point.
6. Mempresentasikannya menggunakan alat bantu OHP, beberapa layar monitor komputer yang disambungkan dengan splitter, atau menggunakan LCD.
7. Tanya jawab/diskusi.
8. Pemberian evaluasi, diberikan setelah sekian/seluruh kelompok maju dengan soal bersumber dari proses presentasi dan diskusi.
Manfaat
Berdasarkan pengalaman penulis, manfaat yang akan diraih adalah adanya suasana kelas yang hidup. Siswa sangat antusias memanfaatkan fasilitas sekolah terutama komputer khususnya dalam proses pembuatan point of talks dengan MS Power Point. Secara psikologis siswa merasa bangga bisa mengungkapkan ide, perasaan dan pikirannya dan tampil paling tidak di depan teman-teman sekelas dan gurunya, memaparkan sesuatu dalam Bahasa Inggris. Rasa bangga itu akan lebih kentara jika kita menshootingnya atau memfotonya, dan di akhir program sambil membagikan hasil evaluasi kita berikan fotonya atau kita putarkan lagi filmnya di depan kelas.
Kemampuan writing dan speaking terasah. Ini modal untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Beberapa siswa pernah penulis kirim dalam lomba presentasi Bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi, dan mereka menjadi juara. Jika tidak pernah menerapkannya di dalam kelas, mungkin masuk final pun tidak.
Manfaat yang lain melatih berfikir kritis dan analitis. Kadang-kadang muncul hal yang bagi penulis tidak pernah terfikirkan bahwa ada sebuah fakta atau data di depan kita. Mereka mampu menangkap dan menggalinya. Mungkin ini yang disebut kebo nyusu gudel, sementara guru sibuk memikirkan gaji yang tak pernah cukup sehingga tak ada waktu untuk pergi ke internet atau ke seminar, sedangkan siswa punya waktu yang cukup banyak dan akses yang hampir tak terbatas untuk menggali sesuatu.
Kendala
Siswa umumnya tidak tertarik mendiskusikan topik yang bersifat text book. Lain halnya jika mereka mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan dunia mereka, dunia remaja, bahaya seks bebas, pernikahan dini, atau narkoba. Oleh karena itu guru harus pandai-pandai menyesuaikan dengan KBK. Sepanjang sama-sama mengembangkan kemampuan writing dan speaking, bila ada kelompok yang mengajukan topik yang dianggap kurang berkaitan dengan GBPP, kita bebaskan saja mereka membahasnya. Jangan kehilangan momen atau mencelanya. Sesuatu yang dilakukan dengan senang hati hasilnya pasti lebih baik dibandingkan dengan karena terpaksa. Sebagai guru kita bisa belajar banyak dari siswa.
Metode ini hanya cocok diterapkan di kelas yang siswanya sudah memiliki kemampuan komunikasi dasar. Di kelas yang pasif, rendah kemampuannya, tentu tidak bisa. Logikanya, jangankan untuk mempresentasikan sesuatu, untuk mengungkapkan siapa dirinya atau apa keinginannya saja mungkin masih kesulitan, terkecuali kalau guru mau melatihnya dan menjalani proses yang sangat lama.
Sekolah yang tidak memiliki sarana OHP, komputer, LCD dll tentu akan berkurang nilai kesenangannya bagi siswa maupun guru. Kalaupun akan dilakukan metode ini, siswa harus menggandakan makalah, point of talks yang cukup banyak, sehingga proses pembelajaran akan seperti mempelajari buku biasa ditambah dialog. Kekurangan sarana ini tentu bisa dibicarakan dengan sekolah dan BP3.
Saya Nurdin Somantri setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|