Judul: Mengenang 180 Tahun Perang Diponegoro
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan
Nama & E-mail (Penulis): YANTO
Saya: Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang
Tanggal: 14 Oktober 2004
Mengenang 180 Tahun Perang Diponegoro
Oleh : Yanto
Perang Diponegoro, yang oleh para sejarawan asing disebut PerangJawa atau The Java War, De Java Qorlog
adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830).
Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. Baik korban harta maupun jiwa. Dokumen-dokumen
Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan bahwa sekitar 200.000 jiwa rakyat yang terenggut.
Menyebarkan kepedihan yang teramat sangat, bagi keluarga - keluarga kerajaan dan rakyat kebiasaan, demikian
pula di kalangan orang Belanda dan bangsa lainnya. Di pihak serdadu Belanda, tewas sejumlah 8.000 orang asal
Eropa - harus disebut demikian karena gubernemen Hindia Belanda pada masa itu merekrut ribuan orang yang
berasal dari berbagai negeri di Eropa yang terdiri dari bekas tentara yang terlibat dalam perang Napoleon.
Demikian pula teroatat sebanyak 7.000 orang serdadu kolonial Hindia Belanda yang berasal dari berbagai daerah
Indonesia, yang tewas.
Pada tahun puncak peperangan Belanda telah mengerahkan lebih dari 23.000 orang
serdadu; suatu jumlah konsentrasi pasukan yang luar biasa buat masa itu, bagi suatu wilayah yang tidak terlalu luas
seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur. Sedemikian serius Kolonial - imperialis Belanda menghadapi
perlawanan rakyat yang bersatu padu dibelakang Pangeran Diponegaro. Ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metoda yang dikenal dalam sebuah
perang moderen. Baik metoda perang terbuka (open war fare), maupun metoda perang geri/ya (geurilia war fare)
yang dilaksanakan melalui taktik taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang
suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang selama ini belum pernah dipraktekkan,
perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta
profokasi oleh pihak kolonial imperialis; terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran. Perang juga
didukung kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata - matai; mencari informasi
mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya. Untuk dapat menyusun strategi dan taktik pertempuran.
Diponegoro, bukan hanya namaseorang pribadi.
Bukan sekadar gelar seorang pangeran tingkat tinggi.
Tapi Ia adalah suatu Semangat atau Spirit yang menggelora dalam hati tiap pribadi, yang ingin menegakkan harkat
dan martabat bangsanya.
Diponegaro, adalah cahaya yang menerangi seluruh wilayah negara berserta rakyatnya untuk terus melawan;
memerangi ketidakadilan dan nafsu serakah angkara murka.
Kisah serial, dimulai dengan suasana kehidupan masyakarat, sebelum perang pecah. Kehidupan sehari-hari,
semakin menekan baik bagi kalangan Keraton dan para pangeran, maupun para petani, pedagang, para pandai
dan rakyat jelata. Karena sehabis perang besar (Napoleon ) di Eropa, pemerintah Belanda berada dalam
kesulitan ekonomi. Maka untuk mengisi kas negara mereka , dijalankan politik pengurasan berbagai wilayah
wilayah diseberang lautan sebagai "sapi perahan". Berbagai monopoli dalam usaha dan perdagangan. Ditambah
berbagai pajak yang sering sering tidak masuk akal dipraktekkan. Bahkan kebebasan kerajaan kerajaan di Jawa
mulai dirongrong. Berbagai cara ditempuh melalui falsafah "het doel heiligt doel den middelen", atau "tujuan
menghalalkan cara" Di kerajaanYogyakarta, karena Sultan yang berkuasa masih dibawah umur, pemerintahan
dilaksanakan oleb sebuah "dewan perwalian ". Tapi dalam kenyataannya; pemerintahan dijalankan oleh Patih
Danureja yang memperoleh dukungan gubernemen Hindia-Belanda.
Sesungguhnya pemerintahan ini sama sekali
tidak memperoleh legitimasi dari rakyat. Ditambah lagi, pemerintahan ini menjalankan berbagai kebijakan yang
ditekankan oleh wakil pemerintahan Hindia Belanda yakni Residen Smissaert. Seorang yang bodoh, ambisius
dan tamak. Para kolonialis imperialis dalam usaha memperluas dan mempertahankan kekuasaannya melalui
pembangunan sebuah jalan raya dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan Pada suatu saat pertengahan 1825 ;
membelokkan rencana mereka. Sehingga jalan menyentuh tanah tanah dan desa disekatar Tegalrejo.
Bukan itu saja bahkan pekuburan nenek moyangpun digusur. Keadaan semakin memanas rakyat mengadukan
kehadapan Pangeran Diponegmo. Tapi para juru ukur dan pemborong jalan terus saja melanjutkan pekerjaannya,
tanpa memperdulikan protes dan larangan sang Pangeran. Pematokan dan penggusuran dilanjutkan juga.
IniIah yang menjadi penyulut peperangan atau Casus belli. Seluruh rakyat dan para pemimpin mereka, bersatu
dalam satu semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati", melalui kepemimpinan pangeran
Diponegoro mereka mengangkat senjata dan menyatakan perang terhadap kebatilan yang berpangkal pada sistem
yang ditekankan penjajah atas diri mereka. Peperangan ini bukan ditujukan pada orang Belanda; tapi ini merupa -
kan suatu perjuangan terhadap sikap yang bertentangan dengan hak azasi.
Bukan saja para Bangsawan, tapi juga pada Pedagang, Pandai, Kyai dan Guru-guru agama. Bahkan juga para
jagoan atau jawara, para kuli pasar, buruh, tani, tani garap, laki dan perempuan. Semua bersatu dibawah ke -
pemimpinan seorang Pangeran yang bersemangat ; Teguh, Tangguh dan Sengguh. Semangat kesatria sejati yang
mampu mempersatukan berbagai golongan dan cita-cita. Semangat atau spirit inilah yang selanjutnya mengalir di -
dalam sanubari tiap pribadi yang berjuang bersamanya.
Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan - pasukan infantri , kawaleri dan artileri yang sejak perang
Napoleon jadi senjata andalan dalam pertempuran frontal dimanfaatkan oleh kedua belah pihak, berlangsung
sengit. Front pertempuran terdapat di kedelapan pejuru mata angin. Kota dan desa, posisi posisi strategis di -
pertahankan dan digempur. Berlangsunglah pertempuran perebutan wilayah. Bila suatu wilayah dapat dikuasai
pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh barisan pasukan
pasukan para pangeran. Jalurjalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain. Sehingga perlawanan tetap
dapat berlangsung sengit. Berpuluh kilang mesiu dibangun dihutan hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan
pelor berlangsung terus sementara peperangan berkenyamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari
dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh,
jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama. Karena taktik dan strategi yang jitu
hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi. Dengan demikian serangan - serangan besar selalu di -
selenggarakan pada bulan bulan penghujan, para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam
sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, mulailah gubernemen Belanda melalukan usaha
usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka
terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak" melemahkan moral
dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka.
Bila ada gencatan senjata dan perundingan dimulai ;
mereka punya waktu untuk bernafas dan menyebarkan mata-mata dan profokator mereka bergerak didesa dan
kota, menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran, pemimpin perjuangan
rakyat yang ikut dalam kesatuan kesatuan yang menyatu dibawah komando pangeran Diponegoro.
Namun semangat dalam hati yang telah menerima terang kebenaran, tetap berkobar memerangi ketidak adilan
dibawah pengarahan seorang pemimpin utama yang teguh , tangguh dan sengguh. Kisah suka dan duka anak
manusia dari berbagai golongan yang terhempas dalam prahara sebuah perang besar. Perang yang melawan nafsu
serakah dan keberingasan kekuasaan yang tak adil. Kisah kisah mengenai anak manusia yang mengutamakan
kemakmuran yang selaras, berdasarkan harkat, martabat dan keadilan yang beradab.
Inilah yang menjadi premis , atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan didalam logika serial ini.
Setiap episode program akan memuat misi yang terkandung drama kehidupan yang dialami manusia disemua
zaman. Diharapkan dapat menjadi " sebuah cermin pemantau" kemasa lalu, untuk dapat tetap melihat jalan yang
harus ditempuh didepan, yang membawa bangsa Indonesia kemasa yang gilang gemilang.
Penulis: Yanto
Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang
E-mail Pengirim: yanto_sagu@yahoo.com Tanggal: 14 Oktober 2004
Saya YANTO setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|