Artikel:
KHUTBAH DI TATAR SUNDA


Judul: KHUTBAH DI TATAR SUNDA
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian BAHASA / LANGUAGES.
Nama & E-mail (Penulis): DEDE KOSASIH
Saya Dosen di FPBS UPI Bandung
Topik: KHUTBAH BERBAHASA SUNDA
Tanggal: 7 Juni 2005

Khutbah di Tatar Sunda
Oleh DEDE KOSASIH

DALAM majalah Cupumanik (No. 22, Mei 2005) Ajip Rosidi mengingatkan para khatib. Menurutnya, dengan tidak menggunakan bahasa Sunda dalam khutbahnya di Tatar Sunda, secara tidak langsung para khatib dan dai punya andil besar dalam "membunuh" bahasa Sunda.

Para khatib dan dai (orang Sunda) termasuk pengurus masjid sepertinya noyod atau jorjoran memenuhi dalih bahwa tidak semua jemaah mengerti bahasa Sunda. Atau mungkin tidak ingin dicap sebagai khatib atau dai yang primordialisme, kedaerahan, atau sebutan lainnya yang intinya tidak memiliki rasa nasionalisme. Apakah untuk memperlihatkan rasa kebangsaan harus menanggalkan bahasa Sunda? Masih papar Ajip, untuk menunjukkan rasa kebangsaan tidak selamanya harus berbahasa Indonesia. Surat kabar berbahasa Sunda "Sipatahoenan" pada waktu sebelum perang pun digolongkan sebagai surat kabar nasional sebab isinya memperlihatkan rasa kebangsaan. Terangnya, untuk jadi orang Indonesia tidak perlu berhenti jadi orang Sunda, kilah Ajip.

Setiap hari orang Sunda dan bahasanya dikepung dan dicekoki oleh tayangan (termasuk dakwah) maupun suguhan berita berbahasa Indonesia. Makin maraknya media cetak dan elektronik secara sangat gamblang membuktikan kecenderungan yang akan memojokkan posisi bahasa Sunda. Hal ini jelas sangat merugikan eksistensi bahasa Sunda.

Di masjid-masjid yang ada di Bandung, sudah jarang kita dengar khutbah berbahasa Sunda. Sangat aneh, memang, bila sikap ulama dan khatib di masjid yang ada di lingkungan Tatar Sunda lebih cenderung tidak menggunakan bahasa Sunda dalam khutbah Jumatnya. Tentu saja masih ada khatib yang masih menggunakan bahasa Sunda dalam khutbahnya, tapi sayang hanya sebatas di daerah pinggiran, seperti Parongpong, Gunung Halu, dan sebagainya. Padahal bila khutbah di Tatar Sunda disampaikan dengan bahasa Sunda, sangat mungkin akan lebih meresap dan menyentuh relung hati yang paling dalam.

Agama tidak semata-mata urusan akal (logika), melainkan juga menembus wilayah rasa (emosi) manusia. Karena itu, akan lain gregetnya bila disampaikan dengan bahasa ibu. Benar, bahasa ibu itu penting. Nyatanya, bahasa ibu sangat dihormati dan diakui oleh UNESCO, badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan. Penghormatan itu ditandai dengan diperingatinya mother tongue day setiap bulan Februari.

Kenyataan bahwa bahasa ibu akan lebih meresap ke dalam batin orang banyak, sangat disadari oleh para pendeta atau pastor. Banyak di antara mereka yang mempelajari bahasa ibu untuk kepentingan kebaktian dan misa. Bahkan, ada beberapa gereja yang menyelenggarakan kegiatan berbahasa dan kesenian daerah.

Kenyataan ini memang sangat kontras. Golongan mayoritas tampak cenderung mengabaikan bahasa Sunda, sebaliknya golongan minoritas justru sering menggunakannya. Janganlah heran bila suatu saat kelak banyak gereja atau kelenteng di Jawa Barat yang justru aktif menggunakan bahasa Sunda dalam seluruh kegiatan ibadahnya.

AJIP Rosidi pernah memprediksi kemungkinan hilangnya bahasa Sunda dari muka bumi ini (Cupumanik No. 11, Juni 2004, hal. 23). Katanya, "Menurut hasil penelitian dan perhitungan para ahli, saat ini di dunia ada kl. 6.000 bahasa. Pada akhir abad ini, akan tersisa kl. setengahnya. Jadi, akan ada 3.000 bahasa yang mati pada akhir abad ke-21. Diperkirakan sekira 30 bahasa yang mati dalam setahun. Artinya, dua setengah bahasa dalam sebulan akan mati. Kira-kira setiap 10 hari, ada satu bahasa yang hilang dari dunia. Dan Bahasa Sunda pun ada dalam antrean menuju liang lahat, sebab orang Sunda enggan menggunakan bahasa Sunda."

Pernyataan Ajip lebih menyerupai ungkapan kekhawatiran yang justru bisa dihindari, jika segera ada usaha untuk mengantisipasinya. Sebagai contoh kasus, pernah terjadi pada bahasa Hawai, bahasa Hebro, dan bahasa Karaja. Gejalanya mirip dengan bahasa Sunda, tapi bisa terselamatkan malah ditetapkan sebagai bahasa resmi selain bahasa Inggris. Kenyataan ini tidak terlepas dari adanya antisipasi berupa langkah nyata para pembuat kebijakan serta kesadaran masyarakat penutur bahasa itu.

Karena itu, untuk menyikapi fenomena yang berkembang saat ini, sangat dibutuhkan political will yang kuat, dimulai dari lembaga seperti MUI hingga pengurus masjid (DKM). Misalnya saja dengan mewajibkan atau menginstruksikan materi khutbah (Jumat) dan dakwah di setiap masjid agar disampaikan dengan bahasa Sunda, minimal dua kali sebulan. Alangkah terpuji dan elegannya bila ada keteladanan dari Pusdai, Masjid Raya Bandung. Bahkan tokoh-tokoh seperti K.H. Miftah Faridl, Aa Gym, dan lain-lain (sebagai orang Sunda) memulai komitmennya dengan melirik dan menggunakan bahasa Sunda dalam menyampaikan risalahnya (khusus di Tatar Sunda dan Banten). Bila komitmen ini dilaksanakan secara konsisten, maka hal tersebut dapat dijadikan baro-meter bagi masjid-masjid lain. Juga para khatib dan dai untuk mengikuti jejak langkah tokoh-tokoh di atas.

Melihat kenyataan semakin langkanya khutbah berbahasa Sunda, saya jadi teringat dan merindukan dai atau khatib sekaliber K.H. Drs. Abdul Gozali, S.H. (alm) atau Kiai Gozali (Semoga beliau ada dalam magfirah Allah dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, amin). Bagi umat Islam di Jawa Barat, beliau adalah sosok mubalig yang sangat dirasakan manfaat risalahnya melalui bahasa Sunda. Beliau sangat piawai memanfaatkan psikologi massa dalam dakwahnya. Dengan bahasa Sundanya yang khas, beliau telah diterima oleh semua golongan. Tidak heran, dari kekhasannya itu lahir suatu jargon melegenda seperti yang sering diungkapkan oleh Si Cepot. Karunya..., nya!.

Selama puluhan tahun berkecimpung menyebarkan risalahnya, Kiai Gozali tidak henti-hentinya menggunakan bahasa Sunda. Beliau sering menyebut bahasa Sunda dengan bahasa "pedesaan". Malah mengaku bangga dirinya disebut "ulama pedesaan". Ulama yang setiap gerak-gerik langkah serta ucapannya dimengerti dan dipahami oleh masyarakat perdesaan. Bahasanya tidak muluk-muluk, tidak untuk gagah-gagahan supaya memberi kesan hebat. Gaya bahasa Kiai Gozali sangat plastis dan realistis. Beliau tampaknya sangat konsisten dan menyadari bahwa objek dakwah di Jawa Barat lebih didominasi orang-orang yang mengerti dan memahami bahasa Sunda.

Tetapi bukan berarti hanya masyarakat pedesaan yang tertarik oleh dakwah Kiai Gozali. Masyarakat kota pun (seperti Bandung) begitu menggandrunginya. Menurut Usep Romli dalam tulisannya "Pa Gozali, Artis jeung Basa Sunda" (Mangle no. 1812), bukti gandrungnya urang Bandung kepada Kiai Gozali bisa dilihat dari antusiasmenya dalam kegiatan majelis taklim yang diadakan di masjid depan rumahnya, kompleks elite Rajawali. Masjid besar dan megah itu selalu dijubeli para jamaahnya yang luber sampai halaman masjid. Bahkan jalan di sekitarnya pun menjadi macet karena dipakai untuk menggelar tikar. Pada saat itu, sebulan sekali, kompleks rumah Kiai Gozali yang mayoritas dihuni etnis Cina, penuh sesak oleh orang yang ber-tolabul ilmi.

Namun sangat disayangkan, ungkap Usep, fungsi dan kegunaan bahasa Sunda dalam menyampaikan risalah Kiai Gozali belum ada (mungkin tidak tertarik?) yang meneliti secara ilmiah dalam bentuk skripsi, umpamanya. Padahal dalam musim krisis aplikasi terhadap bahasa Sunda (banyak inohong kasundaan dalam kesehariannya baik di rumah maupun campur gaul tidak biasa menggunakan bahasa Sunda), pengaruh bahasa Sunda Kiai Gozali barangkali bisa dijadikan ukuran. Apakah benar masyarakat Sunda sudah tidak mampu atau teu bareukieun deui menerima penerangan dalam bahasa Sunda? Sehingga dalam acara-acara yang dihadiri oleh mayoritas orang Sunda harus menggunakan bahasa lain?

Atau jangan-jangan rendahnya atau tiadanya kemauan para khatib dan dai menyampaikan risalah dengan media bahasa Sunda, lantaran khawatir sepi pesanan. Dengan menyampaikan risalah menggunakan bahasa Sunda mereka merasa seolah-olah dibatasi ruang geraknya. Jangkauannya sebatas lingkup perdesaan yang notabene lebih lokal dan tidak metropolis seperti kiprah Aa Gym.

Menumbuhkan kebanggaan (kareueus) untuk senantiasa menggunakan bahasa Sunda dalam setiap helaan napas orang-orang Sunda memang bukan perkara gampang. Namun, bila ada kemauan yang keras pasti ada jalan. Bahasa Sunda tidak akan punah selama masih digunakan dalam setiap gerak-gerik kehidupan. Termasuk oleh para khatib dan dai dalam menyampaikan risalahnya.***

Penulis, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah (Sunda) FPBS UPI.

Saya DEDE KOSASIH setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah



Print Halaman Ini