Artikel:
PSB, Pak Badi, Ceu Idar dan Pak Dedi


Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Deny Suwarja,Drs
Saya Guru di SLTPN 1 CIBATU GARUT
Tanggal: 22 JULI 2003
Judul Artikel: PSB, Pak Badi, Ceu Idar dan Pak Dedi
Topik: Penerimaan Siswa Baru

Pak Badi Gultom (bukan nama sebenarnya) adalah seorang guru yang mengajar di sebuah SLTP Negeri di Kabupaten Garut? Ia seorang aktifis LSM dan aktif dalam organisasi partai politik. Sebagai seorang aktifis LSM dan organisasi politik ia mempunyai pengaruh yang sangat besar. Selain aktif dia juga dikenal kreatif, supel dan taat beribadah. Karena kedudukan dan sifatnya tersebut, Pak Badi disenangi oleh para guru dan masyarakat. Tidak ketinggalan Kepala Sekolah dan Dewan Sekolah sangat menyayangi dan menghormatinya. Beliau mendapat kedudukan yang tinggi di sekolah tersebut yaitu Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bagian Sarana dan Prasarana.

Pada penerimaan siswa baru tahun 2003, Pak Badi menjadi panitia Penerimaan Siswa Baru (PSB). Semua guru merasa senang, karena beliau adalah orang yang jujur dan mempunyai integrasi dan komitmen yang tinggi untuk keadilan dan kebenaran. Tidak satu orang pun masyarakat yang mengeluhkan kepanitiaan PSB pada tahun tersebut. Dari 594 orang calon siswa baru yang mengikuti tes masuk ke SLTPN itu, semuanya diperlakukan dengan adil dan jujur oleh kepanitiaan yang dikoordinir oleh Pak Badi. Siswa yang tersaring 400 orang, dan sisanya harus berjuang lagi mencari sekolah swasta atau mencari sekolah negeri lain yang masih menerima siswa baru (sebagai batu loncatan, dan terus "mengintip" bisa masuk ke SLTPN itu di semester mendatang)

Daftar ulang pun, dilakukan keesokan harinya. Berkat kepiawaian dan kecerdikan Pak Badi, Dewan Sekolah dan Kepala Sekolah, Dana Sumbangan Pendidikan yang seharus nya dirapatkan terlebih dahulu dengan orang tua siswa baru, ditentukan Rp.200.000. Dan para orang tua dibuat gembira dan bersorak,"Asyik!" ketika pada edaran dari Dewan Sekolah dicantumkan biaya tambahan untuk kelengkapan dan seragam sekolah, sebesar Rp. 185.000. Mereka tidak keberatan.

Para orang tua kembali dibuat tersenyum dan bahagia, mengucap "Alhamdulillah!" ketika mereka ditolak untuk mendaftarkan ulang anaknya, karena uang yang disetorkan pada panitia kurang dari Rp.185.000. Mereka berterima kasih sekali, saat panitia PSB menyatakan bahwa bila dia tidak melunasinya langsung maka nomor dan nama anaknya akan dicoret dari daftar dan digantikan oleh siswa yang lebih mampu. Mereka menyalami dan berterima kasih."Wah, kalau begitu terima kasih Pak. Sebentar saya akan menggadaikan sarung Ibunya anak-anak dulu!" atau banyak diantara mereka yang berkata:"Alhamdulillah, sebentar Pak saya mau menggadaikan TV dulu!" Wow, betapa indah pemandangan seperti itu.

Ceu Idar, seorang pedagang jajanan anak-anak. Terlihat berdiri mematung di depan gerbang sekolah. Wajahnya sayu, pandangannya kosong pakainnya lusuh. Mata sembab, memerah, bekas tangisan. Ketika didekati dia menjawab,"Saya baru ada uang untuk daftar ulang Rp.200.000, sedangkan panitia PSB tetap berpegang pada aturan bahwa pembayaran harus lunas. "A Kontan" begitu katanya! Ceu Idar terpaku dan mematung di depan gerbang tersebut untuk mencari solusi biaya kekurangan dari uang untuk daftar ulang anaknya tersebut. Sungguh bahagia tampaknya!

Berkat tehnik seperti itu Dewan Sekolah tersenyum dan berjalan dengan ringan. Mereka sangat terbantu sekali dengan ide-ide Pak Badi. Dengan bangga mereka bahwa keberhasilan panitia PSB yang mencapai pelunasan DSP dan uang seragam sekolah beserta perangkatnya sebesar 60% pada tahun ini adalah berkat jasa Pak Badi Gultom. Kalaupun ada ekses, beberapa orang kaya yang tidak bisa melunasi DSP dan uang seragam sekolah tersebut adalah biasa. Itu pengorbanan dalam perjuangan.

Ketua Dewan Sekolah kemudian menguraikan bahwa DSP dan seragam plus perangkat sekolah seluruhnya dikelola oleh Pak Badi. Mereka tidak tahu apa-apa, "Just sit there,see there, take the honorarium there!" Pekerjaan dan kebijakan Dewan Sekolah semuanya diatur oleh Pak Badi. Begitupun dengan pengadaan seragam dan atribut yang mencakup sepatu, seragam olah raga, kaos pramuka, sepatu olah raga, seragam sekolah dan atribut sekolah semuanya diatur dan dikelola oleh Pak Badi Gultom. Bagi hasil pun diatur olehnya, sebagai misal,"Bila keuntungan adalah Rp.8 juta, maka untuk sekolah adalah Rp. 3 juta (yang nantinya dibagikan untuk guru/termasuk Pak Badi, tu, kepala sekolah dan Dewan Sekolah), sedangkan Rp. 5 juta rupiah adalah murni untuk keuntungan Pak Badi. Disamping tentunya ada uang tutup mulut untuk Dewan Sekolah sebagai uang terima kasih.

Ah,dunia ini terasa indah. Dewan Sekolah dan Sekolah tertawa. Terlebih Pak Badi ketawa ketiwi, tidak hentinya dia bernyanyi: Di sini senang, di sana senang.... Karena akan mendapat keuntungan dari hasil pemaksaan pelunasan dan pembayaran barang yang belum ada wujudnya. Mereka senang karena akan mendapat dosa atas, jual beli "kucing dalam karung". Tidak ada ijab, tidak ada barang yang diperjual belikan. Mereka bersorak gembira karena akan sama-sama masuk surga. Semuanya bersorak gembira dan bertepuk tangan, "hidup uang, hidup dosa!"

Nun jauh di sudut ruang guru, Pak Dedi seorang guru matematika di sekolah yang sama. Termenung dalam...ia teringat akan kata-kata isterinya, yang berkata dengan tangisan:"Omat Kang, haram keur abdi mah nampi artos ti akang tina PSB. Margi artos eta teh, cai mata, getih sareng kesang jalmi-jalmi anu ka aniaya. Jalmi-jalmi miskin anu kapaksa hayang nyakolakeun sakolana ku jalan ngagadekeun. Kapaksa... Ngabelaan budak cenah sakolah ku sabab taya bebenaran dina hate panitia! Haram awak abdi, awak anak incu abdi sareng awak akang kedah nuang artos tinu kitu. Akang panginten uninga, naon anu dituang ku urang teh bakal lebet kana getih, sumebar kana awak jantung, hate, paru-paru sareng anu sanesnya. Tina artos sareng barang anu kita anu ngakibatkeun urang janten siga SETAN. Ngalereskeun anu salah, ngahalkeun anu haram. Omat kang Upami akan nampi artos eta ulah ditampi!" Pak Dedi tersenyum bangga,dan teringat kata-kata tokoh si Anton dalam sinetron "Cintaku di Kampus Biru": "Biarpun aku miskin, aku masih mempunyai harga diri dan kehormatan!"

Saya Deny Suwarja,Drs setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah



Print Halaman Ini