Judul: PEMANFAATAN PAPAN TULIS SECARA OPTIMAL
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian TEKNOLOGI INFORMASI.
Nama & E-mail (Penulis): Hery Yanto, The
Saya Guru di SMA Gembala Baik
Topik: Media Pembelajaran
Tanggal: 21 Desember 2007
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 1
PEMANFAATAN PAPAN TULIS SECARA OPTIMAL
UNTUK MENINGKATKAN PENCAPAIAN
KOMPETENSI SISWA
Oleh
Hery Yanto,The
Guru Bahasa Indonesia SMA Gembala Baik Pontianak
ABSTRAK
Media pembelajaran merupakan sarana utama yang diperlukan oleh guru untuk dapat
membantu siswa dalam belajar dan mencapai kompetensi dari proses belajar. Perkembangan
teknologi pendidikan telah menghadirkan berbagai media pembelajaran baru, seperti OHP,
LCD proyektor, atau Televisi Pembelajaran . Namun, kedudukan papan tulis tetap penting
dalam mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Meskipun berbagai media presentasi
baru telah digunakan secara luas, namun papan tulis tetap memiliki fungsi utama dalam
mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Media ini telah lama dikenal sebagai
pendukung proses pembelajaran kelas yang paling murah dan mudah penggunaannya. Papan
tulis juga menjadi jawaban paling jitu dalam mengatasi masalah mahalnya penerapan berbagai
teknologi pendidikan modern.
Pendahuluan
Dalam membuat perencanaan proses pembelajaran, semua guru masih
menyebutkan penggunaan papan tulis sebagai media/alat pendukung
pembelajaran di dalam kelas, bahkan media ini terpasang secara permanen
pada setiap kelas di semua sekolah, mulai dari sekolah yang berada di
tingkat pedesaan sampai sekolah di perkotaan, mulai dari sekolah bertaraf ijin
operasional sampai dengan sekolah yang telah terakreditasi sangat baik.
Intensitas pemanfaatan papan tulis dalam mendukung proses pembelajaran
sepertinya masih lebih besar porsinya jika dibandingkan dengan media-media
pembelajaran lain yang menjadi inventaris sekolah.
Papan tulis yang disediakan di setiap sekolah memang berbeda-beda.
Sekolah tertentu menggunakan papan tulis berwarna hitam dan kapur
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 2
sebagai alat tulisnya. Sekolah yang lain mungkin menggunakan papan tulis
berwarna putih dan spidol sebagai alat tulis. Pada pelajaran tertentu, papan
tulis yang digunakan juga dikembangkan sesuai dengan karakteristik
pembelajaran. Ada papan tulis bergaris untuk mendukung belajar menulis
indah. Ada juga sekolah yang memiliki papan tulis berpetak untuk
mendukung proses pembelajaran matematika ataupun menggambar
perspektif.
Alat pendukung penggunaan papan tulis juga disediakan dalam bentuk
beragam. Jangkar khusus disiapkan dapat digunakan bersama spidol
ataupun kapur untuk membuat lingkaran di papan tulis. Penggaris panjang
khusus untuk papan tulis disediakan untuk mendukung pembelajaran
akuntansi, ekonomi, matematika, dan menggambar perspektif. Bahkan untuk
memberikan kesan dan informasi khusus, spidol dan kapur juga telah
diproduksi berwarna-warni sehingga menyampaikan pesan pembelajaran
melalui papan tulis menjadi lebih menarik bagi siswa.
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah, meskipun
papan tulis telah disediakan dalam jumlah memadai di setiap sekolah dan
demikian juga dengan alat-alat penunjangnya, media ini belum dimanfaatkan
secara optimal oleh guru dan siswa. Pemanfaatan papan tulis lebih banyak
sekedar untuk memenuhi kebutuhan guru untuk menulis dan bukan pada
prinsip penciptaan kesan dan pesan yang mengandung nilai informasi bagi
siswa.
Masalah ini timbul karena guru kurang memberikan perhatian serius
dalam tata aturan penggunaan papan tulis untuk menyampaikan pesan
secara optimal. Hasilnya tentu saja siswa juga mendapatkan pesan yang
kurang teratur dan pencapaian kompetensi mengalami hambatan.
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 3
Masalah-masalah dalam Penggunaan Papan Tulis
Melalui berbagai supervisi dan pembicaraan dengan guru pasca pengamatan
proses pembelajaran di dalam kelas dapat diidentifikasi banyak masalah di
dalam penggunaan papan tulis di kalangan guru.
Masalah-masalah tersebut
sebenarnya banyak yang diakui oleh para guru telah terus-menerus mereka
lakukan. Kondisi ini juga tidak terlepas dari ketergantungan guru terhadap
keberadaan buku dan bahan ajar cetak yang dianggap mampu memberikan
penjelasan yang cukup kepada siswa selama proses membimbing siswa
belajar di kelas.
Masalah yang paling serius adalah papan tulis sama sekali tidak digunakan
selama proses pembelajaran kelas berlangsung.
Guru yang masuk ke kelas
langsung meminta siswa membuka buku pada halaman tujuan proses
belajar. Ia kemudian melanjutkan pembelajaran dengan penjelasan/ceramah
yang diselingin dengan tanya jawab. Kesimpulan hasil belajar juga
disampaikan secara lisan. Guru ke luar kelas dalam keyakinan penuh bahwa
siswa yang dibimbingnya telah menyerap dengan baik proses pembelajaran
yang dibimbingnya. Guru yang demikian melupakan konsep multiple
intelligence dan cara belajar yang berbeda dan khas pada setiap individu.
Tidak semua siswa memiliki dominasi cara belajar yang bersifat audio. Siswa
yang memiliki kemampuan audio yang dominan tentu akan puas dan baik
kompetensinya dengan cara tersebut, namun siswa yang cenderung ke
pembelajaran visual tidak akan memperoleh kompetensi yang memadai
melalui proses pembelajaran yang dibimbing oleh guru tersebut.
Guru sains pada khususnya sering hanya menggunakan papan tulis sebagai
tempat untuk menuliskan soal-soal yang akan ditugaskan kepada siswa.
Memang ada juga guru sains yang menggunakan papan tulis tersebut untuk
meminta siswa mengerjakan tugas/menunjukkan unjuk kerjanya.
Penggunaan yang spatial hanya sekedar untuk menulis soal atau hanya
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 4
untuk tempat mengerjakan soal juga tidak tepat.
Informasi yang disampaikan
selama proses pembelajaran tidak dapat diterima dalam paket yang utuh oleh
sebagian siswa. Siswa hanya mengingat dan mungkin mencapai kompetensi
sesuai dengan soal yang dilatihkan kepadanya, namun pemahaman terhadap
konteks belajar dan penciptaan memori jangka panjang kurang mendapat
tempat perkembangan dengan cara tersebut.
Sebagian guru hanya menggunakan papan tulis untuk menuliskan kata-kata
sulit yang ketika disampaikan secara lisan atau ketika didiktekan dapat
menimbulkan kesalahan penafsiran oleh siswa. Penggunaan papan tulis
untuk menuangkan kata-kata atau istilah yang sulit memang baik. Hal ini
dapat membangun ingatan siswa terhadap konsep yang dituliskan, namun
kondisi yang sama terjadi seperti pada masalah ke dua. Informasi yang
disampaikan kepada siswa tidak utuh, tidak dalam satu paket, tetapi hanya
tersegmentasi pada informasi yang sangat minimalis.
Teknik penulisan di papan tulis juga menjadi salah satu masalah tersendiri
dalam penggunaannya. Guru-guru tertentu memang menggunakan papan
tulis dalam intensitas yang sangat tinggi, namun penataan informasi yang
akan disampaikan kurang baik. Guru menulis tidak sistematis. Informasi yang
dituliskan diletakkan secara sembarangan tanpa memperhatikan susunan
penulisan dan juga penataannya dalam kaitan antara bahan pembelajaran
yang satu dengan yang lain.
Seringkali guru juga hanya terkesan sekedar
menulis. Tulisan yang dituangkan pada papan tulis buruk sekali, tidak jelas,
dan sulit untuk dibaca. Informasi yang disampaikan tumpang tindih dan acak-
acakan. Tentu saja penggunaan papan tulis yang demikian juga sama sekali
tidak memiliki arti, karena tidak memperhatikan prinsip kejelasan ide di dalam
penggunaan papan tulis.
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 5
Papan tulis juga sering digunakan sebagai sarana eksploitasi yang
mematikan eksplorasi kompetensi siswa dan menunjukkan kemalasan guru.
Guru-guru yang demikian memang sangat tinggi intensitas penggunaan
papan tulisnya, namun tidak ada informasi berarti yang dapat diberikan dalam
mengembangkan pencapaian kompetensi siswa. Papan tulis oleh guru ini
dimanfaatkan sebagai media untuk menerapkan pembelajaran catat buku
sampai habis.
Guru masuk ke dalam kelas, menuliskan isi buku yang
dijadikan sebagai bahan referensi ke papan tulis. Siswa mencatat yang
dituliskan guru dan mempelajarinya kembali dengan teknik menghafalkan.
Tidak ada informasi berarti yang disampaikan oleh guru-guru yang demikian.
Guru-guru tersebut hanya menjejalkan informasi ke dalam pikiran peserta
didik dan menciptakan keenganan sebagian siswa untuk belajar, karena
merasa tidak memperoleh manfaat kontekstual dari hanya sekedar
menghafal.
Cara-cara Optimalisasi Penggunaan Papan Tulis
Eksplorasi terhadap kompetensi siswa dapat dicapai dengan pemanfaatan
papan tulis secara optimal. Papan tulis jika dimanfaatkan secara optimal tentu
akan menjadi media yang efektif dalam pencapaian kompetensi hasil belajar
siswa. Media atau teknologi yang dikatakan efektif untuk mengekplorasi
kompetensi siswa ialah apabila:
(1) Digunakan untuk menyajikan informasi secara sistematis.
(2) Memperjelas ide-ide yang masih kabur dalam sumber
belajar lain (buku paket).
(3) Memberikan penerangkan kontekstual terhadap
isi pelajaran.
(4) Informasi yang disajikan dapat dilihat/dibaca dengan jelas
oleh sebagian besar siswa.
(5) Kesan dari informasi yang disajikan menarik
dan memiliki makna (misalnya dengan penggunaan warna, grafik, tabel).
(6) Dapat dimanfaatkan secara seimbang antara kegiatan guru dan kegiatan
siswa.
Papan tulis dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk memenuhi
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 6
kriteria tersebut jika guru memperhatikan prinsip-prinsip dan cara
penggunaannya.
Jika papan tulis dianggap sebagai sebuah bidang utuh, maka bidang tersebut
dapat dibagi secara khayal oleh guru menjadi tiga bagian. Bagian tersebut
komposisinya adalah 20% di sebelah kiri, 60% di tengah, dan 20% di sebelah
kanan (Lihat gambar).
Bagian kiri digunakan guru untuk menuliskan standar
kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan indikator hasil
belajar siswa atau yang sering juga dikenal sebagai tujuan pembelajaran.
Bagian ini harus dipertahankan tidak dihapus sebelum pelajaran diakhiri.
Bagian tengah dapat digunakan guru untuk menyajikan bahan pembelajaran
dan juga digunakan sebagai tempat untuk unjuk kerja siswa dalam
menyelesaiakan soal-soal latihan. Bagian tengah dapat ditulis-dihapus
berkali-kali selama proses pembelajaran berlangsung.
Bagian kanan dari
papan tulis digunakan untuk menuliskan kesimpulan-kesimpulan hasil proses
pembelajaran. Tentunya kesimpulan tersebut harus disajikan secara
sistematis dan dapat dibandingkan korelasinya dengan indikator hasil belajar.
Jika siswa telah memiliki buku cetak dan sumber belajar yang lengkap,
bagian di papan tulis kanan tetap perlu ditulis kembali sebagai rangkuman
yang dapat mengingatkan keutuhan informasi selama proses pembelajaran.
Gambar 1. Teknik Pembagian Bidang Guna pada Papan Tulis
SK Isi Materi Pembelajaran Kesimpulan
KD (60%) Evaluasi
Materi Penugasan
Indikator Kata sulit dan
definisinya
(20%) (20%)
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 7
Tentu saja optimalisasi penggunaan papan tulis tidak hanya terletak pada
teknik pembagian bidangnya.
Walaupun demikian, teknik pembagian bidang
tetap harus menjadi prioritas di dalam penggunaan papan tulis sebelum
menerapkan cara-cara yang lain. Sebab pembagian bidang merupakan cara
utama untuk membuat informasi yang akan disampaikan tersusun secara
sistematis dan teratur.
Optimalisasi penggunaan papan tulis juga harus disertai dengan niat dan
usaha guru untuk menuliskan informasi secara jelas dan cukup besar
ukurannya.
Guru perlu melakukan pengamatan terhadap hasil tulisannya
terutama bagi siswa yang duduk di barisan paling belakang dan juga siswa
yang berada di pojok ruangan. Siswa yang berada pada posisi tersebut dapat
saja tidak dapat melihat dengan jelas ukuran tulisanyang dituliskan oleh guru
pada papan tulis. Jika tulisan terlalu kecil, maka guru harus memperbesar
ukurannya. Apabila ketidakjelasan disebabkan oleh sudut pandang danposisi
duduk siswa, maka siswa tersebut dapat diminta untuk pindah ke tempat
yang sudut pandangnya lebih jelas.
Penyajian informasi pada papan tulis juga harus diusahakan memiliki
keragaman.
Dominasi tulisan yang padat dan sistem mencatat linear terbukti
tidak memberikan kemampuan siswa mengembangkan daya ingat yang baik.
Guru dapat mencoba bersama-sama siswa membuat tampilan informasi
dalam berbagai bentuk yang lebih menarik. Grafik-grafik dan kurva mungkin
dapat digambar dengan menggunakan spidol dan spidol yang berbeda-beda
warnanya. Pelajaran ilmu sosial dapat saja memanfaatkan penyajian
informasi dalam bentuk tabel atau skema. Guru juga dapat saja meminta
siswa untuk membuat peta konsep sesuai dengan keperluan dan
mempermudah proses mengingat informasi yang besar jumlahnya.
SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 8
Sebenarnya selain sebagai media untuk menulis, papan tulis juga dapat
digunakan sebagai media untuk menempelkan atau menayangkan informasi.
Poster-poster atau hasil pembuatan peta konsep siswa dan guru pada karton
manila dapat saja ditempelkan pada papan tulis untuk menggantikan metode
menulis. Jika papan tulis yang dimiliki sekolah berwarna putih, papan tulis
tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti layar untuk
menayangkan slide OHP atau slide dari LCD Proyektor.
Kesimpulan
Penggunaan papan tulis secara optimal dapat dimulai dengan cara
menggunakan papan tulis secara sistematis dan menuliskan informasi
dengan jelas.
Pengembangan dapat dilanjutkan oleh guru dan siswa
disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kreativitas guru dan siswa. Alat-alat
pendukung lainnya untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi
papan tulis bagi pencapaian kompetensi siswa juga perlu dilakukan sesuai
dengan kondisi sekolah dan ketersediaan berbagai sarana pada sekolah.
Referensi
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning/CTL). Jakarta: Direktoran Pendidikan Lanjutan Pertama, Dinas Pendidikan
Nasional.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Penyusunan Silabus dan Sistem Penilaian Berbasis
Kompetensi. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Departemen Pendidikan
Nasional.
Dryden Gordon, dan Jeannette Vos. (2002). Revolusi Cara Belajar Bagian I: Keajaiban Pikiran.
Bandung: Kaifa.
Mukhtar, dan Martinis Yamin. (2002). Sepuluh Kiat Sukses Mengajar di Kelas. Jakarta: Nimas
Multima.
Sudjana, Nana, dan Ibrahim. (2001). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
Tondjowidjojo. (1985). Kunci Sukses Pendidik. Yogyakarta: Kanisius.
Saya Hery Yanto, The setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|