Artikel:
PGRI di Tahun Baru


Judul: PGRI di Tahun Baru
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian LAIN / OTHER.
Nama & E-mail (Penulis): tri hayat ariwibowo
Saya Guru di sman 3 banjarbaru
Topik: Guru oh Guru
Tanggal: 19 April 2008

PGRI DI TAHUN BARU

(Oleh : Tri Hayat Ariwibowo, S.Pd)

Konon sebagai organisasi profesi terbesar di Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mempunyai peran yang sangat penting bagi pendidikan di Indonesia. Setidaknya sejak diproklamerkan 25 November 1945 silam PGRI dengan tegas mempunyai sasaran, yaitu pertama untuk mempertahankan Republik Indonesia yang diperjuangkan dengan merebut kemerdekaan. Kedua, meningkatkan pendidikan berdasarkan prinsip-prinsip kerakyatan. Ketiga, membela hak dan nasib buruh, khususnya guru. Tentunya hal yang sangat mulia. Namun seiring perjalanan waktu dan perkembangan zaman keinginan mulia tersebut tidak dapat semuanya dicapai.

Terlebih dengan catatan sejarah perjalanan organisasi ini yang terlibat dalam politik praktis menjadikannya tidak lagi konsen dalam bidang pendidikan. Sehingga tahun 2003 diadakan kongres di Semarang dengan harapan bahwa PGRI akan kembali kekhitannya. Terutama untuk kembali menampilkan jati diri sebagai organisasi perjuangan, ketenagakerjaan dan organisasi profesi yang bersifat unitaristik dan nonpolitik praktis. Sebuah harapan yang patut didukung oleh semua anggota dan stakeholder. Memasuki awal tahun 2008 ini banyak harapan dan asa yang disematkan kepada PGRI.

PGRI Pemersatu Guru

Sebagai wadah persatuan guru, PGRI diharapkan menjadi pemersatu anggotanya bahkan pemersatu bangsa. Terlebih dengan adanya UU SisDikNas dan UU Guru dan Dosen setidaknya semakin menguatkan peran organisasi ini dari mulai tingkat nasional, propinsi, sampai tingkat kecamatan dan kelurahan. Dengan jaringan yang begitu luas dan banyak menjadikan PGRI sangat mengakar di Indonesia. Namun sayang, pengembangan visi dan misi PGRI tidak sebanding lurus dengan kuantitas anggotanya. Lebih ironi lagi banyak PGRI yang hanya mengekor program kerja pengurus terdahulu ataupun bahkan tidak mempunyai inovatif sama sekali. Inilah yang menjadi tantangan kedepan bagi PGRI.

Masih lekat dalam ingatan ketika tahun lalu peringatan hari PGRI digabungkan peringatan KORPRI dan HKSN. Kebetulan saat itu penulis mengikuti upacara di Lapangan Dr. Murdjani Kota Banjarbaru. Lazimnya seremonial peringatan, tidak ada hal yang luar biasa terjadi, semunya berjalan biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sepertinya kehilangan makna. Makna sebagai wadah perjuangan guru yang sudah kehilangan jati dirinya. Dengan alasan efektifitas dan efesiensi upacara peringatan digabung, padahal upacara tersebut merupakan media yang sangat baik untk mengingat kembali perjuangan para pendahulu PGRI yang berjuang demi kemajuan guru-guru. Dan tentunya sebagai refleksi diri untuk menjadi lebih baik lagi dimasa datang. Sayang dan sayang. Para gurupun tidak dapat berbuat banyak karena memang sudah terpola demikian sejak dulu. Yang penting diadakan tiap tahun tidak perduli mau digabung dengan apa saja, kira-kira begitu komentarnya.

Pertanyaan yang sering muncul, apa yang guru dapatkan dari PGRI. Sebuah riset sederhana penulis lakukan dengan menanyakan langsung tentang apa manfaat yang didapatkan dari PGRI. Dari 20 orang guru yang penulis tanyakan, menjawab tidak ada sama sekali secara langsung. Bahkan ironinya gaji mereka dipotong tiap bulan untuk iuran PGRI. Dan yang paling besar saat POR PGRI. Begitu juga dengan advokasi dan pembelaan terhadap guru-guru semuanya menjawab tidak pernah. Secara langsung mereka tidak merasakan boleh jadi ini salah satu kritik bagi PGRI. Namun ada juga yang positifnya dapat menjalin silaturahim sesama guru. Sekali lagi ini hanya riset sederhana yang dilakukan penulis.

Justru hal menarik adalah tanggapan mereka tentang keberadaan PGRI itu sendiri yang dianggap belum mewakili aspirasi guru selama ini. Bagaimana mau memperjuangkan jika PGRInya sendiri pasif dan hanya menunggu bola. Sehingga tidak heran ada yang mengingkan adanya reformasi di tubuh PGRI.

Tidak berhenti disana, penulis juga berkesempatan bertemu dengan peserta Prajabatan Golongan III Eks-Honorer Tahun 2007 di Balai Diklat Propinsi Kalsel di Banjarbaru. Sekitar seratus guru yang ikut prajabatan mengaku perjuangan mereka untuk menjadi PNS tidak melalui PGRI tetapi justru melalui Forum Komunikasi Guru Bantu Indonesia (FKGBI) yang ada di masing-masing kota/kabupaten. Hal ini diperkuat oleh pengurus FKGBI Kalsel yang mengaku pernah meminta dukungan PGRI Kalsel untuk memperjuangkan nasib mereka ketika akan keluarnya PP 48/2005 tentang pengangkatan pegawai negeri sipil, ternyata mendapat sambutan yang kurang simpatik dari pengurusnya. Namun hal ini tidak menyurutkan niat mereka. Alhasil mereka tetap berangkat ke Jakarta menghadiri kongres guru bantu nasional. Bahkan sampai keluar PP No. 43/2007 tentang revisi PP. No. 48/2005 tentang pengangkatan PNS. Tidak ada respon dari PGRI. Pertanyaan pun muncul apakah PGRI hanya untuk para guru yang sudah PNS, sedangkan yang non-PNS nanti dulu.

Sebuah masukan tentunya bagi PGRI ditahun 2008 ini. Harapan kita semua, tidak ingin PGRI terlena dengan "kenyamanan" yang ada sehingga lupa dengan tujuan awalnya. Kita berharap PGRI benar-benar menjadi pemersatu guru bukan hanya formalitas struktur yang harus ada. Saatnya untuk bangkit dan menunjukkan bahwa PGRI memang wadah para guru yang harus digugu dan ditiru.

PGRI Naungi Guru

Tidak dapat dipungkiri bahwa para pengurus PGRI adalah orang-orang yang terpelajar dan memang tahu bidangnya. Namun dalam pengamatan orang banyak bahwa kegiatan PGRI itu sendiri sering tidak dipublikasikan dengan baik sehingga terkesan tidak ada kegiatan inilah yang menjadi persoalan yang sebenarnya sederhana menjadi rumit dan celakanya lagi justru menjadi indikator keberhasilan tiap pengurus PGRI itu sendiri. Analisis lainnya mungkin memang tidak ada kegiatannya...he...he... sehingga laksana lagu lama, "semua senang asal tidak saling menyerang". Begitu pun dalam pertanggungjawaban tiap pergantian pengurus lagi-lagi terlihat sebagai formalitas belaka dan tinggal "kompromi" siapa yang bakal jadi penerusnya.

Sistem penyelenggaraan organisasi inilah yang perlu dibenahi. Walaupun tidak mendapat gaji, namun kepercayaan yang diberikan anggota kepada mereka yang terpilih hendaknya diemban dengan baik. Atau, apakah perlu digaji agar dapat berkerja dengan baik. Rasanya ini juga berlebihan karena pasti menimbulkan polemik. Karenanya dengan prinsif pengabdian kepada negara dan bangsa hendaknya menjadi contoh yang baik. Terlebih jika PGRI dijadikan cermin bagi profesi guru itu sendiri sehingga berikan yang terbaik bagi organisasi. Kesan yang muncul justru tidak sebaik harapan sehingga tidak salah jika ada yang menilai guru belum layak menjadi profesi. Harapan kita guru harus ditempatkan sesuai hak dan martabatnya. Terkait reposisi guru dalam pendidikan nasional, pengurus PGRI hendaknya mempunyai komitmen untuk meningkatkan dan mengembangkan PGRI kearah yang lebih baik secara aktifitas.

Seperti disampaikan Muhammad Surya (Ketua PGRI Pusat), PGRI merupakan wadah rasa kesejawatan para guru untuk melakukan kegiatan bersama dalam mencapai kepentingan dan tujuan bersama; kepentingan pendididkan nasional maupun profesionalisme guru. PGRI mempunyai peranan strategis dalam reformasi pendidikan nasional. Kepada anggotanya PGRI berperan dan bertanggung jawab untuk memperjuangkan dalam upaya mewujudkan serta melindungi hak-hak asasi dan martabat guru khususnya dalam aspek profesional dan kesejahteraannya. Untuk itu, PGRI mengupayakan penggalangan persatuan dan kesatuan para guru, meningkatkan kualitas profesionalisme, dan secara konsisten terus memperjuangkan kesejahteraan para guru.

Sebagai wadah terpelajar tentunya mempunyai visi jauh kedepan untuk lebih baik lagi. Karenanya untuk mencapai tujuan awal, hendaknyya PGRI mengembangkan jaringan kerja secara luas dengan mengakses sumber-sumber informasi dan teknologi. Terutama akses ke pemerintah dan jangan lagi melakukan kesalahan yang sama dengan masuk ke politik praktis. "Enak sesaat, sesal kemudian", dan akhirnya membuat impoten PGRI itu sendiri. Kiranya hal berikut dapat dilakukan bermitra dengan pemerintah harus ada komitmen yang jelas menempatkan posisi guru dalam porsinya yang sesuai dan memberikan penghargaan yang layak dengan hak dan martabatnya. Perbaikan sistem pendidikan dan pelatihan guru lebih berorientasi pada pembentukan dan pemberdayaan kepribadian guru secara profesional sehingga betul-betul mampu menaungi guru.

Maju Terus PGRI

PGRI mewadahi kaum guru dalam upaya mewujudkan hak-hak asasinya sebagai pribadi, warga negara, dan pengemban profesi. Namun, sama halnya dengan banyak organisasi profesi yang masih tergantung dengan pemerintah, kinerja PGRI masih jauh dari harapan. Untuk itu pembenahan diharapkan tidak saja pada personnya tetapi juga sistemnya.

Tidak ada hal yang membanggakan ketika melihat PGRI mandiri dengan programnya dan mampu menunjukkan diri sebagai organisasi yang benar-benar layak disebut sebagai wadahnya para guru. Harapan itu tentunya tidak bisa tercapai dengan sendirinya tampa adanya dukungan semua pihak. Maju terus PGRI, semoga ditahun baru ini semangat untuk lebih baik lagi merasuk kesemua stakeholder yang peduli dengan PGRI. Karenanya tulisan ini semoga dapat membangkitkan semangat membangun dan menjadkan PGRI terdepan sebagai organisasi yang benar-benar peduli dan konsent terhadap guru dan masa depan guru.

Tri Hayat Ariwibowo, S.Pd
Guru di SMKN 3 dan SMAN 3 Banjarbaru
Tinggal di Banjarbaru
aryasadewa@yahoo.com

Saya tri hayat ariwibowo setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah