Judul: PERUBAHAN PARADIGMA ILMU SOSIATRI
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian IPS / SOCIAL SCIENCE.
Nama & E-mail (Penulis): Hery Yanto, The
Saya Guru di SMA Gembala Baik
Topik: Mengenalkan Ilmu Sosiatri
Tanggal: 21 Desember 2007
Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 1
PERUBAHAN PARADIGMA ILMU SOSIATRI
Oleh:
Hery Yanto,The*
ABSTRAK
Keberadaan Ilmu Sosiatri sebagai salah satu cabang ilmu sosial yang berkembang di Indonesia sudah
memasuki tahun ke-50. Usia tersebut memang relatif masih sangat muda dibandingkan dengan
cabang-cabang ilmu sosial lainnya. Tantangan dihadapi oleh para sosiatris dalam mengembangkan
disiplin ini, baik dari kalangan sosiatris sendiri maupun dari ilmuwan sosial lainnya. Sosiatri sering
diragukan keberadaannya sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Sosiatri seringkali dianggap hanya
sebagai penggabung-gabungan berbagai disiplin untuk mempertunjukkan bahwa ilmuwan Indonesia
juga mampu menciptakan ilmu sendiri. Sosiatri pada hakekatnya lahir dari kepedulian terhadap
masalah sosial patologis di Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Dalam proses panjang, seiring
dengan perubahan sistem pemerintahan dan perubahan masyarakat, fokus kajian sosiatri juga
mengalami pergeseran. Pergeseran tersebut tentunya disesuaikan dengan tujuan utama sosiatri, yaitu
membantu masyarakat Indonesia yang mengalami masalah sosial terlepas dari masalah, mampu
berusaha sendiri, membangun masyarakatnya, dan meneruskan usaha tersebut pada masyarakat lain
dalam rangka pembangunan berkelanjutan
Konsep-konsep Kunci:
agent of social change
anomali
applied science
grounded research
non government organizations
paradigm
social analysis
social case work
sosiatri
sosiatris
three age system
treatment behaviour
Pendahuluan
Kedinamisan merupakan salah satu ciri kehidupan masyarakat manusia. Kehidupan masyarakat
manusia yang dinamis ditandai dengan perubahan-perubahan sosial dan budaya yang secara jelas
dapat terlihat melalui berbagai benda hasil budaya dan aktivitas-aktivitas kehidupannya. Perubahan
sosial budaya yang dialami manusia dapat dijelaskan sebagai proses penyesuaian hidup manusia
dengan konstelasi yang ada, seperti yang ditegaskan oleh Gillin dan Gillin (Soekanto, 1994),
perubahan sosial dapat dipandang sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, yang
disebabkan baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebutuhan materil, komposisi
penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penumuan baru dalam
masyarakat tersebut.
Perubahan yang dialami manusia bukanlah suatu penyimpangan, karena pandangan tersebut adalah
suatu mitos yang perlu dihilangkan dari pandangan mengenai perubahan (Lauer, 1993). Perubahan
Alumni Fisipol Univ. Tanjungpura Tahun 1998 dan Staf Pengajar STMIK Pontianak
Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 2
berdasarkan arahnya dapat berupa perubahan yang progresif (kemajuan) dan dapat juga berupa
perubahan yang regresif (kemunduran). Perubahan yang terjadi juga hendaknya menghindari mitos
mengenai keseragaman arah gerak dari setiap struktur sosial yang ada, karena dalam setiap struktur
sosial terdapat identitas khusus yang mewarnai perubahan yang terjadi, yaitu perbedaan nilai-nilai
sosial, sikap dan pola tingkah laku kelompok masyarakat (Soemardjan, 1974).Oleh sebab itu,
perubahan yang terjadi dalam masyarakat, senantiasa dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain:
perubahan lingkungan fisik, perubahan penduduk, isolasi dan kontak, sikap dan nilai-nilai, struktur
sosial, kebutuhan yang dianggap perlu, dan dasar budaya (Horton dan Hunt, 1991).
Selain faktor-faktor tersebut, yang paling penting adalah dinamisator di dalam kehidupan itu sendiri,
yaitu kelompok dalam masyarakat yang menjadi penggerak perubahan (agent of social change). Peran
dan kerja dari para penggerak perubahan tersebut juga turut menentukan dan mempengaruhi
perubahan yang terjadi. Para penggerak perubahan dapat terdiri dari unsur pemerintah, lembaga
nonpemerintah, dan kalangan terdidik (mahasiswa dan ilmuwan).
Perkembangan Sosiatri dalam Perspektif Perubahan Ilmu-ilmu Alam dan Sosial
Pembahasan perkembangan ilmu sosiatri dalam tulisan ini akan berada dalam frame kerangka konsep
perubahan tersebut.
Setiap perubahan sosial selalu mencakup pula perubahan budaya, dan perubahan
budaya akanmencakup juga perubahan sosial. Sosiatri merupakan ilmu sosial terapan (applied
science), yang dalam pengembangannya mengandalkan realita yang terjadi di dalam masyarakat,
berkaitan dengan masalah sosial yang perlu diselesaikan (pandangan awal perkembangan) dan
penyesuaian kebutuhan dengan sumber daya yang ada (pandangan hasil perkembangan).
Realita dalam masyarakat yang terus mengalami perubahan memiliki dimensi perubahan sosial.
Sementara itu, secara keilmuan, pengembangan kajian, penelitian, dan teori-teori baru juga dituntut
dari sosiatri, baik melalui hasil kerja lapangan (penelitian dan proyek sosiatri), maupun melalui berbagai
kegiatan seminar dan diskusi.
Aktivitas ilmiah mempermudah perubahan budaya. Inovasi baru di
bidang keilmuan memperoleh ruang dan kesempatan formal.
Kajian perubahan dalam sosiatri dapat dipadukan dengan konsep paradigma dari Khun (Ritzer, 1991).
Konsep paradigma dari Khun sealiran dengan teori-teori perubahan. Perubahan ilmu pengetahuan
menurut Khun terjadi secara revolusioner. Akumulasi hanyalah salah satu segmen di dalam proses
revolusi untuk mencapai kemajuan ilmu. Revolusi ilmu menjalani proses sebagai berikut:
Paradigma I "³ Ilmu Normal "³ Anomali "³ Krisis "³ Revolusi "³ Paradigma II
Pada tahap ilmu normal, proses akumulasi ilmu terjadi, namun perkembangan ilmu tidak hanya terletak
pada tahap ilmu normal, melainkan meliputi keseluruhan proses tersebut (Ritzer, 2003). Paradigma
merupakan suatu pandangan mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam suatu
cabang ilmu. Jadi paradigma merupakan suatru bingkai atau frame yang membuat ilmuwan terfokus
pada apa yang menjadi perhatiannya berkaitan dengan suatu kondisi atau objek.
Paradigma dalam
ilmu pengetahuan mencakup teori, pokok permasalahan metode dan instrumen, termasuk eksemplar
model dari suatu objek ilmu.
Jika dikaitkan dengan sejarah perkembangan sosiatri yang terinspirasi oleh analogi psikologi ¡V psikiatri
dan sosiologi ¡V sosiatri, jelas sosiatri memiliki kedekatan dengan sosiologi. Objek material sosiatri
sama dengan sosiologi, yang membedakan keduanya adalah objek formal. Objek formal sosiatri
memang memerlukan dukungan dari beberapa paradigma sosiologi, sebab sosiologi memiliki
multiparadigma. Namun, objek tersebut juga memerlukan dukungan disiplin ilmu sosial lain agar kerja
Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 3
sosiatri menjadi semakin baik, mengingat dimensi sosial-masyarakat sangat luas. Sosiatri memadukan
berbagai paradigma ilmu sosial, sehingga penyelesian masalah di dalam sosiatri merupakan suatu
pendekatan multiparadigma terintegrasi.
Perubahan paradigma dalam ilmu sosial yang dijadikan
sebagai acuan kerja dan pelaksanaan proyek sosiatri jelas akan turut mengakibatkan perubahan dalam
paradigma sosiatri sebagai ilmu.
Perubahan paradigma dalam suatu ilmu pengetahuan memang bukan suatu hal baru. Kondisi ini
menunjukkan proses revolusi ilmu dari Khun merupakan sesuatu yang realiabel. Di bidang ilmu alam
akan dengan dengan mudah ditemukan perubahan paradigma mendasar yang selanjutnya
mempengaruhi kehidupan manusia. Perubahan teori geosentris menjadi heliosentris merupakan suatu
revolusi dalam kosmologi yang dampaknya sangat besar. Salah satu efek sosialnya adalah
perkembangan penjelajahan samudera yang menimbulkan kolonialisme dan imperialisme bangsabangsa
Eropa terhadap bangsa noneropa. Perubahan pemikiran mengenai abiogenesis menjadi
biogenesis merupakan perubahan besar dalam biologi. Efek positifnya adalah memungkinkan
perkembangan ilmu budidaya dan kajian mikrobiologi. Efek sosialnya adalah kemampuan menjawab
kekhawatiran Malthus mengenai bencana kemiskinan dan kelaparan akibat ledakan jumlah penduduk.
Di bidang ilmu sosial, dapat terlihat perubahan paradigma sosiologi dan antropologi. Pada awal
perkembangannya, sosiologi difokuskan pada struktur sosial dan dinamika sosial masyarakat Eropa
pascarevolusi sosial dan Revolusi Industri. Kedua revolusi tersebut memberikan dampak yang besar
terhadap masyarakat dunia. Sosiologi mulai memperluas kajiannya pada struktur dan dinamika sosial
masyarakat di berbagai belahan dunia ¡V tidak hanya terbatas pada masyarakat Eropa saja.
Antropologi
yang pada awalnya memilih objek masyarakat terasing mulai melakukan reinterpretasi kajian, sehingga
mencakup kehidupan suku-suku bangsa di manapun, baik di pedesaan maupun di perkotaan.
Perubahan paradigma dalam ilmu pengetahuan mencakup seluruh aspek paradigma. Dari beberapa
kasus perubahan paradigma ilmu pengetahuan yang telah dipaparkan, arah yang dicapai memang
diutamakan berupa perkembangan. Kemapanan dan munculnya spesialisasi ilmu menjadi harapan dari
perubahan tersebut. Perubahan tersebut berhubungan timbal balik dengan perubahan kehidupan
manusia yang menjadi pendukungnya, termasuk terutama perkembangan di kalangan ilmuwan.
Fase-fase Perubahan Paradigma Ilmu Sosiatri
Sosiatri sebagai ilmu pengetahuan mulai dikembangkan di Universitas Gadjahmada sejak tahun 1957.
Banyak perubahan dalam masyarakat yang telah terjadi dari tahun tersebut sampai saat ini. Selama 50
tahun, tentunya telah dihasilkan sejumlah besar sosiatris. Sosiatris dalam menjalankan pekerjaannya
tentu akan menghadapi perubahan masyarakat yang memungkinkan mereka menghadirkan ide-ide
baru yang lebih inovatif. Ide-ide yang dihasilkan sekaligus mengkonstruksi perkembangan bagi sosiatri.
Koentjaraningrat (1993) pernah membuat periodisasi perkembangan antropologi berdasarkan pada
kajian terhadap pengembangan ilmu tersebut di setiap periode. Dalam histroigrafi juga terdapat cara
pengelompokkan karakteristik suatu periode historis dengan sistem tiga periode (three age system).
Dengan demikian jika dilakukan analogi pada dua proses keilmuan tersebut, maka perkembangan
sosiatri juga dapat dikelompokkan ke dalam fase-fase atau tahap perkembangan. Pengelompokkan
selanjutnya dilakukan dengan menggunakan sistem tiga periode. Alasannya jelas bahwa
perkembangan masyarakat dan kajian ilmu sosial sering dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang
berlangsung.
Dari perkembangannya, sampai saat ini, sosiatri menjalani tiga periode sistem
pemerintahan yang berbeda, yaitu Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.
Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 4
Periodisasi perkembangan sosiatri yang akan dijadikan landasan untuk melihat perubahan
paradigmanya dikelompokkan menjadi: Fase Awal Perkembangan (1957 ¡V 1966); Fase Pemantapan
Perkembangan (1967 ¡V 1997); dan Fase Perkembangan (1998 ¡V sekarang). Setiap fase
perkembangan memiliki karakteristik yang dapat dilihat dari aspek objek ilmu (pokok permasalahan),
teori-teori, titik perhatian, metode dan instrumen, pendekatan/eksemplar model ilmu, dan peran
sosiatris.
Pada fase awal perkembangan, sosiatri masih merupakan suatu disiplin ilmu yang baru berkembang,
terbatas pada Universitas Gadjahmada sebagai salah satu cabang ilmu sosial yang khusus dan secara
langsung bersasaran pada keadaan dalam masyarakat. Landasan dirumuskannya spesialisasi sosiatri
pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjahmada pada saat itu adalah kebutuhan bangsa
akan adanya tenaga-tenaga ahli yang mampu membantu melakukan penyembuhan (rehabilitasi)
kondisi masyarakat yang mengalami banyak masalah sosial akibat penjajahan. Objek formal sosiatri
pada fase awal perkembangan ialah masalah-masalah sosial patologis akibat penjajahan
(Wirjosumarto, 1978). Masalah tersebut antara lain: kemiskinan, kebodohan, kualitas kesehatan yang
buruk, ledakan jumlah penduduk, dan adanya cacat sosial dan cacat fisik.
Pengembangan sosiatri yang dilakukan secara khusus menyebabkan disiplin ini kurang dikenal.
Terlebih lagi adanya dominasi sosiologi yang begitu kuat pada saat bersamaan. Kedekatan objek
kajian sosiologi dengan sosiatri membuat ilmu ini dipandang hanya satu cabang sosiologi.
Bahkan, ada
juga yang mengangap ilmu ini sengaja diadakan untuk sekedar meramaikan perkembangan ilmu
pengetahuan. Kekeliruan ini disebabkan karena ilmuwan tersebut tidak memandang sosiatri sebagai
suatu kepaduan dari aspek-aspeknya, melainkan hanya memandang aspek sosiatri secara spatial.
Pada awal perkembangannya, sesuai dengan masalah yang dihadapi pada objeknya, sosiatri banyak
mengandalkan ilmu-ilmu sosial yang telah mapan, seperti sosiologi, patologi sosial, dan pekerjaan
sosial. Teori-teori dari disiplin tersebut digunakan sosiatris untuk mendukung kerjanya. Metode atau
instrumen yang diterapkan memiliki kedekatan dengan ilmu yang menjadi acuan. Metode tersebut
antara lain social case work, sociai analysis, dan treatment behaviour. Pendekatan yang dilakukan di
dalam melaksanakan kerja sosiatris adalah pendekatan individual dengan penekanan pada pekerjaan
sosial.
Pada fase pemantapan terjadi perubahan cukup besar dalam paradigma sosiatri. Fase ini ditandai
dengan pemantapan struktur ilmu sosiatri dengan dibukanya jurusan sosiatri pada beberapa
universitas di Jawa dan di luar Jawa. Universitas tersebut antara lain: Universitas Tanjungpura di
Pontianak, Universitas Mulawarman di Samarinda, Universitas Sam Ratulangi di Manado, Universitas
Darul Ulum di Jombang, Universitas Cokroaminoto di Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Iskandarmuda di Aceh, dan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik APMD di Yogyakarta
(Seotomo, 1987).
Pembukaan jurusan sosiatri di beberapa universitas di luar Universitas Gadjahmada merupakan
pengakuan formal yang memperkuat posisi keilmuan sosiatri di dalam negeri. Seiring dengan kondisi
tersebut, masyarakat Indonesia juga mengalami perubahan besar. Beberapa masalah pada awal
kemerdekaan dapat diatasi, namun muncul masalah baru yang merupakan ekses dari pembangunan.
Ekses pembangunan menuntut perubahan objek sosiatri menjadi masalah dan hambatan yang timbul
dari usaha pembangunan masayarakat yang perlu diantisipasi, diatasi, dan diperbaiki untuk
melancarkan pembangunan berkelanjutan. Masalah-masalah khusus dari objek formal tersebut terdiri
dari: kesenjangan antara kelompok masyarakat miskin dan kelompok masyarakat kaya, keberhasilan
Program Keluarga Berencana yang menghadirkan fenomena berkurangnya jumlah Siswa Sekolah
Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 5
Dasar, mutu pendidikan yang tidak merata antara desa dan kota, timbulnya konglomerasi di bidang
ekonomi, berbagai akibat negatif pengabaian sektor pertanian, dan hambatan pengembangan
mentalitas wirausaha di kalangan pengusaha kecil dan menengah.
Teori, metode kerja keilmuan, dan model keilmuan sosiatri mengalami perluasan dan perkembangan
pesat. Teori-teori yang dikembangkan dalam mengkaji sosiatri diusahakan mencakup perpaduan yang
tepat dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai. Kondisi tersebut jelas terlihat dari titik perhatian sosiatri
yang mengarah pada pembangunan masyarakat (community development) dan pada pendekatan
komunitas. Dalam kerjanya, sosiatris mulai mengembangkan perannya di berbagai bidang, antara lain
sebagai katalisator, promotor, animator, administrator, inovator, motivator, guru dan orang tua,
komunikator, dinamisator, dan stabilisator (Sugiyanto, 2002). Sosiatri pada fase kedua memperkuat
posisi sebagai disiplin ilmu sosial yang memiliki spesifikasi khusus dan khas, melalui identifikasi aspekaspek
keilmuannya yang semakin jelas dan semakin memperoleh pengakuan dari kalangan akademis.
Fase terkini dari perkembangan sosiatri ditandai dengan adanya kesempatan yang cukup mantap bagi
sosiatris untuk mengembangan secara mandiri spesialisasi dan kompetensi keilmuannya dalam
pembangunan masyarakat.
Pengakuan sosiatris dikukuhkan dengan penerimaannya dalam membantu
berbagai proyek pengelolaan pembangunan. Para sosiatris telah berkarya di Departemen Sosial,
departemen Transmigrasi, Departemen Dalam Negeri, Departemen Koperasi, dan departemen
Penerangan (Sugiyanto, 2002). Selain itu, banyak pula sosiatris yang telah diikutsertakan dalam
proyek-proyek pengembangan masyarakat oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat (non
government organization/NGO) dari dalam maupun luar negeri. Sosiatris juga telah bekerja di bidang
jurnalistik dan terlibat sebagai pendidik. Kedudukan dan peran sosiatris di dalam lingkup ilmuwan jelas
memperoleh kesempatan luas pada fase ini.
Objek sosiatri pada fase ketiga diarahkan pada penyelarasan kebutuhan manusia dengan sumber
daya. Kerangka model kajian sosiatri meliputi: mentalitas yang lemaha pada masyarakat untuk mandiri
dalam pembangunan komunitas, efek negatif kemajuan pendidikan, habis dan semakin menipisnya
sumber daya tertentu, distribusi-alokasi sumber daya manusia yang tidak merata di nusantara,
timbulnya berbagai kejahatan modern, dan berbagai masalah akibat pengungsian dan pemukiman
kumuh di perkotaan. Fokus ilmu sosiatri pada fase ini diarahkan pada pembangunan dan
pengembangan mental warga masyarakat.
Pendekatan yang dilakukan memadukan pendekatan
komunitas dengan pendekatan individual. Sosiatris tidak lagi hanya mengandalkan pada ilmu sosial
lain untuk menunjang kerja profesionalnya. Berbagai hasil kerja yang telah terdokumentasi dengan
baik pada fase sebelumnya menjadi akar yang kuat untuk membangun metode dan aspek teoritis ilmu
ini. Salah satu pendekatan penelitian yang memungkinkan perkembangan tersebut adalah grounded
research . Pemantapan sosiatris pada fase ini dilakukan baik di luar maupun di dalam kampus. Pada
kalangan kampus, usaha pembinaan mahasiswa melalui kegiatan praktikum dan penelitian skripsi,
termasuk pengembangan penelitian-pengabdian masyarakat di kalangan dosen merupakan cara
utama pemantapan kedudukan sosiatri sebagai cabangilmu sosial. Usaha seminar, diskusi, termasuk
pengembangan penulisan kajian tentang sosiatri juga merupakan jalur yang terus diusahakan dalam
pengembangan sosiatri.
Cara kerja sosiatris yang khas di berbagai lingkup masyarakat merupakan
jalur pemantapan sosiatri yang paling efektif di luar kampus.
Program Nonreguler S-1 Fisipol Universitas Tanjungpura Pontianak/ 6
Penutup
Memahami hakekat, keberadaan, ruang lingkup, profesi, dan bidang kerja sosiatri memang tidak
mudah. Kendala-kendala terhadap hal tersebut dapat bersumber dari dalam kalangan sosiatri sendiri
dan juga berasal dari kalangan luar. Keraguan di sebagian kalangan ilmuwan sosial terhadap ilmu
sosiatri sebagai cabang ilmu sosial merupakan hambatan perkembangan yang paling utama. Dominasi
Barat terhadap perkembangan ilmu sering menyebabkan ilmu yang berkembang di luar Eropa bukan
merupakan sebuah ilmu yang sah. Kondisi ini terjadi pada sosiatri yang kemunculannya di Indonesia.
Sosiatris dan kalangan yang memperhatikan sosiatri kurang melakukan promosi dan mengenalkan
disiplin ini kepada publik. Sebenarnya promosi ilmiah dapat dilakukan terutama dengan menulis
publikasi pada media massa dan buku teks.
Visi dan misi sosiatris yang juga belum menyatu (baca:
belum kompak). Sebagian sosiatris masih menyangsikan keberadaan diri dan ilmu yang dipelajarinya
sebagai cabangilmu sosial. Jika kendala-kendala tersebut dapat diatasi, maka jelas sosiatri dapat
dengan mantap berkembang menjadi cabang ilmu sosial yang bermanfaat dalam pembangunan
masyarakat Indonesia.
Daftar Referensi
Horton, Paul B., dan Robert L. Horton. (1991). Sosiologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. (1993). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Lauer, Robert H. (1993). Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Ritzer, George, dan Douglas J. Goodman. (2003). Teori-teori Sosiologi Modern. Jakarta: Predana
Media.
Soekanto, Soerjono. (1994). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Soemardjan, Selo, dan Soelaiman Soemardi. (1974). Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Soetomo. (1987). Ilmu Sosiatri: Lahir dan berkembang dalam Keluarga Besar Ilmu Sosial. Dalam
Sosiatri, Ilmu, dan Metode. Ed. Agnes Sunartiningsih. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Sosiatri
Fisipol UGM.
Sugiyanto. (2002). Lembaga Sosial. Yogyakarta: Global Pustaka Utama.
Wirjosumarto. Sartono. (1978). Pengantar Ilmu Sosiatri. Yogyakarta: Fisipol UGM.
Saya Hery Yanto, The setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|