Artikel:
Bahasa Sunda Menanti Ajal


Judul: Bahasa Sunda Menanti Ajal
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian BAHASA / LANGUAGES.
Nama & E-mail (Penulis): Iyos ana Rosmana
Saya Dosen di UPI Bandung
Topik: Kondisi Bahasa Sunda
Tanggal: 6 Agustus 2005

Bahasa Sunda Menanti Ajal?
Oleh IYOS A. ROSMANA

MEMBACA tulisan Sdr. Dede Kosasih (DK) dalam "PR" Jumat 20 Mei 2005, hati saya trenyuh karena bahasa ibu kita (bahasa Sunda) sedang mengalami suatu fase pergeseran menuju masa kematian (language death). Kematian suatu bahasa adalah sesuatu yang biasa. Bahasa Sankkerta pun yang pernah mengalami jaya-jayanya pada masanya kini hanyalah sebuah kenangan. Akan tetapi, apabila kematian sebuah bahasa itu terjadi tengah-tengah penuturnya yang berjumlah puluhan juta, hal itu merupakan hal yang luar biasa.

Contoh kecil yang DK kemukakan dalam tulisan tersebut memang terjadi di masyarakat Sunda. Salah satu butir item penelitian penulis tentang sikap terhadap bahasa Sunda yang berbunyi "saya menginginkan agar khotbah Jumat di Masjid Agung Bandung minimal sebulan sekali menggunakan bahasa Sunda" ternyata tereliminasi oleh jawaban para responden kita yang notabene orang-orang Sunda. Dari kasus ini dapat ditafsirkan bahwa memang masyarakat kita tidak memedulikan apakah khotbah itu disampaikan dalam bahasa Sunda atau dengan bahasa yang lain (bahasa Indonesia).

Dewasa ini, eksistensi bahasa Sunda dipertaruhkan. Pergulatan semacan ini dikenal dengan nama pemertahanan bahasa. Bahasa Sunda dikatakan punya pemertahanan jika bahasa Sunda bisa dipakai berdampingan dengan bahasa yang lain dan punya daya tahan dalam mempertahankan eksistensinya walaupun disaingi oleh bahasa lain. Jadi, bila bahasa Sunda dikepung dari berbagai mazhab oleh bahasa Inonesia dan bahasa asing ternyata masih dipergunakan oleh masyarakatnya, maka sakaratul maut bahasa Sunda masih bisa dipertahankan.

Celakanya, jumlah puluhan juta masyarakat Sunda itu tidak menjamin eksistensi bahasa Sunda. Sebagai rujukan, hasil penelitian Michael G. Clyne di Australia (The German-Australian Speech Community: Etnic Core Values and Language Maintenance, 1988: 68) menunjukkan bahwa pemertahanan suatu bahasa tidak bergantung kepada populasi etnisnya. Artinya, jumlah kelompok masyarakat yang sangat besar di wilayah suatu kota atau negara tertentu tidak menjamin tingginya tingkat pemertahanan bahasa yang dimiliki masyarakat tersebut. Dengan kata lain, jumlah masyarakat pengguna bahasa Sunda yang relatif besar di Tatar Sunda bukan merupakan indikator tingginya tingkat pemertahanan bahasa Sunda. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan Ajip Rosidi dalam tulisannya di Cupumanik dan Pikiran Rakyat.

Hasil penelitian saya tentang pemertahanan bahasa Sunda para mahasiswa Jurusan Pendidikan bahasa Sunda menunjukkan bahwa di lingkungan yang homogen menggunakan bahasa Sunda, para mahasiswa menggunakan bahasa Sunda. Akan tetapi, di lingkungan orang yang satu saja penuturnya tidak berbahasa Sunda, para mahasiswa beralih kode ke bahasa Indonesia. Peralihan kode bahasa ini terjadi karena orang Sunda sangat toleran terhadap orang lain.

Memang, penggunaan suatu bahasa pada suatu daerah dan situasi tertentu merupakan hak pilihan para penuturnya. Namun perlu diingat pilihan ini dapat mengakibatkan penghilangan suatu bahasa secara keseluruhan atau penghilangan suatu bahasa pada kalangan tertentu saja (Sharon Clampitt-Dunlap, Nationalism, Native Language Maintenance and the Spread of English: A Comparative Study of the Cases of Guam, the Philippines and Puerto Rico. http://ponce.inter.edu/vl/tesis/sharon/iss.html. 1995: 8). Akan tetapi, relakah kita jika bahasa Sunda akhirnya mati begitu saja? Jawabannya bergantung kepada para masyarakat tuturnya.

Lalu, faktor apakah yang menjadikan suatu bahasa bisa dipertahankan. Holmes dalam Language Maintenance and Shift in Three New Zealand Speech Community (Applied Linguistics, Vol. 14 No. 1, 1993: 14) menunjuk tiga faktor utama yang berhubungan dengan keberhasilan pemertahanan bahasa. Pertama, jumlah orang yang mengakui bahasa tersebut adalah bahasa ibu mereka. Kedua, jumlah media yang mendukung bahasa tersebut dalam masyarakat (sekolah, publikasi, radio, dan lain-lain. Ketiga, indeks yang berhubungan dengan jumlah orang yang mengakui dengan perbandingan total dari media-media pendukung. Jadi, sebetulnya faktor pengakuan serta pemakaian bahasa Sunda oleh masyarakat tuturnya (termasuk media cetak dan elektroniklah yang paling menjamin hirup huripna bahasa Sunda.

Bila para penuturnya masih menginginkan eksistensi agar bahasa Sunda tetap digunakan dalam berbagai aspek kehidupan perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut ini.

Pertama, bahasa Sunda harus tetap dijadikan mata pelajaran di sekolah-sekolah di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten. Jika pada saat ini bahasa Sunda hanya diajarkan dari tingkatan sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat pertama, untuk masa yang akan datang bahasa Sunda harus diajarkan sampai tingkatan sekolah lanjutan tingkat atas seperti yang diusulkan oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung, bahkan jika memungkinkan sampai tingkat perguruan tinggi. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa bahasa Sunda kurang begitu diminati dan dipergunakan para siswa karena kedudukannya sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib di Jawa Barat. Hal lain yang menyebabkan bahasa Sunda kurang dihargai karena daftar nilai bahasa Sunda tidak terdapat dalam Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah. Untuk itu, mata pelajaran bahasa Sunda harus tercantum dalam Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah, tidak terpisah dalam sebuah lembaran.

Selain itu, pengajaran bahasa Sunda harus dilakukan dengan menyeluruh (terintegrasi), bukan merupakan pengajaran yang parsial. Pengajaran bahasa Sunda jangan membebani siswa dengan berbagai materi pengajaran yang tidak lagi komunikatif. Pengajaran bahasa Sunda harus menarik minat siswa agar siswa lebih tertarik dengan bahasa Sunda. Beberapa caranya ialah dengan menggunakan metode bermain peran, bernyanyi, dan berlatih menulis atau bercerita tentang hal-hal yang menarik hatinya. Faktor lain yang perlu diperhatikan ialah kriteria penilaian terhadap siswa yang non-Sunda. Kriteria penilaian untuk siswa seperti ini tidak boleh sama disamakan dengan siswa Sunda.

Kedua, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan seluruh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Jawa Barat harus menghidupkan lagi kegiatan menggunakan bahasa Sunda satu hari dalam seminggu di instansi-instansi resmi pemerintahan. Dengan kegiatan ini, secara praktis bahasa Sunda dipergunakan oleh seluruh pegawai kantoran, guru, dan murid di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ketiga, mengimplikasikan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa Barat. Dengan adanya peraturan daerah ini diharapkan bahasa, sastra, dan aksara Sunda mendapat perlakuan yang setara dengan bahasa dan sastra nasional bahkan bahasa asing. Perda Nomor 5 Tahun 2003 antara lain menetapkan bahasa daerah (bahasa Sunda, bahasa Cirebon, dan bahasa Melayu-Bekasi) menjadi bahasa resmi kedua di samping bahasa Indonesia yang menjadi bahasa resmi pertama. Sayangnya, Perda Nomor 5 Tahun 2003 tersebut masih tidak mencantumkan sanksi bagi pihak-pihak yang tidak melaksanakannya. Mungkin hal ini disebabkan sampai saat ini Undang-Undang Kebahasaan yang menjadi rujukannya masih belum tersusun.

Keempat, hal yang sangat penting ialah harus terwujudnya pewarisan budaya Sunda secara informal di keluarga-keluarga Sunda, secara nonformal pada kegiatan-kegiatan lembaga sosial masyarakat, dan secara formal di sekolah-sekolah. Hal ini perlu dilakukan karena pemertahanan bahasa dibentuk pula oleh sikap terhadap bahasa Sunda. Sikap dibentuk dengan waktu yang lama. Oleh sebab itu, orang tua Sunda harus melaksanakan pola asuh yang mendorong sikap positif anaknya terhadap budaya (bahasa) Sunda semenjak kecil. Acara yang dilakukan Caraka Sundanologi di antaranya ialah acara sisindiran di TVRI Jabar dan Banten merupakan salah satu contoh menumbuhkan sikap yang positif bagi budaya (bahasa) Sunda. Syukurlah sekarang telah muncul TV Bandung dan STV Bandung yang selalu menampilkan kegiatan kesundaan, sehingga masyarakat tutur kita bisa menikmati acara-acara kesundaan dari layar kaca setiap hari.

Langkah-langkah di atas mudah-mudahan dapat mengantisipasi prediksi bahwa bahasa Sunda akan punah. Bahasa Sunda menanti kasih sayang dari para penuturnya dengan cara dipergunakan pada berbagai kesempatan berbahasa. Bahasa Sunda akan tetap eksis bila masyarakat tuturnya memerlukannya. Akan tetapi, bahasa Sunda bakal ilang jika tidak lagi dipakai para penuturnya. Cag!***

Penulis, pengajar pada Jurusan Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI, menyelesaikan S-3 bidang Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta dengan disertasi berjudul "Kemampuan Menggunakan Undak Usuk Bahasa Sunda".

Saya Iyos ana Rosmana setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah



Print Halaman Ini