Artikel:
Keikutsertaan Warga Belajar Pada Program Kejar Paket C (Studi Kasus di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya di Kota Palangka Raya).


Judul: Keikutsertaan Warga Belajar Pada Program Kejar Paket C (Studi Kasus di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya di Kota Palangka Raya).
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Hendrowanto Nibel, S.Pd, M.Pd
Saya Mahasiswa di Universitas Negeri Malang
Topik: Program Kejar Paket C
Tanggal: 21-10-2007

Keikutsertaan Warga Belajar Pada Program Kejar Paket C (Studi Kasus di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya di Kota Palangka Raya).

Oleh: HENDROWANTO NIBEL

ABSTRAK: Fenomena perbedaaan perkembangan program kejar paket C diantara kedua SKB di Kota Palangka Raya dimana PKBM Kejar Mendawai berkembang pesat dan PKBM Tilung Raya kurang berkembang. Yang dipersoalkan dalam penelitian ini adalah mengapa jumlah warga belajar program kejar paket C setara SMA di PKBM Kejar Mendawai selalu jauh lebih banyak dibanding dengan jumlah warga belajar pada program kejar paket C setara SMA di PKBM Tilung Raya. Adakah hal yang mempengaruhi warga belajar di kedua PKBM tersebut berkenaan dengan penyelenggaraan kelembagaan dan pembelajaran sehingga respons keikutsertaan mereka menjadi betul-betul berbeda.

Penelitian ini bertujuan :
(1) mengetahui gambaran tentang penyelenggaraan Program Kejar Paket C di PKBM Mendawai dan PKBM Tilung Raya,
(2) mengetahui alasan keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai, dan
(3) mengetahui alasan keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Peneliti akan menalaah sebuah kasus yang dilakukan secara intensif, mendalam, dan komprehensif, terhadap terjadinya sebuah fenomena. Informan utama dalam penelitian ini adalah warga belajar, tutor PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya dan tokoh masyarakat serta instansi Dinas Pendidikan Palangka Raya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik :
(1) wawancara tidak terstruktur,
(2) observasi,
(3) dokumentasi.

Data dianalisis menggunakan 3 tahap yakni :

(1) reduksi data,
(2) penyajian data,
(3) menarik kesimpulan atau verifikasi.

Temuan penelitian adalah :

(1) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai sangat tinggi karena lokasi sangat mendukung, pengelolaan sesuai petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggaraan PLS, tutor miliki ijasah S1 dan D-II sesuai bidang, sarana administrasi sudah memadai, lulusanya terbukti bekerja di instansi pemerintah dan swasta. Segi pembelajaran warga belajar dilatar belakangi ijazah dan putus sekolah dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah asal, tutor dan pengelola selalu memberikan saran kepada warga belajar, proses belajar tanpa dipaksa, tujuan belajar tidak hanya sekedar lulus saja, tetapi ilmu yang mereka peroleh dapat digunakan, pola pembelajaran orang dewasa, hubungan harmonis antara tutor dengan warga belajar, evaluasi daya serap warga belajar baik. Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan sudah sangat baik sehingga dapat menunjang proses pembelajaran yang baik pula yang akan diserap oleh warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai.

(2) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya sangat rendah karena pengelolaan tidak sesuai Visi dan Misi, tutor tidak sesuai profesinya, penyelenggaraan belum optimal, tidak pernah mengikuti pelatihan tutor, tidak ada pengawasan terhadap PKBM Tilung Raya, lokasinya jauh dari pemukiman penduduk, hubungan renggang tutor dan pihak pengelola serta warga belajar, warga belajar tidak mengenal tutornya sendiri, jarak rumah tutor jauh dari lokasi PKBM, tutor terpaku modul kejar paket C, hampir separuh warga belajar tidak bisa menjawab materi, pengaruh kehadiran warga belajar mengurangi motivasi tutor untuk hadir, tutor sering marah-marah dengan warga belajar, peraturan yang mengikat warga belajar. Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan belum optimal sehingga tidak dapat menunjang proses pembelajaran yang baik terhadap warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Tilung Raya.

Kata Kunci: Kejar Paket C, PKBM, Pendidikan Luar Sekolah.

Keikutsertaan adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan atau partisipasi (Putri, 2002: 308). Djohani (2003: 77) partisipasi adalah sebuah proses bertahap, tetapi tidak boleh dan tidak dapat dimulai dengan cara dan proses yang tidak partisipatif. Menurut Sudjana (2000: 172-174), partisipasi warga belajar terhadap kegiatan proses pembelajaran juga dipengaruhi oleh strategi pembelajaran. Pembelajaran partispatif merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang dapat digunakan dan dikembangkan di dalam program pendidikan luar sekolah. Suatu program pendidikan luar sekolah yang menggunakan strategi pembelajaran partisipatif mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Berdasarkan kebutuhan belajar (learning needs based) yakni kebutuhan belajar adalah setiap keinginan atau kehendak yang dirasakan dan dinyatakan oleh seseorang, masyarakat, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, nilai dan/atau sikap tertentu melalui kegiatan pembelajaran. Sumber informasi tentang kebutuhan belajar adalah peserta didik atau calon peserta didik, masyarakat dan/atau organisasi. Penting kebutuhan belajar didasarkan atas asumsi bahwa peserta didik akan belajar secara efektif apabila semua komponen program pembelajaran dapat membantu peserta didik untuk memenuhi kebutuhan belajarnya.

2. berorientasi pada tujuan kegiatan pembelajaran (learning goals and objectives oriented) yakni kegiatan pembelajaran partisipatif direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam perencanaan, tujuan belajar disusun dan dirumuskan berdasarkan kebutuhan belajar. Tujuan belajar itupun dengan mempertimbangkan latarbelakang pengalaman peserta didik, potensi yang dimilikinya, sumber-sumber yang tersedia pada lingkungan kehidupan mereka, serta kemungkinan hambatan dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu kebutuhan belajar, potensi dan sumber-sumber serta kemungkinan hambatan, perlu diidentifikasi terlebih dahulu supaya tujuan belajar bisa dirumuskan secara tepat dan proses kegiatan pembelajaran partisipatif dapat dirancang dan dilaksanakan dengan efektif.

3. Berpusat pada peserta didik (participant centered) yakni kegiatan pembelajaran yang dilakukan berdasarkan atas dan disesuaikan dengan latarbelakang kehidupan peserta didik. Latarbelakang kehidupan tersebut perlu menjadi perhatian utama dan dijadikan dasar dalam penyusunan rencana kegiatan pembelajaran partisipatif. Peserta didik diikutsertakan pula dalam kegiatan identifikasi kebutuhan belajar, sumber-sumber dan kemungkinan hambatan serta dalam kegiatan merumuskan tujuan belajar. Para peserta didik diikutsertakan dan memegang peranan penting dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan belajar. Dengan berpusat pada peserta didik, mengandung makna bahwa peserta didik lebih banyak berperan dalam proses kegiatan pembelajaran partisipatif.

4. berangkat dari pengalaman belajar (experiential learning) Kegiatan pembelajaran disusun dan dilaksanakan dengan berangkat dari hal-hal yang telah dikuasai peserta didik atau dari pengalaman di dalam melaksanaan tugas dan pekerjaan serta dengan cara-cara belajar (learning styles) yang bisa dilakukan peserta didik. Untuk itu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pemecahan masalah karena pemecahan masalah merupakan pembelajaran yang lebih banyak menumbuhkan partisipasi para peserta didik.

Sehubungan dengan hal itu, sistem pembelajaran partisipatif diupayakan dapat mewujudkan proses pembelajaran yang dibangun atas beberapa komponen sebagai berikut:

(1) warga belajar diperankan sebagai subyek, bukan obyek,
(2) pembelajaran atau instruktur
berfungsi sebagai fasilitator dan mitra belajar dengan warga belajar, bukan pengawas dan instruktor,
(3) materi pembelajaran disusun bersama antara pembelajar dengan warga belajar,
(4) metode pembelajaran berpusat pada cara belajar melalui pengalaman,
(5) evaluasi pembelajaran menitik beratkan pada penilaian proses belajar dan penilaian diri, bukan sekedar hasil belajar,
(6) media pembelajaran disesuaikan pada karakteristik materi, lingkungan dan kondisi warga belajar, dan
(7) jadwal pembelajaran disusun secara fleksibel.

Lebih lanjut Marzuki, S. (1992) memberikan identifikasi bahwa pembelajaran partisipatif memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

(1) melibatkan warga belajar dalam menentukan, merevisi serta mengidentifikasi tujuan,
(2) tutor membantu warga belajar dalam kegiatan dan membantu mengatur kegiatan tersebut,
(3) melibatkan warga belajar dalam mengambil keputusan, mengembangkan ide-ide dan pemikiran, menyumbangkan saran dan menerima kritik dari warga belajar,
(4) mendorong kerja sama antara warga belajar dan menciptakan suasana belajar terbuka, saling mempercayai dan saling memperhatikan satu sama lain, dan
(5) melibatkan warga belajar dalam penilaian. Sebagai metodedan teknik, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam memfasilitasi proses pembelajaran bersama masyarakat.

Menurut Chambers (dalam Djohani, 2003: 67-69) pembalikan proses pembelajaran, belajar secara tepat dan bertahap, mengatasi bias orang luar, mengoptimalkan manfaat pembelajaran, triangulasi dalam pembelajaran, mempertimbangkan kerumitan dan keberagaman, menyerahkan proses pada masyarakat, mengembang proses penyadaran kritis, menentukan agendanya sendiri, saling berbagi. Berdasarkan beberapa definisi, maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi warga belajar dalam mengikuti program kejar paket C dikarenakan proses kegiatan pembelajaran dipengaruhi oleh strategi pembelajaran dengan mempertimbangkan prinsip berdasarkan kebutuhan belajar, berorientasi pada tujuan kegiatan pembelajaran, berpusat pada peserta didik, berangkat dari pengalaman belajar.

Soekamto (1985) mengartikan kelompok sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama oleh adanya hubungan di antara mereka. Rogers (1994: 100) mengingatkan bahwa group lebih dari sekedar kumpulan orang-orang. Maka dari itu kelompok terjadi karena adanya dua orang atau lebih yang lebih berinteraksi, memiliki kesatuan maksud (atau tujuan), dan memiliki sistem nilai, kepercayaan, pengetahuan, dan sentimen atau emosi yang sama. Sedangkan pendapat Jalal (2001:10) mengatakan program ini dirancang untuk memberi pelayanan pendidikan bagi warga masyarakat yang belum memiliki pendidikan setara SMU/SMK.

Kurikulum disusun berdasarkan kurikulum SMU jurusan. Bahan belajar disusun dalam bentuk modul, sehingga memungkinkan warga belajar dapat belajar sendiri. Mata pelajaran muatan lokal diarahkan pada penguasaan keterampilan, agar setelah selesai belajar Paket C memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk mencari nafkah. Lama pendidikan sekurang-kurangnya 3 tahun jika mulai belajar setara kelas I. Apabila mereka telah selesai belajar sampai setara kelas 3, maka untuk uji kualitas diadakan ujian secara nasional. Selanjutnya, perlu diketahui bahwa kebijakan yang ditetapkan dalam pengembangan Program Paket C ini ialah:

(1) lulusan Paket C tidak dipersiapkan untuk memasuki Perguruan Tinggi;
(2) pemerintah tidak menyediakan anggaran khusus, dan hanya memberikan dukungan terhadap pelatihan tutor dan penyediaan modul sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia.
Program kejar paket C adalah program pendidikan pada jalur nonformal yang dituju bagi warga masyarakat yang karena keterbatasan sosial, ekonomi, waktu, kesempatan, dan geografis tidak dapat mengikuti pendidikan di Sekolah Menengah Atas/yang sederajat. Lulusan program kejar paket C berhak mendapat ijazah SMA. (Dirjen PLS, 2004: 10). Maka dari itu menurut Napitupulu (1975: 22) memberikan tiga pengertian terhadap istilah KEJAR.

Yang pertama, arti halafiah, yaitu menutup kekurangan atau mengejar ketinggalan. Kedua, akronim dari kata-kata bekerja dan belajar. Ketiga, akronim dari kelompok belajar. Oleh karena itu Program Kejar adalah program pendidikan luar sekolah yang sifat dan bentuknya mengejar ketinggalan, bekerja sambil belajar atau sebaliknya, dan wadah sebagai kelompok belajar. Secara eksplisit, Johnson dan Johnson (dalam Supriyono, 1999: 77) memberi definisi, "A learning group is a group whose purpose is to ensure that group members learn specific subject matter, informations, knowledges, skill, and procedures". Program paket C berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang setara dengan SMA, dan yang sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan kepada peserta didik yang karena berbagai hal kebutuhannya tidak dapat dipenuhi oleh sekolah, sehingga mendapat akses terhadap pendidikan setara SMA bagi orang dewasa. (Dirjen PLS, 2004: 12).

Maka dari itu, istilah kejar dalam program kejar paket C secara harfiah dapat menunjukkan tujuan program yakni "ingin mengejar ketertinggalan dalam segala bidang kehidupan". Dalam pengertian ini tujuan belajar program kejar paket C adalah untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan pengetahuan, dan keterampilan masyarakat dalam berbagai lapangan kehidupan sehingga diharapkan hasil pendidikan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup para warga masyarakat melalui usaha sendiri.

Metode

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan studi kasus, karena pada tahun 2003 kejar paket C berjumlah 30 orang, tahun 2004 meningkat menjadi 32 orang, kemudian tahun 2005 lebih meningkat 37 orang, tahun 2006 menunjukkan peningkatan 50 orang warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai. Dibandingkan dengan program kejar paket C di PKBM Tilung Raya khusus program kejar paket C tahun 2003 berjumlah 7 orang, tahun 2004 berjumlah 7 orang, pada tahun 2005 mengalami penurunan menjadi 6 orang dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 20 orang. Studi kasus memiliki beberapa keunggulan seperti yang dikemukakan oleh Black dan Champion (1992) yaitu:

(1) bersifat luwes berkaitan dengan pengumpulan data yang digunakan,
(2) menjangkau dimensi yang sesungguhnya dari topik yang diselidiki,
(3) dapat dilaksanakan secara praktis di dalam banyak lingkungan sosial,
(4) menawarkan kesempatan menguji teori dan,
(5) studi kasus bisa sangat murah, tergantung pada jangkauan penyelidikan dan teknik pengumpulan data yang digunakan.

Studi kasus merupakan permasalahan yang muncul tanpa disadari maupun disadari yang benar-benar menarik untuk dipertanyakan dan digali oleh seorang peneliti agar permasalahan itu bisa terungkap. Implementasinya, peneliti yang menggunakan studi kasus pada kelompok belajar di PKBM Kejar Mendawai dan Tilung Raya khusus program kejar paket C. Bentuk ini melukiskan proses penelitian yang berawal dari eksplorasi yang bersifat luas dan mendalam, kemudian berlanjut dengan kegiatan pengumpulan data dan analisis data yang lebih menyempit dan terarah pada suatu topik (Yin, 1996).

Kegiatan pada akhirnya diarahkan untuk mencari jawaban-jawaban secara menyeluruh tentang: Gambaran tentang penyelenggaraan program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya, keikutsertaan warga belajar program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai, keikutsertaan warga belajar program kejar paket C di PKBM Tilung Raya. Lokasi penelitian di PKBM Kejar Mendawai beralamat Jalan Mendawai Komplek Perumbansos nomor 123 Kelurahan Palangka Kecamatan Jekan Raya dan PKBM Tilung Raya. Jalan Tilung 18 Kelurahan Langkai Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya Propinsi Kalimantan Tengah.

Hasil

Dari kegiatan wawancara mendalam dengan informan (1) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai sangat tinggi karena lokasi sangat mendukung, pengelolaan sesuai petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggaraan PLS. Segi pembelajaran warga belajar dilatar belakangi ijazah dan putus sekolah dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah asal, proses belajar tanpa dipaksa, tujuan belajar tidak hanya sekedar lulus saja, tetapi ilmu yang mereka peroleh dapat digunakan, pola pembelajaran orang dewasa, hubungan harmonis antara tutor dengan warga belajar, evaluasi daya serap warga belajar baik.

Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan sudah sangat baik sehingga dapat menunjang proses pembelajaran yang baik pula yang akan diserap oleh warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai. (2) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya sangat rendah karena pengelolaan tidak sesuai Visi dan Misi, tutor tidak sesuai profesinya, penyelenggaraan belum optimal, tidak pernah mengikuti pelatihan tutor, tidak ada pengawasan terhadap PKBM Tilung Raya, lokasinya jauh dari pemukiman penduduk, hubungan renggang tutor dan pihak pengelola serta warga belajar, tutor terpaku modul kejar paket C, hampir separuh warga belajar tidak bisa menjawab materi, peraturan yang mengikat warga belajar.

Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan belum optimal sehingga tidak dapat menunjang proses pembelajaran yang baik terhadap warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Tilung Raya.

Pembahasan

Jika diamati program kejar paket C setara SMA di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya ini, sangat membantu warga masyarakat, sebagaimana pendapat Sudjana (2000: 74) mengatakan bahwa, yang pertama: Sebagai pelengkap (complementary education), pendidikan luar sekolah dapat menyajikan berbagai mata pelajaran atau kegiatan belajar yang belum termuat dalam kurikulum pendidikan sekolah sedangkan materi pelajaran atau kegiatan belajar tersebut sangat dibutuhkan oleh anak didik dan masyarakat yang menjadi layanan sekolah tersebut. Kedua: sebagai penambah (suplementary education), pendidikan luar sekolah dapat memberikan kesempatan tambahan pengalaman belajar dalam mata pelajaran yang sama yang ditempuh di sekolah kepada mereka yang masih bersekolah atau mereka yang telah menamatkan jenjang pendidikan sekolah.

Tambahan pengalaman belajar ini dilakukan di tempat yang sama atau di tempat lain dengan waktu yang berbeda. Ketiga, sebagai pengganti (substitute education), pendidikan luar sekolah dapat menggantikan fungsi sekolah di daerah-daerah yang lain, karena berbagai alasan seperti penduduknya belum terjangkau oleh pendidikan sekolah. Program kejar paket C setara SMA termasuk dalam tipe program institusional yakni tumbuh dan berkembangnya kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dan kompetensi individu, terutama mengembangkan disiplin atau bidang pengetahuan dari guru atau lembaga, fokusnya penguasaan konten atau pengetahuan yang disampaikan, terlibat dalam penerapan pengalaman belajar, menyebarkan pengetahuan melalui proses belajar mengajar Boyle. (dalam Sanapiah Faisal. 2002).

Alasannya hubungan yang renggang antara tutor dengan tutor dan pihak pengelola serta warga belajar. Hal ini disebabkan tutor tidak bisa menyesuaikan diri dengan warga belajar yang mayoritas orang dewasa yang memiliki berbagai karakteristik dan pandangan yang berbeda dengan mereka dan pola pikir yang berbeda pula. Rendahnya minat warga belajar untuk mengikuti program kejar paket C bahkan ditandai dengan kenyataan bahwa warga belajar tidak mengenal tutornya sendiri kalaupun kenal nama, tetapi tidak kenal orangnya. Knowles melihat andragogi sebagai cakupan proses pembelajaran dan belajar melebihi daripada hanya belajar atau membelajarkan. Dalam konteks ini Knowles (dalam Syamsu dan Basleman, 1994: 126) menawarkan tujuh prinsip belajar mengajar yang bersifat andragogik, seperti:

(1) menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar,
(2) mengadakan struktur untuk saling merencanakan,
(3) mendiagnosis kebutuhan belajar,
(4) merumuskan arah belajar,
(5) merancang pola pengalaman belajar,
(6) mengelola pelaksanaan pengalaman belajar,
(7) mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajar.

Teori andragogi menurut Knowles (1975) adalah suatu percobaan untuk mengembangkan satu teori yang khas tentang pembelajaran orang dewasa. Knowles menegaskan orang dewasa adalah terarah diri dan bertanggungjawab atas keputusannya. Program pembelajaran orang dewasa seharusnya menampung aspek asas ini. Knowles (1975) menuturkan andragogi membuat andaian-andaian berikut tentang desain pembelajaran:

(1) Orang dewasa perlu mengetahui sebab ia dikehendaki mempelajari sesuatu
(2) Orang dewasa perlu belajar secara eksperimen,
(3) Orang dewasa menganggap pembelajaran sebagai penyelesaian masalah, dan
(4) Pembelajaran orang dewasa paling berkesan jika topik pelajarannya mempunyai nilai segera. Apabila dalam pendekatan pembelajaran tidak menggunakan pendekatan andragogi, maka sulit untuk dapat menggerakkan para warga belajar untuk senantiasa berpartisipasi tinggi dalam proses pembelajaran.

Selanjutnya Srinivasan (1981) mengatakan orang dewasa bisa termotivasi dalam mengikuti suatu program pembelajaran apabila metode dan teknik pembelajaran yang dipergunakan melibatkan warga belajar. Pelibatan tersebut meliputi hal-hal yang berkaitan dengan identifikasi kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, menyusun pengalaman belajar dan menilai kegiatan belajar. Oleh sebab itu, teknik dan metode semacam ini disebutnya sebagai ˇ§teknik perlibatan warga belajarˇ¨ dalam program belajar.

Dari temuan ini dapat diketahui bahwa suatu program pembelajaran bagi orang dewasa tetapi perencanaannya yang kurang mempertimbangkan prinsip pembelajaran bagi orang dewasa akan mengurangi tingkat partisipasi dari khalayak sasarannya. Demikian pula tentang berbagai macam syarat-syarat pendaftaran program kejar paket C dalam proses belajar mengajar dan bagaimana implementasi yang baik di lapangan untuk mendapatkan perhatian, agar dapat menarik warga sasarannya untuk berpartisipasi sepenuhnya. Temuan ini pula sekaligus mendukung model pembelajaran dengan ˇ§teknik pelibatan warga belajarˇ¨ dari Srinivansan (1981).

Kesimpulan

1. Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai dilihat dari segi:

a. Pengelola
f{ Lokasi yang nampak bahwa PKBM Kejar Mendawai sangat mendukung sekali walau ada juga warga belajar yang bertempat tinggal jauh, tetapi mereka sangat antusias sekali untuk masuk dan mengikuti program kejar paket C, dengan alasan jika mereka tidak masuk maka mereka sendiri merasa rugi karena tertinggal mata pelajaran dari teman yang lainnya.

f{ Segi pengelolaan program nampak bahwa persyaratan sudah sesuai dengan persyaratan petunjuk teknis yang digariskan dalam standar pelayanan minimal penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. Syarat seorang untuk menjadi tutor Program Kejar Paket C sekurang-kurangnya miliki ijasah S1 dan D-II sesuai dengan jurusan pendidikan.

f{ Sarana administrasi minimal yang telah dipersiapkan dalam setiap kelompok belajar sudah nampak sekali. Seperti contohnya daftar hadir warga belajar, daftar hadir tutor, buku tamu, buku rencana pembelajaran keaksaraan fungsional, buku penilaian hasil belajar kelompok belajar, jadwal belajar/pertemuan, buku harian/jurnal kegiatan belajar mengajar. Penyelenggaraan program yang optimal dapat menciptakan kondisi yang memenuhi kebutuhan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, spiritual, dan kejiwaan warga belajar, sehingga Ijazah dan lulusanya terbukti dapat bekerja di instansi pemerintah dan swasta.

b. Pembelajaran

f{ Warga belajar menunjukkan semangat yang luar biasa, latar belakang warga belajarnya rata-rata: 1) memiliki ijazah SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau Paket B setara SMP, 2) Putus sekolah (droup out) pada jenjang SMA atau Madrasah Aliyah (MA) yang dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah asal, 3) berusia 15-44 tahun dengan prioritas usia (15-24 tahun).

f{ Tutor dan pengelola selalu memberikan saran-saran dan masukkan kepada warga belajar yang ingin serius mengikuti belajar di PKBM Kejar Mendawai tersebut. Selama mengikuti program belajar di PKBM Kejar Mendawai mereka melihat bahwa proses belajarnya bermutu, baik tanpa dipaksa oleh pihak tutor ataupun pihak lembaga manapun.

f{ Tujuan mereka belajar pada program kejar paket C disebabkan mereka ingin mewujudkan cita-cita tidak hanya sekedar lulus saja, tetapi dapat dipergunakan sebagaimana mestinya ilmu yang mereka peroleh dari PKBM Kejar Mendawai ini. Disamping itu PKBM ini menerapkan pola pembelajaran orang dewasa

f{ Terjalinnya hubungan yang harmonis antara tutor dengan warga belajar sehingga antusias warga belajar dan tutor sangat tinggi sekali dalam belajar untuk saling mengisi pengetahuan, warga belajar menjadi tertarik untuk belajar karena mereka menganggap ilmu dan pengetahuan yang mereka peroleh lebih banyak.

f{ Evaluasi proses dan hasil belajar menjadi bukti untuk mengetahui besarnya daya serap warga belajar terhadap materi yang disampaikan selama proses belajar mengajar.

Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan sudah sangat baik sehingga dapat menunjang menghasilkan pembelajaran yang baik pula yang akan diserap oleh warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai tersebut.

2. Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya dilihat dari segi:

a. Pengelola
f{ Pengelolaan yang tidak sesuai dengan Visi dan Misi yang mereka pegang, serta tenaga pengajar yang tidak sesuai dengan pendidikan/profesi, dan penyelenggaraan masih belum optimal karena jadwal kegiatan rapat tidak pernah ditentukan, tidak pernah mengikuti pelatihan tutor dari Dinas Pendidikan, tidak ada pengawasan terhadap PKBM Tilung Raya dari Dinas pendidikan untuk mengevaluasi pengelolaan program tersebut.

f{ PKBM Tilung Raya lokasinya jauh dari pemukiman penduduk dan tidak ada transportasinya yang mendukung. Hal ini membuat keengganan warga belajar untuk mengikuti program kejar paket C di tempat tersebut. Bahkan ada warga belajar yang mengundurkan diri walau dia sudah mendaftar.

f{ Hubungan yang renggang antara tutor dengan tutor dan pihak pengelola serta warga belajar. Hal ini disebabkan tutor tidak bisa menyesuaikan diri dengan warga belajar yang mayoritas orang dewasa berbagai karakteristik dan pandangan yang berbeda dan pola pikir yang berbeda pula.

f{ Warga belajar program kejar paket C rata-rata menengah ke bawah hal ini dapat mempengaruhi rendahnya tingkat kehadiran mengikuti prgram kejar paket C karena disamping itu mereka bekerja memenuhi kebutuhan keluarga.

b. Pembelajaran
f{ Rendahnya minat warga belajar pada program kejar paket C mengakibatkan warga belajar tidak mengenal tutornya sendiri. Walau kenal nama tetapi tidak mengenal orangnya. Fakta lain jarak rumah tutor yang mengajar sangat jauh dengan lokasi PKBM Tilung Raya.

f{ Tutor terpaku pada modul kejar paket C saja dan tidak ada niat untuk menambah bahan dari SMA baik semester 1, 2, dan 3. Yang mengherankan adalah warga belajar hanya sebagian saja yang membawa buku modul paket C yang telah diberikan oleh tutor. Terbukti pada saat mereka mengerjakan soal latihan hampir separuh dari mereka yang tidak bisa menjawab dan ada yang menjawab tetapi salah, dari sini jelas bahwa kurangnya keikutsertaan warga belajar pada saat proses belajar berlangsung. Ada sebagian warga belajar yang jarang masuk untuk belajar sehingga mempengaruhi motivasi tutor untuk hadir.

f{ Dalam proses belajar tutor sering marah-marah dengan warga belajar. Apa yang diharapkan tutor tidak sesuai dengan keinginan. Peraturan yang mengikat warga belajar untuk harus ditaatinya, misal waktu masuk belajar tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, akan mengganggu proses belajar mengajar, harus berpakaian rapi tidak boleh memakai kaos oblong. Warga belajar sering merasa malu karena tutor selalu memperlakukan mereka dengan cara mengerjakan soal-soal latihan di depan ruangan kelas dan jadwal belajar sudah ditentukan oleh tutor beserta pengelola.

Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan belum optimal sehingga tidak dapat menunjang proses pembelajaran yang baik terhadap warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Tilung Raya.

Saran

Saran yang berguna adalah
1) PKBM Kejar Mendawai sebaiknya membuka cabang yang lokasinya dekat dengan masyarakat, standar pelayanan minimal penyelenggaraan PLS harus dipertahankan, ditingkatkan pengelolaan lebih optimal terutama sarana adminitrasi, rekrutme tutor sesuai profesi, lebih ditingkatkan lagi saran dari tutor bagi warga belajar, tutor harus meningkatkan hubungan yang harmonis dengan pendekatan orang dewasa, sebaiknya tutor saat akhir memberikan materi latihan.
2) PKBM Tilung Raya alangkah baiknya berpedoman pada visi dan misi, sebaiknya satu bulan sekali mengadakan rapat, pengelola sebaiknya menginformasikan kepada tutor untuk mengikuti pelatihan, tempat atau lokasi yang mudah dijangkau, sebaiknya pengelola atau tutor menjalin hubungan yang harmonis, sebaiknya pengelola merektrut tutor sesuai profesi, diperhatikan juga jarak rumah tutor dengan lokasi PKBM, tutor jangan terpaku pada modul paket C, tutor jangan terpengaruh ketidakhadiran warga belajar, jangan mengikat warga belajar dengan peraturan.
3) Sebaiknya Dinas Pendidikan bagian Kasubdin PLS mengadakan evaluasi keberlangsungan PKBM dari segi pengelolaan dan pembelajaran, Dinas Pendidikan bagian Kasubdin PLS harus memberikan peringatan kepada pengelola jika tutornya tidak mengikuti pelatihan tutor.

DAFTAR PUSTAKA

Asnawi, Sahlan. 2002. Teori Motivasi, Dalam Pendekatan Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Studia Press.

Azwar, Saifuddin. 2003. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bakri, Masykuri. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang: Penerbit. Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang.

Black, J.A., dan D.J Champion. 1992. Metode dan Penelitian Sosial. Terjemahan oleh E. Koeswara dkk. Bandung: Eresco.

Bogdan and Biklen. 1982. Qualitative Research For Education An Introduction And Methods. Boston: Allyn and Bacon. Inc.

Boyle, PG. 1981. Plenning Better Program. New York: Mc Graw-Hill Book Company.

BPKB Jawa Timur, 2000. Pola Bimbingan Teknis BPKB Jawa Timur ke SKB Jawa Timur, Bali, NTB: Hasil Lokakarya Pola Bimbingan Teknis. Jornal Ilmu Pendidikan, (Online), (http://www.bpplspreg2.go.id/program/program. php? detail=8&sd=8&d=1. 1993, singaraja, diakses 24 Maret 2007).

BPKB Jawa Barat. 2000. Program-Program Panduan PKBM. Jornal Ilmu Pendidikan, (Online), (http://www.bpplspreg2.go.id/program/program. php?detail=8&sd =8&db=1, diakses 27 Febuari 2006).

Creswell, J.W. 1998. 5 Macam Tradisi Penelitian Kualitatif. Disadur oleh M. Djauzi Mudzakir, Thn 2007. Malang: Belum Diterbitkan.

Danandjaja 1988. Antropologi: Teori, Dongeng, dan Sejarah Perkembangan, Jakarta: Raya.

Dirjen PLSP, 2004. Acuan Kurikulum Pendidikan Kesetaraan Program Kejar Paket A B C. Jakarta: Depdiknas

Dirjen PLS. 2000. Petunjuk Teknis Program Paket C Setara SLTA. Jakarta: Depdiknas.

Dirjen PLS. 2004. Standar Prosedur Operasional (SPO) Penyelenggaraan Ujian Nasional Paket A, Paket B, dan Paket C. Jakarta: Depdiknas

Dirjen PLS, 2006. Standar Kompetensi Keaksaraan Pendidikan Keaksaraan. Jakarta: Depdiknas

Djohani, Rianingsih. 2003. Partisipasi, Pemberdayaan, dan Demokratisasi Komunitas. Bandung: Studio Driya Media.

Djojonegoro, Wardiman. 1995. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia untuk Pembangunan. Jakarta: Depdikbud.

Donal H.B & Dorothy, Mackeracher. 1980. Adult Learning Principles and Their Application to Program Planning. Toronto: The Ontario Institut for Studies in Education.

Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

Faisal, Sanapiah. 2002. Profesi Bidang Studi PLS. PPS-Univ. Negeri Malang: Makalah.

Guritnaningsih, P.L. 2004. Acuan Pandagogi dan Andragogi Pendidikan Kesetaraan Program Paket A B C. Jakarta: Depdikbud.

Hamidjoyo, Santoso. 1957. Pendidikan Masyarakat. 1. Bandung: Ganaco.

Hamalik, Oemar. 1993. Psikologi Manajemen Penentuan Bagi Pemimpin. Bandung: Penerbit Triganda Karya.

Haprima, P.L. 1995. Panduan Untuk Memahami Istilah Psikologi. Cetakan Pertama. Jakarta: PT. Restu Agung.

Hasan. Z. 1995. Pengembangan Program Kejar Paket A dan Program Kejar Paket B Sebagai Program Penyetaraan SD dan SLTP dalam Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar. Malang: Laporan Penelitian tidak diterbitkan. Program Pascasarjana IKIP Malang.

Huberman dan Miles. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.

Huda, Nuril 2003. Pelatihan Bersifat Andragogi Lebih Disukai (Kasus Partisipasi Pengusaha Kecil Pada Pelatihan Yang Diselenggarakan Oleh Dinas Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Propinsi Jawa Timur. Malang: IKIP Malang. Tidak Diterbitkan.

Jalal, Fasli. 2001. Kebijakan Pemerintah di Bidang Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) dan Pelaksanaan Program Tahun 2001 serta RAPBN 2002. Depdiknas. Solo. Jornal Ilmu Pendidikan, (Online), (http://www.plsp. depdiknas.go.id/pengantar.html, diakses 2 Maret 2006).

Knowles, S, Malcolm. 1970. The Modern Practice of Adult Education. New York: Association Press.

Knowles, M. 1975. Self-Directed Learning. Chicago: Follet.

Knowles, S, Malcolm. 1978. The Adult Learning: A Negelected Species. Houston: Golf Publishing, Co.

Knowles, S, Malcolm. 1979. "The Adult Learners : A Neglected Species". Houston Texas : Gulf Publishing Company.

Knowles, M. 1984. The Adult Learner: A Neglected Species (3rd Ed.). Houston, TX: Gulf Publishing.

Knowles. 1999. Andragogi. Jornal Ilmu Pendidikan, (Online), (http://www.pts.com. my/modules.php?name=News&file=article&sid=343, diakses 12 Febuari 2007).

Lincoln. Y.S. and Guba E.G. 1985. Naturalistic Inguiry. Beverly Hills: Sage Publication. Inc.

Lunandi, A, G. 1987. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: Gramedia.

Mantja, W. 2003. Etnografi Desain Penelitian Kualitatif dan Manajemen Pendidikan. Malang: Wineka Media.

Ma'Rifah, Dewi. 2004. Pengaruh Motivasi kerja dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pekerja Sosial Pada Unit Pelaksanaan Teknis Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur. Surabaya. Program Pascasarjana Airlangga. Tesis tidak diterbitkan.

Maslow, A. H. 1966. "Toward A Psychology Please Do Not Use Illegal Software...of being". New Jersey : Van Nostrand.

Maslow, AH. 1970. Motivation and Personality. New York : Harper and Row Publishers.

Marzuki, Saleh. 1992. Strategi dan Model Penelitian, Suatu Pengetahun Dasar Bagi Instruktur dan Pengelola Lembagu Latihan, Kursus dan Penataran. Malang: IKIP

Moleong, Lexy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rodakarya.

Morgan, Barton. Et.al. 1976. Methods in Adult Education. Danville, Illinois : The Interstate Periters & Publishers, Inc.

Mudjiono & Dimiyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Napitupulu, W.P. 1975. Prinsip-Prinsip Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: Proyek Pengembangan Masyarakat.

Nasotion, S. 1982. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 2000. Edisi keempat. Malang: Universitas Negeri Malang.

Piaget, J. 1959. "The Growth of Logical Thinking from Childhood fo Adolescenceˇ¨. New York: Basic Books.

Poulos, G.M & Jones. 1957. A Path ˇV Goal; Approach to Productivity. Jornal Ilmu Pendidikan, (Online), (http://www.samudra-studio.com/html/paradigma. html. diakses 2 Maret 2006).

Purwanto, M. N. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Penerbit Eresco.

Puryanto. 2003. Pendidikan Pembebasan Berbasis Andragogi. Jornal Ilmu Pendidikan, (Online), (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0503/28/0803. htm. diakses 27 Febuari 2006).

Putri, I.M. 2002. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Surabaya: Gresindo Press Surabaya.

Rogers, Yenny. 1984. Adult Learning. Milton Keynes: Philadelphia Open University Press.

Rogers, A. 1994. Teaching Adults. Philadelphia: Open University Press.

Sahlan, Asnawi. 2002. Teori Motivasi, dalam Pendekatan Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Studia Press.

Salim, Peter dan Yenny Salim. 2002. Teaching Adult. Malang. Umata Press.

Sastropoetro, S. 1985. Partisipasi Komunikasi, Persuasi dan Disiplin Dalam Pembangunan Nasional. Bandung: Alumni.

Soekamto, S. 1985. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

Soemardi, R. 1987. Modul (Materi Pokok Identifikasi Kebutuhan dan Sumber Belajar PLS). Jakarta: Karunika.

Soedomo, M. 1989. Pendidikan Luar Sekolah Ke Arah Pengembangan Sistem Belajar Masyarakat. Jakarta: Depdikbut.

Spradly, J.P. 1997. The Etnographic Interview. New York: Ho Rinchart and Winston.

Sudjana, H.D. 2000. Strategi Pembelajaran Dalam Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Falah Production.

Sudjana, H.D. 2000. Pendidikan Luar Sekolah Wawasan, Sejarah Perkembangan, Falsafah & Teori Pendukung, Serta Asas. Bandung: Fatah Production.

Sudjana, H.D. 2001. Pendidikan Luar Sekolah Wawasan, Sejarah Perkembangan, Falsafah & Teori Pendukung, Serta Asas. Bandung: Fatah Production.

Sukamto. 1983. Beberapa Upaya Untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa. Yogyakarta: Fisipol UGM.

Supriyono, 1999. Pemberdayaan Kelompok Belajar sebagai Satuan Pendidikan. Jurnal Filsafat, Teori dan Praktik Kependidikan. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang.

Suparno, A.S. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Supriadi. 2002. Andragogi Sebuah Konsep Teoritik. Jornal Ilmu Pendidikan, (Online), (http://www.andragogi.com/ document/andragogi.htm. diakses 15 Desember 2006).

Srinivansan, Lyra. 1981. Beberapa Pandangan Mengenai PNF Bagi Orang Dewasa. (ahli bahasa: BPKB Jaya Giri). Bandung: Remaja Rosda Karya.

Syamsudin, Abin. 1984. Pedoman Studi Psikologi Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung.

Syamsu, Mappa dan Basleman, A. 1994. Teori Belajar Orang Dewasa. Depdikbud RI. Dirjen Dikti. Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependudukan.

Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional. No. 20 Tahun 2003 Bandung: Umbara.

Vroom. VH. 1976. Work and Motivation. New York: Wiley.

Vredenbergt, J. 1987. Metode dan Tehnik Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia.

Wila, Huky. 1982. Pengantar Sosiologi. Surabaya: Usaha Nasional.

Winkel. 1984. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

William, R & Abdulsyani. 1992. Sosiologi, (Skematika, Teori dan Terapan). Jakarta: Bumi Aksara.

Saya Hendrowanto Nibel, S.Pd, M.Pd setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah