Judul: Membaca Sosok Agus Misriadi
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Lidus Yardi
Saya Guru di Kuansing, Riau
Topik: Membaca Mentalitas Bangsa
Tanggal: 16 April 2005
Membaca sosok Agus Misriadi
Oleh Lidus Yardi
ARTIKEL ini dibuat setelah penulis menyaksikan kuis milioner di RCTI, 9 April 2005. Adalah Agus Misriadi peserta pertama dan sekaligus yang terakhir duduk di "kursi panas" pada malam itu. Peserta lain yang menunggu giliran untuk tampil harus puas menyaksikan kemampuan Agus untuk menjawab hampir semua pertanyaan yang diajukan. Dari 15 pertanyaan yang ada Agus mampu menjawab 14 pertanyaan, dengan demikian ia berhak mendapatkan uang sebanyak setengah milyar!
Agus Misriadi bukanlah seorang sarjana yang berpendidikan tinggi, apatah lagi untuk menyebutnya seorang professor. Ia hanya seorang penjaul (loper) koran, tamatan STM dengan umur 23 tahun. Namun, siapa yang menyangka ia mampu berprestasi pada acara yang sangat bergengsi itu. Siapapun yang menyaksikan acara kuis milioner pada malam itu tentu akan kagum dengan perolehan yang ia raih. "Tamatan STM", "loper koran", "umur 23 tahun", inilah yang menghentak tulisan ini hadir
Menarik apa yang diungkapkan oleh Tantowi Yahya, pemandu acara kuis itu ketika mengomentari sosok Agus Misriadi. Tantowi mengatakan "jangan nilai isi dari sebuah buku hanya dengan membaca covernya". Dengan kata lain, menilai kemampuan seseorang tidak bisa diukur hanya dengan melihat tingkat pendidikan serta pekerjaan yang dilakoni oleh seseorang itu. Dan, sekolah bukanlah satu-satunya cara untuk menjadikan seseorang pandai. Kemampuan untuk mengambil resiko dalam hidup ini memerlukan kecerdasan, kaberanian, dan ketepatan. Apa yang dapat kita baca dari sosok Agus Misriadi ?
Pernah para guru besar (profesor) dari berbagai universitas ternama di Indonesia diundang untuk ikut acara kuis milioner, dari kalangan anggota DPR, artis, seniman budayawan, wartawan, yang semuanya rata-rata memiliki strata pendidikan dan klasifikasi kehidupan sosial yang memadai. Yang ironis adalah para guru besar dari universitas-universitas yang tampil hanya mampu menjawab sekitar 5 pertanyaan, yang semua pertanyaan itu relatif mudah sebagai tingkat aman pertama. Lebih ironis lagi sebagian peserta banyak berhenti setelah merasa cukup mendapatkan uang banyak, sehingga tidak berani menjawab pertanyaan selanjutnya.
Benar kata Tantowi, sosok Agus Misriadi yang tanpil pada malam itu berbeda, ia pengecualian dari watak (budaya) orang Asia yang tidak berani mengambil resiko atau mencoba. Meskipun seorang pekerja loper koran, yang dalam benak semua orang butuh akan uang, namun Agus berani melanjutkan permainan dan mempertaruhkan uang Rp. 250 juta yang telah berhasil ia dapatkan. Agus bukanlah sosok pekerja sederhana, apalagi untuk menyebutnya seorang intelektual yang berpandangan meterialistis. Buktinya ia tidak berpikir untuk menghentikan permainan meskipun perolehannya sudah mengagumkan. Wajar seorang ibu yang ada di ruangan kuis itu menangis karena ikut larut dalam emosi ketika melihat keberanian Agus bertaruh untuk menjawab pertanyaan ke 14, seperti yang terlihat di layar kaca TV.
Apakah dengan uang yang telah didapatkan Agus akan meninggalkan pekerjaannya sebagai loper koran dan akan membuka bisnis baru ? Agus Misriadi menjawab pertanyaan Tantowi Yahya ini dengan "tidak akan meningggalkan pekerjaan karena tidak ada penggantinya mas". Apa yang dapat kita baca dari jawaban Agus ini ? Adalah sosok dedikasi yang tinggi dan penuh tanggung jawab terhadap suatu pekerjaan. Suatu sikap yang patut dibanggakan karena sangat langka saat sekarang di negeri ini.
Dzaujak Ahmat dalam sebuah artikelnya yang belum lama terbit di koran ini pernah mengungkapkan penelitian seorang barat yang menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia dalam bekerja cenderung menginginkan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penelitian itu benar adanya, kenyataan yang berkembang ditengah masyarakat memang demikian. Bahkan ada anggapan kalau menjadi PNS hidup sudah tenang, ada pegangan yang merasa terpandang. Tidak heran kemudian setap tahun bila ada pembukaan CPNS ribuan dan mungkin jutaan serjana di negeri ini berlomba-lomba untuk mendaftar.
Padahal bila direnungi, sebenarnya realitas masyarakat seperti ini menunjukan sikap yang memalukan dan sama sekali tak patut dibanggakan. Mengapa ? berlomba-lomba menjadi PNS sebenarnya menunjukan watak khas kerja (etos) masyarakat yang lemah, pemalas dan bergantung pada patron (baca: pemerintah). Almarhum Kuntowijoyo menyebut gejala masyarakat seperti ini sebagai "mentalitas bangsa kelian". Melalui utang kita menjadi klien IMF, Bank Dunia, ADB, CGI, dan IDB. Melalui modal dan produk, kita menjadi klien AS, Eropa, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan RRC. Melalui TKI dan TKW kita menjadi klien Malaysia dan Timur Tengah. Melalui teve kita menjadi klien Amerika (Barat), Jepang, Taiwan Dan India. Bangsa dan masyarakat kurang berinisiatif untuk maju dan selalu bergantung kepada patron. Sebab itu kata Kuntowijoyo, kita harus cepat-cepat meninggalkan mentalitas klien untuk kembali menjadi bangsa yang mandiri dan merdeka.
Watak masyarakat seperti ini ternyata sudah lama berurat berakar ditengah masyarakat Indonesia. Dalam cacatan memori Nicolas Engelhard tertanggal 15 April 1805 mengungkapkan pengalamannya, bahwa ia menjadi kaya raya ketika menjabat sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa lantaran orang-orang pribumi yang ingin mendapatkan jabatan dari dia membawa upeti berupa uang, barang dan jasa lain yang jumlahnya sesuai dengan jenjang jabatannya (fokus Kompas, 17/8/2003).
Apa yang dialami Engelhard pada 1805 tetang kebiasaan watak pribumi masih dapat dirasakan saat ini. Untuk dapat bekerja atau duduk pada jabatan tertentu tidak jarang harus pakai uang pelicin, main sogok, menggunakan ijazah palsu, dan menghambur-hamburkan kekayaan. Tidak mungkin sikap amanah dalam menjalankan tugas dimulai dengan cara melanggar norma. Sebab, pengabdian yang tulus dan dedikasi yang tinggi dalam bekerja akan ditampakkan oleh sikap awal dan usaha yang bersih ke arah itu. Berangkat dari penjelasan ini, wajar ada penilaian kinerja pemerintah masih terkesan mengecewakan. Wajar PNS waktu kerja ada yang duduk-duduk dikedai kopi dan berkeliaran di pasar-pasar diberitakan. Mentalitas seperti inilah yang membuat bangsa ini tak kunjung maju.
"Belum ada penggantinya mas" kata Misriadi. Hendaknya kalimat itu menghentak nurani kita untuk lebih sadar bahwa tidak ada alasan untuk lari dari tanggung jawab selama itu merupakan amanah yang harus diemban. Inilah yang harus dibaca dari sosok loper koran Agus Misriadi yang sederhana dalam penampilan namun cukup mengajarkan arti pentingnya sebuah kesadaran. Kita adalah bangsa yang masih belajar. Namun, sekolah bukan satu-satunya jalan untuk menjadikan seseorang pandai dan memiliki wawasan. Membaca adalah kunci utamanya. Selamat buat Agus Misriadi! Wallhua'lam.
Saya Lidus Yardi setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|