Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi.
Nama & E-mail (Penulis): Th. Agung M. Harsiwi
Saya Dosen di Yogyakarta
Tanggal: 14 April 2004
Judul Artikel: Studi Pandangan Akademisi Wanita terhadap Kesetaraan Kesempatan dan Prospek Karir di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah
Topik: equal opportunities, career prospects
Studi Pandangan Akademisi Wanita terhadap Kesetaraan Kesempatan dan Prospek Karir di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah
A Study of Women Academics' Views on Equal Opportunities and
Career Prospects in Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah
Artikel penelitian ini telah dipresentasikan dan dimuat dalam
Proceeding Seminar dan Workshop Penelitian BALITBANG Jawa Tengah, Semarang 9 September 2003, ISBN 979-9456-82-7.
ABSTRACT
This research reports the women academics' views on equal opportunities and career prospects. The result shows there are no structural barriers and socio-cultural barriers for women academics to catch equal opportunities and career prospects in higher education institutions. Beside that result, although career prospects have high score, but in the opposite, equal opportunities have low score, that indicated in retoric views career prospects for women academics has opened widely, but in reality views women academics have to work harder to catch equal opportunities to be accepted in the same level as a men academics.
Keywords: equal opportunities, career prospects
A. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dunia akademis selama ini dianggap sebagai suatu institusi ilmiah yang memandang kesetaraan sebagai suatu hal yang harus diperjuangkan, ternyata dalam kenyataannya tidak bisa terhindar dari konstruksi sosial yang melahirkan ketidakadilan antara pria dan wanita. Hal ini memberikan gambaran bahwa meskipun sebagian besar wanita memilih profesi sebagai dosen, dalam kenyataannya terjadi diskriminasi yang kurang menguntungkan bagi wanita.
Dalam dunia akademis, terminologi gender menciptakan diskriminasi dalam hal kesetaraan kesempatan dan prospek karir.
Penelitian yang dilakukan di United Kingdom University (Foster, 2000) menunjukkan bahwa dari sisi jumlah, kesempatan studi lanjut, kepangkatan akademis, dan jabatan struktural, wanita memiliki posisi inferior dibandingkan dengan pria.
Tinjauan Pustaka
Dunia akademis selama ini dianggap sebagai dunia yang menarik bagi wanita. Dalam tataran retorika, wanita mendapat kesempatan dan prospek karir yang sama dengan pria. Dalam tataran realita, terjadi marginalisasi dan ketidakadilan terhadap wanita yang bekerja di dunia akademis, khususnya sebagai tenaga pengajar. Dari sisi jumlah, pengajar pria lebih banyak dibandingkan dengan wanita, meskipun konsep kesetaraan tidak bisa hanya diukur dari sisi kuantitas.
Dominasi pria dalam dunia akademis adalah suatu produk dari perkembangan sosial. Dalam sejarahnya, pria mendapat kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita, meskipun dalam perkembangan selanjutnya banyak wanita yang saat ini mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Namun hal tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi akademisi wanita di perguruan tinggi. Subordinasi terhadap wanita tetap terjadi di area tersebut. Proses seleksi dan promosi wanita di dunia akademis menempatkan pria lebih menguntungkan dibandingkan dengan wanita.
Dalam hal promosi dan kesempatan studi lanjut, wanita mendapatkan kesempatan kedua setelah kesempatan pertama diberikan kepada akademisi pria. Begitu pula dengan masalah kebijakan, banyak peraturan yang kurang memihak wanita dalam statusnya sebagai pengajar di dunia akademis, misalnya masalah cuti bersalin dan tunjangan keluarga (Lau, 1998).
Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Persoalannya justru muncul ketika perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan yang termanifestasi dalam bentuk marginalisasi, proses pemiskinan ekonomi, subordinasi, stereotype dan diskriminasi, pelabelan negatif, kekerasaan, bekerja lebih banyak dan sebagainya.
Kecenderungan kuat yang menandai era pergeseran dominasi pria terhadap wanita adalah banyaknya wanita yang berada di wilayah-wilayah publik yang dulu di -"amini" sebagai milik pria. Pada dasarnya, gerakan wanita muncul ketika dunia wanita mendapat perlakuan diskriminasi. Diskriminasi tersebut terutama terletak pada diferensiasi peran antara kaum pria dan wanita (Santoso,1997).
Gerakan wanita di dunia akademis timbul ketika muncul ketidakadilan dan diskriminasi. Budaya androsentris telah melahirkan suatu gender hirarchy yang lebih memihak pria untuk lebih memiliki kesempatan masuk ke ruang publik jika dibandingkan dengan wanita. Situasi yang terjadi di dunia akademis adalah adanya disparitas secara horisontal dan vertikal. Secara horisontal wanita telah tersegregasi ke dalam kelompok ilmu sosial dan sedikit yang menempati kelompok ilmu eksakta. Secara vertikal tidak banyak wanita yang memiliki posisi yang powerfull dan prestisius. Berdasarkan hasil penelitian Nick Foster (2000) di United Kingdom University dan Jogan (1998) di Slovenia dan USA, lebih dari 80 % profesor adalah pria. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal jumlah, pria lebih punya kesempatan untuk menempati jabatan akademis yang lebih tinggi dibandingkan wanita.
Ketika secara legal wanita dapat disejajarkan dengan pria, dalam kenyataannya marginalisasi terhadap wanita tetap terjadi. Seperti telah dijelaskan, wanita menempati posisi inferior jika dibandingkan dengan pria. Selama ini, muncul estimasi yang lebih rendah terhadap kinerja wanita. Kurangnya percaya diri serta tidak adanya dukungan dari lingkungan telah memperburuk situasi tersebut. Oleh karena itu, pergerakan wanita di dunia akademis lebih difokuskan mengenai persamaan kesempatan serta prospek karir.
Beberapa hal yang diperlukan untuk mendukung persamaan kesempatan bagi wanita antara lain adanya dukungan baik dari atasan maupun sesama akademisi wanita. Selain itu, wanita perlu membekali diri dengan berbagai ketrampilan serta membangun diri untuk berkomitmen pada pekerjaannya. Kadangkala hal ini menuntut pengorbanan, baik yang sifatnya individu maupun keluarga. Dalam hal kompetensi, wanita juga dituntut untuk meningkatkan kemampuannya, terutama dalam hal riset serta kemampuan untuk menghasilkan suatu karya ilmiah yang bisa dikenal orang lain. Dengan kata lain, faktor-faktor tersebut diperlukan untuk meningkatkan bargaining position bagi wanita (Orr, 2002).
Studi yang dilakukan oleh AIM mengungkapkan bahwa untuk mencapai posisi eksekutif, perempuan harus bekerja jauh lebih keras daripada laki-laki karena seolah-olah harus memulai dari suatu titik negatif, seperti diungkapkan oleh salah seorang responden studi tersebut, "For men, starting at "zero", getting to a "plus" is easier. For women, starting from a negative point, they have to erase the negative first before they can even to "zero". In this sense, a woman has to prove herself first. She has to work harder to be accepted in the same level as a man (Hoffarth, 1989 seperti dikutip oleh Chrysanti Hasibuan-Sedyono dalam Gardiner, 1996).
Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini untuk mengetahui adanya kendala-kendala lingkungan, berupa kendala-kendala struktural dan kendala-kendala sosial budaya terhadap keberadaan akademisi wanita yang tercermin dalam kesetaraan kesempatan dan prospek karir yang dipersepsikan oleh akademisi wanita.
Penelitian ini akan memberikan suatu deskripsi eksistensi akademisi wanita pada Perguruan Tinggi Swasta di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, khususnya dalam menelaah kendala-kendala lingkungan, kesetaraan kesempatan dan prospek karir yang dapat mempengaruhi kinerja akademisi wanita tersebut. Selanjutnya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam upaya pemberdayaan akademisi wanita, terutama sebagai sumbangan pemikiran dalam pembuatan kebijakan berperspektif gender.
B.MATERI DAN METODE
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian yaitu seluruh akademisi wanita pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, sedangkan sampel penelitian adalah akademisi wanita yang bekerja sebagai staf pengajar PTS yang sedang tidak studi lanjut dan sedang mengajar di universitas dan sekolah tinggi yang menyelenggarakan program studi Strata 1.
Adapun PTS yang menjadi lokasi pengambilan sampel ada 19 PTS yang terdiri dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Universitas Kristen Surakarta, Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Universitas Kristen Satya Wacana, Universitas Muria Kudus, Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI, Universitas Semarang, Universitas Widya Dharma Klaten, Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, Universitas Dian Nuswantoro, Universitas Tidar Magelang, Universitas Muhammadiah Semarang, STIMIK AKI Semarang, STIE Bank BPD Semarang, STIE Surakarta, STIE St. Pignatelli, dan STIE Widya Manggala Semarang.
Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling (metode pengambilan sampel bertujuan), artinya sampel dipilih dengan kriteria tertentu terlebih dahulu. Sampel penelitian direncanakan 200 orang akademisi wanita, namun kuesioner yang kembali sebanyak 131 kuesioner dan hanya 127 kuesioner yang dinyatakan lengkap.
Data yang Dipergunakan
Data primer dikumpulkan melalui instrumen penelitian yang dipergunakan oleh Foster (2000) yang terdiri dari 16 item pernyataan yang terlebih dahulu diawali dengan bagian I untuk data responden, 7 item pernyataan kesetaraan kesempatan pada bagian II, dan 9 item pernyataan prospek karir pada bagian III.
Kuesioner berskala Likert dengan jawaban Sangat Setuju = SS yang berskor 6, Setuju = S yang berskor 5, Agak Setuju = AS yang berskor 4, Agak Tidak Setuju = ATS yang berskor 3, Tidak Setuju = TS yang berskor 2, dan Sangat Tidak Setuju = STS yang berskor 1. Beberapa item pernyataan dibalik skornya (reversed score), yaitu item-item pernyataan nomor 5, 7, 10, 11, 12, 13, 16.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan pendekatan statistik deskriptif, baik untuk respon masing-masing item pernyataan maupun respon terhadap keseluruhan pernyataan untuk masing-masing variabel penelitian.
C.HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian validitas kuesioner penelitian menunjukkan adanya 1 item pertanyaan yang gugur, namun kuesioner tetap dapat dipergunakan tanpa hambatan berarti. Pengujian reliabilitas kuesioner menghasilkan alpha cronbach 0,6719, sehingga dapat digolongkan andal atau reliabel. Tingkat pengembalian (response rate) kuesioner keseluruhan mencapai 65,5%.
Profil Responden Penelitian
Responden penelitian sebagian besar berusia 31-40 tahun (54,3%), status perkawinan kawin (79,5%), bertempat tinggal bersama suami (37,8%), jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah 3-4 orang (50,4%), status dalam rumah tangga sebagai anggota keluarga (94,5%), jumlah tanggungan kepala keluarga 3-4 orang (45,7%), berpendidikan formal terakhir Strata 2 (59,8%), status PTS tempat bekerja adalah universitas (74,0%), dan telah bekerja sebagai dosen 2-6 tahun (36,2%). Mayoritas responden penelitian bergolongan ruang III/a (36,2%) dan berjabatan fungsional Asisten Ahli (60,6%). Sebagian besar responden penelitian tidak sedang memegang jabatan struktural (74,0%), kalaupun menjabat sebagai ketua/sekretaris program studi (10,2%). Disiplin ilmu responden adalah ilmu-ilmu sosial, khususnya ilmu ekonomi (66,1%).
Kesetaraan Kesempatan Akademisi Wanita
Dimensi kesetaraan kesempatan digali dengan 6 item pernyataan kuesioner yang menyangkut seleksi, promosi, dan kesetaraan kesempatan. Pandangan responden terhadap item-item dimensi tersebut dapat terlihat dalam tabel berikut.
TABEL 1
PERSENTASE JAWABAN RESPONDEN PADA ITEM KUESIONER SELEKSI,
PROMOSI, DAN KESETARAAN KESEMPATAN
NO.SELEKSI,PROMOSI,DAN KESETARAAN KESEMPATAN SS S AS ATS TS STS
1 Kebijakan rekrutmen universitas adil untuk semua staf/pihak. 11,8 30,7 21,3 23,6 11,8 0,8
2 Universitas menyelenggarakan pelatihan "kesetaraan kesempatan" untuk dosen yang menjabat jabatan struktural.
15,7 20,5 10,2 6,3 40,9 6,3
3 Kebijakan promosi universitas adil bagi akademisi wanita. 16,5 37,8 18,1 16,5 10,2 0,8
4 Monitoring kebijakan seleksi, pelatihan, promosi, dan pengembangan karir dilaksanakan secara ketat.
13,7 28,3 12,6 9,4 33,1 3,1
6 Dunia akademis adalah pilihan yang menarik bagi wanita. 43,3 49,6 4,7 0,8 0,8 0,8
7 Karir individual akademisi wanita akan terhenti pada suatu titik tertentu.
0,8 10,2 15,0 23,6 33,1 17,3
Catatan : N = 127, data dalam persentase (%)
Sumber : Data Diolah (2003)
Tabel 1 menunjukkan respon responden terhadap sejumlah pernyataan kuesioner yang berkaitan dengan kesetaraan kesempatan. Akademisi wanita menyatakan tingkat kepuasan yang tinggi dengan kebijakan rekrutmen yang adil dan pelatihan "kesetaraan kesempatan". Meskipun demikian 40,9% responden menyatakan tidak puas terhadap pelatihan kesetaraan kesempatan, yang sangat mungkin terjadi karena pelatihan secara formal tidak pernah diadakan dalam institusi pendidikan tinggi.
Kepuasan yang tinggi juga terjadi pada kebijakan promosi secara adil, monitoring kebijakan seleksi, pelatihan, promosi, dan pengembangan karir secara ketat. Meskipun demikian 33,1% responden tidak setuju dengan adanya monitoring kebijakan seleksi, pelatihan promosi, dan pengembangan karir yang ketat karena di sisi lain dapat mengakibatkan ketidakluwesan gerak akademisi dalam karyanya.
Temuan menarik dalam tabel 1 tersebut adalah tingginya kesetujuan responden terhadap pernyataan "Dunia akademis adalah pilihan yang menarik bagi wanita" (97,6%) yang menunjukkan bahwa dewasa ini pilihan untuk menjadi akademisi atau dosen bagi wanita semakin menarik, yang dimungkinkan karena keleluasaan waktu dan ruang gerak dalam berkarya, terkait dengan peran ganda yang umumnya dimiliki oleh sebagian besar wanita di Indonesia.
Temuan menarik lain adalah tingginya ketidaksetujuan dengan pernyataan "Karir individu akademisi wanita akan terhenti pada suatu titik tertentu" yang berarti akademisi wanita meyakini tidak adanya "glass ceiling" yang dapat menghambat karir mereka dalam institusi pendidikan tinggi tempat berkarya. Temuan ini konsisten atau sesuai dengan temuan bahwa tingkat kepuasan akademisi wanita cukup tinggi terhadap kebijakan rekrutmen yang adil, pelatihan "kesetaraan kesempatan", kebijakan promosi, monitoring kebijakan seleksi, pelatihan, promosi, dan pengembangan karir. Tidak munculnya kecenderungan terjadi "glass ceiling" tidak terlepas dari kebijakan kesetaraan kesempatan seadil-adilnya yang selama ini telah diterapkan dalam institusi pendidikan tinggi. Temuan-temuan penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa akademisi wanita di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah tidak melihat adanya kendala-kendala struktural (structural barriers) yang dapat menghambat karirnya sebagai seorang akademisi karena kesetaraan kesempatan diterapkan dalam institusi tempatnya berkarya.
Secara umum kesetaraan kesempatan menurut pandangan akademisi wanita terhadap keseluruhan item pernyataan kesetaraan kesempatan menunjukkan 61 orang (48,0%) berpendapat kesetaraan kesempatan di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah tinggi, sedangkan 66 orang (52,0%) berpendapat kesetaraan kesempatan rendah.
Prospek Karir Akademisi Wanita
Dimensi prospek karir digali dengan 9 item pernyataan yang menyangkut isu-isu karir. Pandangan responden terhadap item-item dimensi tersebut dapat terlihat dalam tabel berikut.
TABEL 2
PERSENTASE JAWABAN RESPONDEN PADA ITEM KUESIONER ISU-ISU KARIR
NO.ISU-ISU KARIR SS S AS ATS TS STS
8 Saya telah mengkompromikan karir saya dengan keluarga demi kepentingan keluarga saya.
33,1 50,4 9,4 2,4 3,9 0,8
9 Saya dan keluarga telah membuat kesepakatan dalam hal karir demi menjaga relasi dengan keluarga.
34,6 52,8 7,9 2,4 0,8 1,6
10Dukungan bagi keluarga telah menyebabkan problem bagi karir pribadi saya.
0,0 3,1 18,9 23,6 37,0 17,3
11Saya telah mengorbankan waktu pribadi saya untuk menjadi diri saya sekarang ini.
3,1 15,7 22,8 17,3 32,3 8,7
12Saya telah mengorbankan waktu sosialisasi saya untuk menjadi diri saya sekarang ini.
0,8 11,8 17,3 19,7 39,4 11,0
13Saya telah mengorbankan waktu dengan keluarga saya untuk menjadi diri saya saat ini.
0,8 14,2 16,5 15,7 42,5 10,2
14Keluarga saya merupakan faktor keberhasilan karir saya. 44,1 43,3 11,0 0,8 0,8 0,0
15Keluarga saya merupakan pendukung bagi karir saya.
46,5 45,7 7,9 0,0 0,0 0,0
16Penghentian karir untuk sementara bagi wanita bisa merusak prospek karir di masa depan.
7,1 15,7 22,8 26,8 25,2 2,4
Catatan : N = 127, data dalam persentase (%)
Sumber : Data Diolah (2003)
Tabel 2 menunjukkan pandangan responden tentang pengorbanan yang telah dibuatnya dalam karir karena pasangan karir atau karena komitmen keluarga. Mayoritas akademisi wanita mengakui telah membuat kesepakatan-kesepakatan dengan pasangan karir atau keluarga. Meskipun demikian akademisi wanita tidak merasa telah mengorbankan waktu pribadi, waktu sosialisasi, dan waktu dengan keluarga demi karir yang dijalaninya, bahkan mayoritas akademisi wanita menganggap dukungan terhadap keluarga tidak akan menimbulkan problem dalam karir pribadinya.
Temuan menarik dalam tabel 2 adalah mayoritas akademisi wanita mengakui keluarga merupakan faktor keberhasilan karir dan pendukung bagi karir dirinya, tentunya setelah diawali dengan kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat dengan pasangan karir atau keluarganya.
Temuan menarik lain adalah tingginya ketidaksetujuan dengan pernyataan "Penghentian karir untuk sementara bagi wanita bisa merusak prospek karir di masa depan" yang menunjukkan akademisi wanita meyakini tidak persoalan apabila akademisi wanita harus mengalami penghentian karir untuk sementara waktu, karena tidak akan berdampak pada prospek karir dirinya di masa depan. Salah satu contoh konkrit penghentian sementara waktu adalah pengambilan hak cuti melahirkan selama 3 bulan bagi akademisi wanita yang memberikan dampak berarti bagi prospek karirnya.
Temuan-temuan penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa akademisi wanita di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah tidak melihat adanya kendala-kendala sosial-budaya (socio-cultural barriers) yang dapat menghambat karirnya sebagai seorang akademisi karena prospek karir terbuka luas untuk diterapkan dalam institusi tempatnya berkarya.
Secara umum prospek karir menurut pandangan akademisi wanita terhadap keseluruhan item pernyataan prospek karir menunjukkan 77 orang (60,6%) berpendapat prospek karir di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah tinggi, sedangkan 50 orang (39,4%) berpendapat prospek karir rendah.
Pembahasan
Secara umum penelitian Foster (2000) menggali prospek karir dan kesetaraan kesempatan yang mereka rasakan dalam kehidupan kerja dan kehidupan pribadi mereka di United Kingdom University. Pada umumnya akademisi wanita tidak dapat mencapai karir yang optimal karena adanya hambatan karir terkait dengan tanggung jawab keluarga dan domestik yang ditanggungnya, seperti (1) terdapat proporsi yang lebih tinggi akademisi wanita yang berada pada posisi junior, (2) akademisi wanita kurang dipromosikan dibandingkan pria, (3) rata-rata penghasilan akademisi wanita lebih kecil daripada akademisi pria, (4) hanya sedikit akademisi wanita yang menduduki posisi sebagai pengajar senior, (5) pria empat kali lebih disukai menjadi profesor daripada wanita, (6) bukti nyata bahwa wanita masih terkonsentrasi pada disiplin ilmu-ilmu sosial dan sangat sedikit di ilmu-ilmu murni.
Sejalan dengan penelitian Foster (2000) tersebut, penelitian inipun menunjukkan mayoritas akademisi wanita berada pada posisi junior yang ditandai dengan golongan ruang III/a dan jabatan fungsional Asisten Ahli yang merupakan golongan ruang dan jabatan fungsional yang terendah bagi seorang akademisi.
Mayoritas akademisi wanita juga tidak memegang jabatan struktural yang dapat terjadi karena tanggung jawab keluarga dan domestik yang ditanggungnya, sehingga tidak semua akademisi wanita bersedia untuk memegang jabatan struktural dalam institusi pendidikan tinggi tempat mereka bekerja.
Penelitian Foster (2000) telah melihat lima kendala struktural utama yaitu (1) kebijakan rekrutmen dan seleksi, (2) kurangnya mentor dan model peran yang dapat dijadikan pendamping sekaligus panutan, (3) kebijakan pengembangan karir dan promosi, (4) sistem penilaian kinerja, dan (5) kekuatan pria secara institusional dan peran akademisi wanita sendiri.
Dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya kendala struktural seperti yang terdapat pada penelitian Foster (2000), yang ditunjukkan dengan adanya (1) kebijakan rekrutmen yang adil, (2) adanya pelatihan "kesetaraan kesempatan", meskipun tidak secara formal, (3) kebijakan promosi, monitoring kebijakan seleksi, pelatihan promosi dan pengembangan karir yang adil.
Temuan ini didukung pula dengan adanya anggapan di kalangan akademisi wanita bahwa "Dunia akademis merupakan pilihan yang menarik bagi wanita" dan "Karir akademisi wanita tidak akan terhenti pada suatu titik tertentu".
Penelitian ini menemukan mayoritas akademisi wanita di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah berpandangan kesetaraan kesempatan masih rendah, meskipun demikian prospek karir cukup tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dalam tataran realita kesetaraan kesempatan masih belum dirasakan seluruh akademisi wanita, meskipun demikian terdapat optimisme cukup besar dengan pandangan bahwa dalam tataran retorika prospek karir bagi akademisi wanita cukup baik di masa mendatang.
D.SIMPULAN
Sekalipun penelitian menemukan kesetaraan kesempatan secara keseluruhan kurang memuaskan, namun prospek karir secara umum cukup memberikan situasi yang kondusif bagi akademisi wanita untuk mengembangkan karirnya. Oleh karena itu kebijakan yang mendukung semakin terwujudnya kesetaraan kesempatan bagi akademisi wanita harus terus-menerus diperjuangkan. Di sisi lain, akademisi wanita harus pula mencoba meningkatkan kompetensinya dalam karir dengan mencoba "make a job", bukan hanya sekedar "do a job" demi perkembangan karir akademisi wanita itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Foster, Nick, 2000, " A case Study of Women Academics, Views on Equal Opportunities Career prospects and Work-Family Conflicts in A British University", Women in Management Review, vol 15. no.7, pp. 316-330.
Gardiner, Mayling Oey, dkk (ed), 1996, Perempuan Indonesia : Dulu dan Kini, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.
Harsiwi, Th. Agung M., dan B. Linggar Yekti N, 2003, Kesetaraan Kesempatan, Prospek Karir, dan Konflik Kerja-Keluarga Akademisi Wanita pada Perguruan Tinggi Swasta di Kopertis Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, Hasil Penelitian Kajian Wanita, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
Jogan, Maca, 1998, " Women in Academy and Hidden Discrimination-The case of Slovenia", didownload dari www.mzt.mi pada tanggal 19 Maret 2002.
Lau, Regina, 1998, "Jobs and Gender : How are Women Doing", University Publication Office, Hongkong, didownload dari www.cityu.edu.hk pada tanggal 10 Maret 2002.
Lush, Mary W, 2000 "Situation of Women in Scientific Research in Australia : Equal Opportunity is Not a Strong Enough Tool", Melbourne, Australia.
Orr, Wendy, dan Margaret Orr, 2002, The Wonder Women Project, University of Witwatersrand, didownload dari www.wits.ac.za pada tanggal 19 Maret 2002.
Santoso, Listyono, "Kemana Perempuan", Suara Merdeka, Selasa, 15 Juli 1997.
Todd, Patricia dan Delys Bird, 2000, " Gender and Promotion in Academia", Equal Opportunities International, vol 19 no.8
White, B , 1995, The Career Development of Succesfull Women", Women in Management Review, Vol 10 no. 3 pp 4-15
White, B., Cox., and Cooper, 1992, Women's Career Development : A Study of High Flyers, Blackwell Business, Oxford.