Judul: MASYARAKAT JATIHARJO, WONOGIRI, MASYARAKAT KURBAN WADUK GAJAH MUNGKUR
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian IPS / SOCIAL SCIENCE.
Nama & E-mail (Penulis): DRS. ANTON SUNARTO MPD.
Saya Masyarakat di JAKARTA
Topik: MASYARAKAT DESA
Tanggal: 09 OKTOBER 2008
MASYARAKAT JATIHARJO, GIRIWOYO,WONOGIRI MASYARAKAT KORBAN GENANGAN WADUK GAJAH MUNGKUR
Oleh: Drs. Anton Sunarto MPd.
A. UMUM:
Kondisi geografis wilayah kabupaten Wonogiri gersang, tandus, dan daerah pegunungan kapur. Era tahun 70 - 80 an Wonogiri sebagai daerah yang sangat tertinggal baik secara ekonomis, pendidikan, maupun pembangunan. Hampir 90 persen penduduk bermata-pencaharian sebagai petani tadah hujan. Tanaman andalan singkong dan jagung. Maka Wonogiri di kenal daerah penghasil Gaplek terbesar. Sebagian masyarakat juga mengkonsumsi nasi Gaplek yang di sebut "thiwul".
Untuk meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat di daerah ini, Pada tahun 1970 pemerintah pusat mencanangkan mega proyek yakni membendung Bengawan Solo yang mengalir di antara celah gunung Gajah Mungkur. Bendungan berada 2 kilometer selatan kota Wonogiri. Dengan dana pinjaman luar negeri. Bendungan yang memporak-porandakan 5 kecamatan (Kec. Betal, Baturetno, Eromoko, Wuryantoro, dan Giriwoyo) mengharuskan masyarakat-nya "hengkang" dari desa-desa kelahiran yang mereka cintai. Mereka kehilangan lahan pertanian, mata pencaharian sebagai petani, tempat tinggal, makam leluhur, dsb.
Sebagai pengganti, pemerintah mencanangkan program transmigrasi "bedhol desa" ke Pematang Panggang (Sumatera Selatan), Ketahun dan Kurotidur (Bengkulu) kala itu; namun tidak sedikit masyarakat di desa-desa menolak "proyek" pengganti itu, karena tidak akan dapat memperbaiki taraf hidup mereka.
Masyarakat genangan waduk itu, sampai saat ini (setelah 30 tahun) tetap sebagai masyarakat desa yang sederhana, sebagai masyarakat petani tradisional. Masyarakat yang kehilangan hak lahan pertanian mereka.
Bendungan Gajah mungkur dilihat dari sisi utara (kota Wonogiri) dan sisi barat (kecamatan Wuryantoro).
Secara geografis desa Jatiharjo cukup terpencil, namun masyarakat hidup tenang, rukun, tenteram berdampingan satu sama lain , dan hidup bergotong-royong sebagai ciri masyarakat desa terus bertahan sampai kini. Jauh dari polusi dan hingar-bingar kebijakan politik pusat pemerintahan yang sarat dengan aroma kepentingan kelompok, koncoisme dan korupsi.
Sementara itu, banyak generasi mudanya mengadu nasib ke kota-kota besar mencari penghidupan yang lebih baik meski tanpa bekal pendidikan dan ketrampilan yang memadai. Karena masa itu, pendidikan yang memadai hampir menjadi hal yang mustahil karena kemiskinan dan pandangan tradisional-kolot.
B. MASYARAKAT JATIHARJO KINI
Sekilas awal mula disebutnya dusun Jatiharjo, konon ceritanya dari peristiwa seorang bangsawan (kerajaan Surakarta) yang bertapa di hulu Bengawan Solo di sebut tempuran (pertemuan aliran dua anak sungai). Entah karena sebab apa si bangsawan itu sampai meninggal di tempat bertapanya. Atas peristiwa itu, dusun inipun dinamakan pangkalan yang berarti halangan. Halangan bagi orang yang ingin mencapai kesempurnaan hidup melalui laku-tapa. Legenda ini hidup di masyarakat Jatiharjo dari waktu ke waktu. Diteruskan secara lisan dari generasi ke generasi sampai membentuk keyakinan masyarakat bahwa orang-orang asli turunan trah Jatiharjo tidak akan berhasil menjadi "priyayi" (orang yang dihormati karena status social) selain sebagai petani seperti nenek - moyang mereka.
Lain dulu lain sekarang. Dulu, dukuh ini identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Pendidikan sebagai suatu yang niscaya. Karena kegigihan generasi muda-nya, mereka dapat membebaskan diri dari "penjara" kemiskinan dan terutama kemiskinan akan pengetahuan dan pendidikan. Kini menjadi hal biasa anak muda meninggalkan kampong-halaman untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
a). Pendidikan Masyarakat
Sejalan dengan perkembangan kesadaran masyarakat, pada dasawarsa 80-an, banyak generasi muda kampong ini mulai menyadari akan pentingnya pendidikan. Pendidikan yang dapat membebaskan dari kemiskinan dan kepercayaan kolot, menyerah pada nasib. Era 80-an menjadi era "pencerahan // enlighment", menjadi era penuh motivasi bagi generasi muda desa ini akan pentingnya pendidikan. Sebagaimana terbukti pada era itu, satu atau dua orang dapat menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Sarana Pendidikan untuk masyarakat desa Jatiharjo. Dahulu ada satu sekolah swasta dan satu sekolah negeri. Karena tidak lagi ada murid, dua sekolah ini ditutup. Di "merger" dengan sekolah di desa lain.
Kini, meski desa ini tidak ada tempat pendidikan yang lebih memadai, tetapi banyak anak muda cukup antusias terhadap pendidikan. Banyak generasi desa ini memperoleh pendidikan lebih baik. Dari sarjana sampai S-2 berbagi disiplin ilmu dari banyak perguruan tinggi terpandang. Namun sayang, hampir semua putra-putri terbaik desa ini meninggalkan kampong - halaman pergi merantau di kota-kota untuk mendapat penghidupan yang lebih baik. Maka yang tersisa hanya sedikit yang tahu dan mau untuk membangun desa menjadi gemah- ripah.
b). Pertanian:
Desa dengan kurang-lebih 65 KK (180 jiwa) berada sekitar 23 kilometer selatan kota Wonogiri- bila ditarik garis lurus. (Atau tepatnya sekitar 9 Km barat laut dari kecamatan Giriwoyo. Berbatasan dengan kecamatan Eromoko). Daerah ini memiliki potensi untuk pertanian dan peternakan. Tanah pertaniaannya (meski mereka hanya sebagai penggarap lahan pasang-surut waduk Gajah Mungkur) amat subur - karena sedimentasi lumpur. Apapun yang mereka tanam, dapat mereka panen untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Pada umumnya para penggarap menanam padi, jagung, singkong, sayuran (cabai, kacang panjang, tomat; palawija, dll), dengan cara penggarapan tradisional. Hasilnya sangat baik. Melebihi dari apa yang mereka butuhkan. Sisa panen dijual untuk membeli kebutuhan sekunder. Seperti sepeda motor, Telivisi, membangun rumah, dll.
Hasil pertanian dan lahan garapan masyarakat Jatiharjo, sebagai daerah genangan waduk Gajah Mungkur (Wonogiri):
Hasil padi menjadi melimpah, meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat Jatiharjo, yang tadinya daerah amat miskin:
c). Peternakan:
Situasi sulit serta kemiskinan menghimpit sebagian masyarakat Jatiharjo pada dasawarsa 80-an. Sebagai petani tidak memiliki lahan garapan. Yang ada hanya halan proyek dengan banyak rumput. Kondisi itu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk beternak sapi dengan cara penggemukan. Ternak penggemukan sapi pada dasa-warsa 90-an pernah menjadi gerakan missal warga Jatiharjo yang mampu meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat Jatiharjo. Komunitas penggemukan sapi masyarakat Jatiharjo mulai dikenal secara nasional, menjadi tujuan studi banding para peternak sapi baik dari pulau jawa maupun dari luar Jawa. Bahkan menghantar desa ini menjadi juara tiga lomba ternak sapi tingkat nasional tahun 1994.
Komunitas peternak ini pernah mendapat hibah sapi brangos dari presiden Soeharto kala itu dalam jumlah yang tidak sedikit. Mungkin karena system manajemen pengelolaan dan pengawasan yang kurang baik, sekarang tidak diketahui nasibnya. Siapa yang salah?
Sapi bantuan presiden Soeharto. Sekarang ada di mana tidak diketahui, siapa yang bertanggungjawab?
Ternak swadaya masyarakat Jatiharjo, mampu meningkatkan kesejahteraan hidup:
Potensi pertanian dan peternakan sebetulnya cukup besar. Semua dilakukan secara tradisional. Belum didukung dengan pengetahuan dan teknologi yang memadai. Akan sangat membantu apabila ada edukasi untuk mereka baik dari pemerintah atau dari swasta.
d). Sosial Religius:
Pada mulanya, masyarakat kampong (generasi tua) banyak memeluk aliran kepercayaan. Dan bersujud pada 'animisme'. Sekarang, dua agama besar berkembang dan dianut masyarakat Jatiharjo (Katholik dan Islam). Antar penganutnya hidup rukun berdampingan sebagai saudara.
Meski belum secara layak, desa ini memiliki dua tempat ibadah, sehingga mereka dapat beribadah dan melaksanakan ajaran agama, dihayati dan diamalkan secara kolektif dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat beribadat dengan baik mereka membutuhkan tempat ibadah yang layak.
Tempat ibadah yang lebih layak mereka butuhkan. Dalam kerukunan umat beragama perlu belajar dari mereka.
KAPEL: St. Ignatius ,
Musola desa Jatiharjo
Jatiharjo
C. KESIMPULAN
Desa Jatiharjo, menjadi desa sejuta kenangan bagi orang yang pernah lahir, tumbuh, dan berkembang di sana.
Tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat memberi sumbangan besar untuk kemajuan dan kemakmuran masyarakat itu sendiri. Perlu edukasi membangun kesadaran masyarakat. Pendidikan yang baik akan memberi kontribusi bermakna kepada tingkat kesejahteraan masyarakat.
Rendahnya Sumber Daya Masyarakat, karena putra-putri terbaik desa merantau ke kota-kota untuk mendapat penghidupan yang lebih baik.
Hal-hal berbau tradisional tidak selalu menjadi penghambat atau pendukung dalam tingkat kemajuan dan perkembangan masyarakat. Diperlukan kearifan local dalam cara pandang.
Saya DRS. ANTON SUNARTO MPD. setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|