Artikel:
BELAJAR BAHASA INGGRIS DI USIA DEWASA


Judul: BELAJAR BAHASA INGGRIS DI USIA DEWASA
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian BAHASA / LANGUAGES.
Nama & E-mail (Penulis): CONDRA ANTONI
Saya Dosen di POLITEKNIK BATAM
Topik: Pembelajaran Bahasa Inggris
Tanggal: 13-11-2008

Suatu ketika peserta training bahasa Inggris saya, seorang bapak berusia 30 tahunan bertanya, " Kenapa saya sulit sekali memahami bahasa Inggris? Barangkali karena usia saya yang bukan usia pelajar lagi ya, makanya otak saya udah begitu tua untuk menerima pelajaran." Waktu itu sambil tersenyum saya menjawab pertanyaan beliau dengan kembali bertanya " emang otak sama dengan kulit, Pak, yang bisa keriput dimakan usia?"

Kasus seperti ini sering saya temukan sebagai kendala dalam belajar bahasa Inggris di usia dewasa. Ada anggapan bahwa ketika usia sudah dewasa, ditambah lagi status sudah berkeluarga, maka mempelajari bahasa Inggris menemui kendala yang cukup signifikan.

Banyak alasan yang dikemukakan oleh peserta training tersebut, salah satunya menganggap bahwa otak tak ubahnya kulit yang bisa keriput dimakan usia. Hal ini pada sisi lain semakin dipertajam dengan adanya pepatah " belajar di waktu kecil bagai melukis di atas batu, belajar di waktu dewasa bagai melukis di atas air."

Persoalan ini pada dasarnya muncul bukan hanya dalam bahasa Inggris, melainkan juga hadir dalam konteks pembelajaran ilmu-ilmu atau keterampilan-keterampilan lain di usia dewasa. Untuk mempersempit topik persoalan maka tulisan ini hanya mencoba berurai papar tentang kendala dan kemungkinan belajar bahasa Inggris di usia dewasa.

Apakah benar adanya bahwa belajar bahasa Inggris di usia dewasa akan tidak seefektif belajar bahasa Inggris di usia anak-anak sampai usia remaja? (standar penggunaan kata anak-anak dan remaja di sini adalah dari lahir sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), sedangkan usia dewasa dari tingkat perguruan tinggi ke atas.

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengawali dengan berurai papar secara ringkas tentang perangkat bahasa dalam otak manusia.

Noam Chomsky, ahli bahasa kenamaan dari Amerika, mengatakan bahwa seorang anak tidak dilahirkan bak piring kosong, atau tabularasa. Begitu dilahirkan ia sudah dilengkapi dengan perangkat bahasa yang dinamakan Language Acquisition Device (LAD). Perangkat LAD ini bersifat universal, dibawa anak sejak lahir, sehingga dapat dikatakan ia sudah dibekali pengetahuan tertentu tentang bahasa. Yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya hanyalah masukan guna mengaktifkan tombol-tombol universal itu. Sesungguhnya, perangkat bahasa inilah yang memungkinkan seseorang bisa memperoleh bahasa apa pun.

Pertanyaannya, kapankah usia ideal untuk belajar bahasa?Dalam hal ini, beberapa pakar bahasa merujuk pada tesis "semakin dini anak belajar bahasa asing, semakin mudah anak menguasai bahasa itu". Misalnya, McLaughlin dan Genesee menyatakan bahwa anak-anak lebih cepat memperoleh bahasa tanpa banyak kesukaran dibandingkan dengan orang dewasa.

Sama halnya juga dengan biolinguist Eric H. Lennenberg yang berpendapat bahwa sebelum masa pubertas, daya pikir (otak) anak lebih lentur. Makanya, ia lebih mudah belajar bahasa. Sedangkan sesudahnya akan makin berkurang dan pencapaiannya pun tidak maksimal.

Selanjutnya, Dr. Bambang Kaswanti Purwo, ketua Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, dalam sebuah tulisannya yang bertajuk "Pengajaran Bahasa Inggris di SD dan SMTP", menyebut bahwa usia 6 - 12 tahun, merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus.

Namun, bukan berarti orang dewasa tidak mampu menguasai bahasa kedua (bahasa asing). Eric Lenneberg di lain sisi justru mengemukakan bahwa orang dewasa dengan inteligensia rata-rata pun mampu mempelajari bahasa kedua selewat usia 20 tahun. Bahkan ada yang mampu belajar berkomunikasi bahasa asing pada usia 40 tahun.

Kenyataan itu tidaklah bertentangan dengan hipotesis mengenai batasan usia untuk penguasaan bahasa karena penataan bahasa pada otak sudah terbentuk pada masa kanak-kanak. Hanya saja lewat masa pubertas terjadi "hambatan pembelajaran bahasa" (language learning blocks). "Jadi, maklum bila belajar bahasa selewat masa pubertas, justru lebih repot daripada ketika usia lima belas atau lima tahun," ujar Bambang.

Pada penguasaan bahasa pertama dikenal istilah "masa kritis" (critical period). Pada penguasaan bahasa kedua (bahasa asing) terdapat istilah "masa peka" (sensitive period). Berdasarkan penelitian Patkowski, masa peka penguasaan sintaksis bahasa asing adalah masa sampai usia 15 tahun. Anak yang dihadapkan pada bahasa asing sebelum usia 15 tahun mampu menguasai sintaksis bahasa asing seperti penutur asli. Sebaliknya, pada orang dewasa hampir tak mungkin aksen bahasa asing dapat dikuasai.

Masih tentang penguasaan aspek tertentu dari bahasa asing dalam kaitannya dengan faktor usia, Scovel menyebutkan, kemampuan untuk menguasai aksen bahasa asing berakhir sekitar usia 10 tahun. Sedangkan penguasaan kosa kata dan sintaksis, menurut catatannya, tidak mengenal batasan usia.

Dari paparan beberapa pakar di atas, dapat ditarik benang merah bahwa penguasaan bahasa asing tidaklah terbatas pada usia. Perbedaan yang cukup mencolok hanyalah pada kemampuan penguasaan aksen bahasa asing tersebut. Bagaimanapun, anak-anak lebih memungkinkan untuk beraksen seperti penutur asli (native speaker) dibanding orang dewasa. Dan yang tak kalah pentingnya tentunya adalah bahwa otak manusia sudah dilengkapi dengan suatu perangkat yang memungkinkan kita untuk belajar lebih dari satu bahasa.

Menurut Stephen D Krashen dalam Second Language Acquisition and Second Language Learning (Pergamon Press Inc, 2002) , orang dewasa memiliki dua sistem yang terpisah guna mengembangkan kemampuan bahasa kedua mereka, pemerolehan bahasa bawah sadar dan pembelajaran bahasa secara sadar, dan kedua sistem ini saling berhubungan dalam hal: pemerolehan bawah sadar cenderung lebih penting (Adults have two independent systems for developing ability in second languages, subconscious language acquisition and conscious language learning, and that these systems are interrelated in a definite way: subconscious acquisition appears to be far more important).

Pemerolehan bahasa bawah sadar pada tahap awal bisa dilihat dari upaya pembelajar dewasa untuk mengungkapkan ide mereka dalam bahasa Inggris dengan tanpa melihat aturan-aturan tatabahasa (grammatical rules). Krashen dalam Principles and Practice in Second Language Learning (London: Prentice-Hall International, 1981) menganalogikan ini dengan a subconscious process not unlike a child learns language (sebuah proses bawah sadar persis seperti anak-anak belajar bahasa).

Pada tahap ini pembelajar berusaha untuk berujar dan atau membuat kalimat dalam bahasa Inggris dengan fokus utama membuat lawan bicara mengerti apa yang mereka ucapkan dan tuliskan. Bukankah ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh anak kecil ketika pada tahun-tahun awal mereka berbicara? Mereka mencoba mengucapkan sesuatu dengan kalimat yang belum sepenuhnya berterima (acceptable) dalam bahasa ibunya karena belum sempurnanya fungsi anggota tubuh mereka untuk berbahasa. Nah, dalam hal ini biasanya respon lawan bicara mereka biasanya justru berusaha memahami dan malah senang karena ada anak kecil yang berusaha untuk berbicara.

Persoalannya adalah, pembelajar dewasa cenderung khawatir untuk berekspresi bahasa Inggris layaknya anak-anak tersebut. Mereka tidak siap mental untuk dikatakan salah ketika mereka berujar sesuatu dalam bahasa Inggris. Pikiran mereka digelayuti ancaman tertawaan dari lawan bicaranya. Hal ini bagaimanapun disebabkan oleh fokus utama pembelajar dewasa pada Language Learning-nya yang didefinisikan Krashen sebagai conscious knowledge of a second language, knowing the the rules, being aware of them, and being able to talk about them (pengetahuan secara sadar tentang bahasa kedua, memahami dan memperhatikan aturan-aturan bahasa tersebut serta mampu menjelaskannya).

Ketika pembelajar dewasa fokus pada language learning ini maka kelemahannya adalah bahwa mereka akan tidak leluasa untuk belajar bahasa Inggris. Sepanjang proses pembelajaran mereka tidak terlepas dari beban kebenaran tatabahasa (grammatical correctness). Sebaliknya, ketika pembelajar dewasa mampu untuk mengkondisikan diri mereka dalam "ranah kekanak-kanakan berbahasa" maka ini adalah sebuah awal yang sangat positif untuk membuat mereka mampu berbahasa Inggris dengan tidak memakan waktu lama. Dalam hal ini, hal utama yang dibutuhkan adalah mengkondisikan diri untuk bebas dari beban berbuat salah ketika mencoba untuk berbahasa Inggris.

Pada tanggal 10 April 2008 kemaren saya mengundang Steven Grant, yang berkewarganegaraan Skotlandia datang ke Politeknik sebagai pembicara tamu dalam training bahasa Inggris Polybatam Language Centre. Dia mengatakan begini (dalam bahasa Indonesianya): "Seharusnya Anda bangga bisa berbahasa Inggris walaupun tatabahasanya tidak tepat. Anda bisa berbahasa saya. Sedangkan saya tidak bisa berbahasa Anda. Alangkah menyenangkannya bagi saya ketika orang asing bisa berbicara dengan bahasa saya sendiri.Anda begitu semangat belajar bahasa saya, sementara bagi saya itu tidak begitu prioritas sebab saya dilahirkan dari ibu yang berbahasa Inggris."

Tentunya Steven Grant ingin menunjukkan pada kita bahwa kita mestinya merasa beruntung bisa berujar dalam bahasa Inggris terlepas dari ketepatan tatabahasanya. Sebab tujuan utama dan pertama berbahasa bukanlah mengatakan sesuatu secara tepat secara tatabahasa melainkan mampu berkomunikasi dalam bahasa yang dimengerti oleh pembicara dan lawan bicara.

Pada akhirnya, saya hendak menyimpulkan bahwa ketidakmampuan pembelajar dewasa (adul learner) untuk berbahasa Inggris bukan pada kesalahan usia, keterlambatan belajar, ataupun lingkungan, namun lebih pada kemampuan dalam pemaknaan fungsi subtil komunikasi itu sendiri.

*Penulis adalah dosen Politeknik Batam, koordinator Polybatam Language Centre

Saya CONDRA ANTONI setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah