Judul: Pilkada: Gombalisasi VS Glokalisasi
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian IPS / SOCIAL SCIENCE.
Nama & E-mail (Penulis): Hugo Warami
Saya Masyarakat di Denpasar
Topik: Pemilihan Kepala Daerah
Tanggal: 20 September 2005
PILKADA: Gombalisasi VS Glokalisasi
Oleh: Hugo Warami
(warami_hg@yahoo.com)
Sejak Inspektur Pertandingan di Jakarta (DEPDAGRI) memerintahkan hakim garis (KPUD) untuk meniup peluit, pertanda kompetisi PILKADA 2005 bergulir, muncul fenomena baru yang terjadi dan turut menghiasi lembaran pesta demokrasi. Bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia, Gombalisasi bukanlah sebuah lagu baru, tetapi Glokalisasilah yang merupakan stok lama dalam kemasan baru.
Gombalisasi sendiri merupakan sebuah proses transformasi atau proses alih-fungsi yang mengubah struktur dan hubungan sosial di masyarakat dari sesuatu yang stabil, baik dan memuaskan semua masyarakat menjadi sesuatu yang memuaskan hanya sebagian kecil masyarakat dan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak. Gombalisasi ini bukan hal baru, sudah lama sekali adanya sejak jaman Adam, bahkan sampai diplesetkan di era kebebasan mengemukakan pendapat ini dalam bentuk lagu seperti: "Nenek moyangku orang penggombal, Gemar menggombal luas samudra, Menerjang fakta tambah menggombal, Menempuh gombal sudah biasa". Mungkin juga, lagu ini layak untuk dikedepankan di dalam pesta demokrasi ini, bahwa hingga di jaman reformasi ini pun, proses gombalisasi meraja lelah. Lagu ini pun menjadi santer di kalangan anak-anak jalan yang tak berbusana, walaupun mereka tak pernah belajar dan mengerti proses gombalisasi demokrasi yang di aspirasikan kaum elit berdasi.
Di mana-mana proses gombalisasi ini terasa sangat aneh, apalagi pahit kalau dicicipi, sampai-sampai para ilmuwan pun kelabakan untuk mencoba menjelaskan proses gombalisasi ini. Masalahnya adalah dengan gombalisasi, semua yang sederhana bisa dijadikan rumit dan yang rumit bisa dijadikan sederhana sehingga pada akhirnya siapapun yang mencoba menjelaskannya akan menjadi meter alias teler, bahkan lebih teler dibandingkan meneguk seratus gelas es teler. Pokoknya proses ini sangat sulit dimengerti dan terus berusaha menelerkan siapa pun yang akan menjelaskannya.
Dari fenomena ini, diprediksikan bahwa formula yang menjelaskan pengubahan massa menjadi energi kapasitas politik dalam pesta demokrasi 2005 adalah akan muncul sejumlah pendukung kontestan PILKADA yang bergentayangan dengan modus gombalnya, ada sejumlah fakta rill yang membenarkan diri kontestan dari modus gombalnya, tetapi juga dan sejumlah fakta rill yang mengugurkan modus gombalnya, serta gaung gombalnya yang tak tertandingi oleh para kontestan PILKADA lainnya. Semakin besar gaung gombal yang membahana dalam ajang kampanye PILKADA 2005, semakin besar kapasitas politik yang dihasilkan, tetapi perlu diingat juga semakin banyak enegi yang dikeluarkan melebihi kemampuan para kontestan.
Berkaitan dengan hal tersebut, masyarakat saat ini sedang disibukkan dengan isu globalisasi yang di era reformasi, khususnya limit waktu pesta demokrasi 2005, banyak kontestan PILKADA mulai menggunakannya dengan mengumbar janji dan program yang akan menglobal pada dunia ketiga "puncak keemasan" ketika keluar sebagai pemegang medali kemenangan. Dengan umbaran janji program yang menglobal dalam prespektif lokal, akan terjadi sebuah proses sosial yang berakibat runtuhnya batas-batas sosial-budaya yang terjelma dalam kebawahsadaran tiap masyarakat. Memang diakui bahwa globalisasi itu mengharuskan adanya penemuan baru peta-peta kehidupan lokal agar sedini mungkin masyarakat dapat memahami apa yang terjadi di dalam masyarakat dan dunia modern.
Namun, unsur hegemoni kekuasaan yang terjadi dalam tahapan politik di era demokrasi ini adalah menaikkan sebuah tataran atau level dari lokal menjadi global. Dalam pandangan ini, dibingkai sebuah pemahaman bahwa hegemoni kekuasaan yang sentimen nasional akan duduk berdampingan dengan kekuasaan yang merupakan proses belajar dari tataran lokal. Global dan lokal dalam tahapan ini akan saling membangun dan saling mengisi, yakni bahwa dalam banyak hal dapat dipandang sebagai lokal dan dapat disepadankan dengan global.
Untuk, itu proses gombalisasi di masa tahapan kampanye ini layak disepadankan dan dikontraskan dengan glokalisasi. Di mana glokalisasi merupakan sebuah fenomena sosial yang dihadirkan untuk mengekspresikan ungkapan kedirian, pikiran, hati nurani, impian dan lain sebagainya secara global serta bertindak secara lokal atau lokalisasi global, yakni membangun permadani masyarakat yang majemuk secara global dengan mencirikan kearifan-kearifan lokal.
Masa kampanye PILKADA 2005, merupakan tahapan yang tepat dimana para kontestan merekayasa segala macam buram janji dan program dalam watak serta pikiran masyarakat. Dalam tahapan inilah terjadi proses "Gombalisasi" dan proses "Glokalisasi". Kedua proses ini diyakini bahwa akan menerawan masuk dalam tahapan kampaye PILKADA untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Saya Hugo Warami setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|