Artikel:
MEMBANGUN TEAM WORK


Judul: MEMBANGUN TEAM WORK
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian MANAJEMEN SEKOLAH / SCHOOL MANAGEMENT.
Nama & E-mail (Penulis): AGUS H. RUSLAN
Saya Guru di PONDOK PESANTREN DARUL MA'ARIF BANDUNG
Topik: MEMBANGUN KEBERSAMAAN
Tanggal: SENIN 07 JULI 2008

MEMBANGUN TEAM WORK
Oleh: Agus H. Ruslan*

1. Bangunan filosofis

Oraganisasi apapun nama dan bentuknya hendaknya menjadi wadah pengembangan manusia dengan baik, organisasi harus menjadi institusi yang adil memberikan 'kesempatan untuk mendapatkan pembelajaran yang sama' (equality of opportunity) baik secara kualitas maupun kuantitas bagi setiap siswa.

Ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap manusia dilahirkan dengan tingkat kecerdasan bawaan yang sama, dan bahwa kemampuan lebih merupakan pencarian ketimbang bawaan (John Vaizey, 1962). Seorang manusia bisa menjadi lebih atau kurang cerdas di samping tergantung pada kondisi keluarga di mana ia pertama kali mengawali hidupnya, juga pada lingkungan sosial dan pendidikan yang ia alami. Di sinilah Sekolah atau madrasah diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam membangun pembentukan intelektual, emosional dan spiritual peserta didik. Sekolah atau madrasah diharap mampu menjadi wadah pemupukan kecerdasan dan kreativitas setiap siswa, dan di atas segalanya, menjamin agar stiap setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar yang sama dan layak.

Gagasan tentang sekolah atau madrasah yang berkeadilan dapat ditemukan dalam wacana kelompok kerja yang efektif (untuk selanjutnya kita sebut team yang efektif). Kontribusi utama dan fundamental 'team yang efektif' adalah komitmen agar lembaga tempatnya bernaung menjadi tempat yang kondusif dimana semua anggota dapat mencurahkan segala potensinya dengan baik.

Paradigma team work yang efektif sebaliknya mengukur keberhasilan siswa tidak dalam kondisi absolut di luar jangkauan organisasi-seperti latar belakang ekonomi atau pendidikan orang tua---tapi dalam hal nilai tambah (value added) yang bisa diberikan lembaga bagi pengembangan kemampuan tim. Filosofi bahwa keberhasilan akademis yang rendah dan perilaku ganjil siswa sebagai bagian dari sekolah secara pasti merupakan masalah individual siswa atau keluarganya tidak bisa lagi diterima. Latar belakang ekonomi anggota yang lemah atau kemampuan bawaan siswa yang minim tidak lagi relevan dijadikan alasan rendahnya prestasi siswa ( Townsend et. al., 1999). Justru di sinilah peran sesungguhnya sebuah sekolah atau madrasah yaitu membuat mereka manjadi manusia kreatif dan baik. Pernyataan ini tentunya tidak bermaksud menafikan peranan kemampuan intrinsik individu anggota serta pengaruh kelurga dalam membentuk kualitas moral atau intelektual siswa.

2. Bangunan team work

Team work ibarat sebuah bangunan yang keberadaanya dibentuk dari beberapa komponen, sama halnya dengan keberadaan team kerja dalam sebuah organisasi minimal terdiri dari ketua team, mungkin dibutuhkan wakil ketua, skretaris team, bendahara dan anggota, yang kesemuanya berupaya secara maksimal menyamakan visi, misi dan melaksanakannya bersama-sama sesuai tugas dan fungsinya untuk tujuan yang ingin dicapai oragnisasi yang telah diprogramkan ditunjang dengan biaya dan sarana lainnya. Di sekolah atau madrasah kepala sebagai pimpinan memegang peranan kunci dalam keberhasllan program sekolah, begitu juga para guru sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum sangat penting posisinya, semangat, kreativitas serta kemampuan da loyalitas guru adalah kunci keberhasilan pendidikan di tingkat sekolah. Tenaga administrasi dan pembantu dan pembantu sekolah juga memegang peranan yang cukup penting, kinerja mereka sangat mendukung tercapainya program sekolah. Sarana dan prasarana, biaya adalah penunjang keberhasilan sekolah. Pendek kata dalam team work sumua komponen harus bersatu, karena semuanya merupakan satu bangunan yang bila satu tidak ada atau hilang bisda mengakibatkan robohnya bangunan tersebut cepat atau lambat tergantung pada posisi peran dan fungsinya. Delapan komponen pendidikan yang ditetapkan pemerintah akan membentuk bangunan team work pendidikan yang megah bila benar-benar ter-realisasiu dengan baik.

Kerja sama tim merupakan salah satu unsur fundamental dalam sebuah organisasi. Tim merupakan sekelompok orang yang memilki tujuan bersama (Fandi Tjiptono, 2000). Ada beberapa faktor yang mendasari dibentuknya team work:

1. Pemikiran dua orang atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja.

2. Konsep sinergi [ 1+ 1 > 2 ], yaitu bahwa hasil tim jauh lebih baik daripada jumlah bagiannya (anggota individual).

3. Anggota tim dapat saling mengenal dan salin percaya, sehingga mereka dapat saling membantu,

4. Kerja sama tim dapat menyebabkan komunikasi terbina dengan baik.

Untuk dapat disebut sebagai tim, maka sekumpulan orang tertentu harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Ada kesepakatan terhadap misi tim, anggota tim harus memahami dan menyepakati misi tim agar bisa bekerja dengan efektif.

2. Semua anggota mentaati peraturan tim, suatu tim harus mempunyai peraturan atau tata tertib, sehingga dapat membentuk kerangka usaha pencapaian misi.

3. Ada pembagian tanggung jawab dan wewenang yang adil, tim dapat berjalan dengan baik apabila tanggung jawab dan wewenang didistribusikan dengan baik dan setiap anggota diperlakukan secara adil,

4. Orang beradaptasi terhadap perubahan, perubahan bukan saja tidak dapat dihindari tetapi juga diperlukan sekali, hanya saja keumuman orang sering menolak perubahan. Oleh karenanya setiap anggota tim harus dapat saling membantu dalam beradaptasi terhadap perubahan secara positif.

Menggarisbawahi kata perubahan dalam poin 4 bahwa kemampuan organisasi menyesuyaikan diri dengan tuntutan perubahan baik perubahan yang terjadi karena dorongan dari dalam (internal factor) maupun dorongan dari luar (faktor lingkungan). Dorongan dari dalam dapat timbul karena tuntutan perubahan sistem nilai dan norma kelompok. Sedangkan dorongan dari luar dapat terjadi karena interaksi organisasi dengan lingkungan sekitarnya, baik pada waktu menerima masukan maupun pada saat memberikan masukan. Dengan perkataan lain, disadari atau tidak, perubahan selalu terjadi dalam setiap organisasi. Duncan (dalam Adam Ibrahim I. 1983) mengatakan bahwa "perubahan dalam organisasi ada yang disengaja (direncanakan) dan tidak disengaja (tidak direncakan)". Membiarkan dan tidak berusaha untuk merencanakan perubahan atau mempengaruhi arah perubahan berarti melakukan perubahan tanpa rencana. Sebaliknya perubahan berencana merupakan usaha secara sadar dan sengaja dari suatu agen pengubah ( individu atau kelompok) untuk mengadakan perbaikan atas suatu sistem. Perubahan berencana berorientasi pada tujuan tertentu.

Karena perubahan organisasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari maka betapa pentingya menyusun suatu strategi agar perubahan itu dapat bermanfaat bagi kepentingan organisasi, atau sekurang-kurangnya tidak mengganggu kelancaran kelangsungan hidup organisasi. Dalam menjalankan tugasnya sebuah tim mungkin saja tidak mulus disebabkan hambatan-hambatan yang muncul diperjalanan.

Faktor-faktor penghambat kesuksesan team

1. Identitas pribadi anggota, anggota tidak sepenuh hati meleburkan diri dalam tim dikarenakan masih mencoba-coba cocok atau tidak cocok keberadaannya dalam tim.

2. Hubungan antar anggota tim, anggota tim yang tidak saling mengenal dan kurang bahkan tidak harmonis.

3. Identitas tim dalam organisasi, faktor ini terdiri dari dua aspek; pertama: kesesuaian atau kecocokan tim dalam organisasi, apakah misi yang dijalankan merupakan prioritas dalam organisasi?, apakah tim memeperoleh dukungan dari pimpinan organisasi?, kedua: pengaruh keanggotaan dalam tim tertentu terhadap hubungan dengan anggota di luar tim.



a. Motivasi juang dalam team work

Motivasi adalah keadaan atau kondisi internal individu (kadang diartikan sebagai kebutuhan, hasrat, atau keinginan) yang mendorong atau membentuk tingkah laku dalam bekerja

Salah satu tantangan berat yang sering dihadapi pimpinan adalah bagaimana ia dapat menggerakkan para anggotanya agar senantiasa mau dan bersedia mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk kepentingan organisasi. Salah satu usaha ke arah itu ialah menimbulkan motivasi pada mereka.

Dalam ajaran Islam memotivasi orang agar mau melakukan sesuatu yang positif untuk pribadi dan sosial menjadi metoda yang ampuh, motivasi itu bisa berupa rasa takut kalau tidak mengerjakan, seperti tidak sholat akan mendapatkan siksa neraka, atau melakukan sholat karena ingin mendapatkan nikmat masuk sorga, kedua motivasi ini tidak begitu baik karena tidak dilandasi kesadaran jiwa yang baik. Motivasi yang paling baik adalah melakukan sesuatu karena menyenangi dan mencintainya diawali dari proses pemahaman atas sesuatu yang dikerjakan.

Proses Motivasi

Tiga model motivasi kerja

 Model Tradisional

◦ Manusia bekerja untuk memaksimalkan kebutuhan pribadi

◦ Pilih pekerja yg tepat, latih sesuai pekerjaan, tugaskan pada pkj yg simpel dan rutin

◦ Mc Gregor mengasumsikan teori X; manager mengasumsikan pekerja itu malas, berperasaan irrasional, tidak mampu mengendalikan diri dan disiplin.

Jadi == reward and punishment, dengan pengawasan ketat

◦ Kontra produktif

 Model Hubungan Manusia

◦ Menyadari kelemahan model tradisional, mulai memperhatikan konteks sosial pekerja.

◦ Memperhatikan group dinamik dan hubungan interpersonal.

◦ Pelatihan bersama manager dan perkerja, yg meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal.

 Model sumberdaya Manusia

◦ Theory Y dari Mc. Gregor: dalam kondisi layak, rata-rata pekerja menunjukkan kemampuan pengaturan diri, tanggung jawab, dan inisiatif.

◦ Kebanyakan pekerja akan lebih memotivasi diri dari kebutuhan pekerjaan.

◦ Jadi tugas manager adalah menciptakan kondisi yang kondusif.

Para pekerja lebih partisipatif pada hal-hal penting dan relevan.

Yang paling sederhana memotivasi anggota agar mau mengerjakan sesuatu ialah dengan menyediakan kebutuhannya, untuk itu barangkali tidak ada salahnya kalau di sini dikemukakan teori kebutuhan dasar manusia menurut maslow. Bukan berarti teori maslow tidak punya kelemahan tetapi teori ini dapat mewakili dari sekian teori yang ada. Maslow menyatakan bahwa manusia dilengkapi dengan lima kebutuhan:

. Physiological needs, Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (fa'ali). Kebutuhan fisiologis, adalah kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup manusia, sehingga pemuasannya tidak dapat ditunda. Kebutuhan dasar biologis ini antara lain meliputi kebutuhan makan, minum, oksigen, istirahat, aktif, keseimbangan termperetur seks dan stimulasi sensorik. dari sini maka Maslow berkesimpulan bahwa memahami kebutuhan fisiologis manusia, utamanya kebutuhan makanan, merupakan aspek penting dalam memahami manusia secara keseluruhan

. Self-security needs), Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan., merupakan kebutuhan dasar kedua yang mendominasi dan memerlukan pemuasan setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Adapun yang masuk dalam kategori kebutuhan akan keamanan antara lain adalah: keamanan, kemantapan, ketergantungan, perlindungan, bebas dari rasa takut, cemas dan ketakutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, kekuatan pada diri pelindung dan lain-lain. Karena kebutuhan akan keamanan dapat meliputi segala organisme dalam pemenuhannya.

. Social and belongingness needs, Kebutuhan sosial dan rasa memiliki, yang termasuk dalam kebutuhan ini antara lain akan berkelompok. Afiliasi, interaksi, mencintai dan dicintai.. Konsepsi Maslow tentang rasa cinta dan memiliki ini sangat berbeda dengan konsepsi psikoanalisis yang menyatakan bahwa akar perasaan cinta dan memiliki adalah seksualitas. Bagi Maslow, perasaan cinta dan memilikinya tidak hanya didorong oleh kebutuhan seksualitas. Namun lebih banyak didorong oleh kebutuhan akan kasih sayang. Semakna dengan definisi cinta yang dikemukakan oleh Karl Roger, bahwa cinta adalah, "keadaan dimengerti secara mendalam dan menerima sepenuh hati". Kebutuhan akan rasa cinta sangat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan kemampuan seseorang. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi atau terhambat maka akan dapat menimbulkan salah penyesuaian.,

. Self-esteem needs, kebutuhan akan harga diri berasal dari dua hal; Pertama, keinginan akan kekuatan, prestasi, kecukupan, keunggulan, kemampuan, dan kepercayaan diri; Kedua, nama baik, gengsi, prestise, status, kebenaran dan kemuliaan, dominasi, pengakuan, perhatian, arti penting, martabat, atau apriasi. Katagori pertama berasal dari diri sendiri, dan yang kedua berasal dari orang lain. Seseorang yang memiliki harga diri cukup akan memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi serta lebih produktif. Sementara orang yang kurang memiliki harga diri akan diliputi rasa rendah diri dan rasa tidak berdaya, yang berakibat pada keputusasaan dan perilaku neurotick.

. Self actualization needs, Kebutuhan akan aktualisasi diri. Dorongan untuk aktualisasi diri tidak sama dengan dorongan untuk menonjolkan diri, atau keinginan untuk mendapatkan prestasi atau gengsi, karena jika demikian, sebenarnya dia belum mencapai tingkat aktualisasi diri. Ia masih dipengaruhi oleh sesuatu atau tendensi tertentu. Aktualisasi diri dilakukan tanpa tendensi apa pun. Ia hanya ingin menjadi dirinya, bukan yang lain. Meskipun hal ini bisa diawali atau didasari pemenuhan kebutuhan pada tingkat dibawahnya. Diakui oleh Maslow, bahwa untuk mencapai tingkat aktualisasi diri, seseorang akan dihadapkan pada banyak hambatan, baik internal maupun eksternal. Hambatan internal, yakni yang berasal dari dirinya sendiri., antara lain berupa ketidaktahuan akan potensi diri sendiri, keraguan dan juga perasaan takut untuk mengungkapkan potensi yang dimiliki, sehingga potensi tersebut seterusnya terpendam.

b. Membangun keyakinan dan kesadaran dalam team work

Untuk dapat melakukan sesuatu dengan baik diperlukan keyakinan dan kesadaran penuh mengenai apa yang dikerjakan dan untuk apa sesuatu itu dikerjakan. Bagi setiap mu'min/mu'minat keyakinan dalam mengerjakan sesuatu tentu disertai niat karena Allah sebagai puncak segala kebaikan dan inti dari keberadaan yang hakiki agar hasil dari pekerjaanya tidak hanya bermanfaat di dunia saja tetapi juga berharap menuai manfaat untuk di akhirat.

Kesadaran dan keyakinan memang tidak bisa dipaksakan, tapi harus muncul dari lubuk hati. Barangkali dengan Zikr dan Pikir bisa membantu tumbuhnya keyakinan dalam pengelolaan team kerja yang baik. Secara harfiah Zikr berarti mengingat Allah, sementara Pikr berarti meberdayakan akal. Zikr mebersihkan hati, Pikr mencerahkan nalar. Manusia yang ber-Pikr eksis di antara sesamanya, Zikr menggenapinya dengan eksis di mata Tuhannya.

Menurut A. Riawan Amin (2000) ZIKR sesungguhnya merupakan akronim dari ZERO BASE; hati jernih setiap saat, berhusnudzon memandan bersi dan jernih pada teman, bersahaja apa adanya tidak takut dikritik berani bertindak dan bertanggung jawab, IMAN; keyajinan penuh tehadap janji-janji Allah, Allah akan memberikan solusi masalah, mendatangkan rezeki diluar perhitungan manusia bagi orang taqwa dan bertawakkal kepada Allah (Q.S. 65:2-3). Iman akan menjadi pengawas bagi setiap anggota team work untuk menampilkan diri sebagai pribadi muslim yang utuh. Seorang muslim akan sigap menjadi penolong bagi siapapun yang membutuhkan, berkeja untuk organisasi sebaik mungkin. Iman membentuk militansi anggota team work. Hanya orang-orang militan yang mau berjuang keras untuk menaklukkan (conquering) dan merebut hati sesama.

Iman juga menentukan kita untuk tidak rakus menguasai sumber daya untuk kepentingan diri sendiri. KONSISTEN; Istiqomah dan Kaaffah, konsisten dalam arah tujuan, seperti yang terjadi pada Imam al-hafidz Ibn Hajar al-Asqalany kembali bergairah berkelana mencari ilmu gara-gara melihat tetesan air yang mampu melubangi batu, begipula yagn terjadi pada Thomas A. Edison, ia menemukan prinsip bola lampu pijar setelah 10 ribu kali melakukan percobaan, ia berkata "bukannya saya 10 ribu kali gagal menemukan materi yang benar untuk membuat lampu pijar, tetapi saya berhasil menemukan cara yang salah dalam membuat lampu pijar, yang membawa saya 10 ribu kali lebih dekat kearah bahan yang benar". Konsistensi yang sama juga diserukan kepada semua orang yang beriman (Q.S. 46: 13). Konsisten tidak selalu bicara tentang arah dan tujuan, konsisten juga bicara tentang cakupan, tentang keselarasan antara berbagai peran dan aspek dalam kehidupan berorganisasi dan pribadi (Q.S. 2: 208). RESULT ORIENTED; mengutamakan pencapaian sasaran, sasaran yang ingin dicapai tidak dibatasi kepuasan, dan kehormatan serta kesejahteraan duniawi tetapi juga kehormatan dan kesejahtreaan ukhrawi.

Konsep kedua adalah PIKR, manusia bisa mendayagunakan pikrnya sebagai pribadi atau individu. Ketika dia berkumpul dalam komunitas atau organisasi, daya pikr itu terus menjadi bagian yang menentukan apakah sebuah organisasi bisa berkembang atau tumbang. PIKR di sini merukan akronim dari Power sharing, untuk mengurangi risiko dari gagalnya penggunaan kewenangan yang terpusat, maka berbagi power menjadi keniscayaan. Mislanya dengan memecahnya atau mendelegasikan kepada pihak lain yang dianggap kopenten, Information Sharing , berbagi informasi terutama transparanasi dalam hal keuangan organisasi, dan memperluas informasi lain dalam kaitannya dengan organisasi akan menjadi daya pikat dan menumbuhkan semangat anggota team work, jangan sampai terjadi adanya broker informasi dalam organisasi karena akan menimbulkan kecemburuan anggota dan mempersempit ruang gerak team. Knowledge Sharing, berbagi pengetahuan merupakan suatu tuntutan sebuah organisasi agar semua anggota team dapat memahami segala apa yang dia hadapi secara bersama, ketimpangan dalam pengetahuan akan membuat team lambat bahkan tidak berjalan. Rewads Sharing, manusia sebagai makhluk sosial memerlukan penghargaan baik berupa material maupun non material. sebagaimana dikemukakan dalam teori hirarki kebutuhan Maslow.

* Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma'arif Bandung

Saya AGUS H. RUSLAN setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah