Bahan ini cocok untuk Sekolah Lanjutan TP.
Nama & E-mail (Penulis): Didi Teguh Chandra
Saya Dosen di
Jur.Pend. Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
Tanggal: 09 April
2002
Judul Artikel: Selayang pandang Pendidikan Teknologi Dasar
(PTD) di SLTP di Indonesia
Topik: Pendidikan Teknologi Dasar (PTD) bagi siswa SLTPArtikel:
SELAYANG PANDANG PENDIDIKAN TEKNOLOGI
DASAR (BASIC TECHNOLOGY EDUCATION) PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA (SLTP) DI INDONESIA.
Oleh : Didi Teguh Chandra
Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI
ABSTRAK
Seperti kita ketahui saat ini, terasa atau tidak terasa, suka atau
tidak suka, kita sedang terbawa oleh perubahan zaman yang sangat besar yang menyangkut segala aspek kehidupan menuju suatu era yang disebut dengan era globalisasi. Sejauh mana kita berperan serta dalam era globalisasi tersebut.
Sebenarnya yang diinginkan bangsa Indonesia adalah kita sebagai bangsa
yang besar harus dapat berperan serta positif dalam era globalisasi
ini, kita tidak ingin hanya menjadi obyek dan bulan-bulanan bangsa
lain.Oleh sebab itu kita harus mempersiapkan diri sedini mungkin untuk
menyongsong era tersebut, salah satu alternatif adalah mempersiapkan sumber daya manusia melalui proses pendidikan. Jadi masalah utama yang harus dijawab dalam adalah model pengajaran apa yang dapat meningkatkan
kualitas sumber daya manusia dalam rangka menyongsong era globalisasi.
Salah satu alternatif adalah memperkenalkan IPTEK secara dini dalam pendidikan formal karena siswa-siswi kita adalah sumber daya manusia dimasa yang akan datang.
A. Pendahuluan.
Basic Technology Education atau Pendidikan Dasar Teknologi merupakan
materi pelajaran yang mengacu pada bidang IPTEK, dimana siswa diberi
kesempatan untuk membahas dan mempelajari masalah teknologi di masyarakat,
memahami dan menangani peralatan teknologi serta membuat produk
teknologi sederhana melalui kegiatan merancang, membuat, menggunakan dan
menganalisa dengan menggunakan metoda pemecahan masalah .
Kompetensi-kompetensi seperti mampu memecahkan masalah, mampu berpikir
alternatif dan mampu mengevaluasi sendiri hasil pekerjaannya, dapat
dikembangkan melalui BTE. Artinya BTE dapat mempersiapkan peserta didik
memiliki kemampuan khusus agar dapat bekerja mandiri dalam kebersamaan
serta berhasil di masa depannya.
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, kita akan dihadapkan pada
perubahan dan perkembangan IPTEK yang sangat cepat, demikian juga halnya
dengan kebudayaan juga akan berkembang seiring dengan perkembangan
IPTEK. Menghadapi keadaan ini masyarakat perlu diarahkan pada sikap "sadar
teknologi" atau "melek teknologi".
Oleh karena itu langkah yang paling baik adalah IPTEK perlu
diperkenalkan secara dini melalui pendidikan formal. Sehingga sangat relevan jika Pendidikan Teknologi Dasar diperkenalkan di sekolah khususnya SLTP, karena para siswa-siswi kita adalah aset sember daya manusia di masa yang akan datang. Melalui kegiatan Pendidikan Teknologi Dasar para tamatannya dapat lebih menyadari masalah teknologi seperti mamapu menangani produk teknologi, mampu membuat produk teknologi sederhana serta dapat
menyadari bahwa produk teknologi sangat erat erat kainnya dengan
masyarakat. Selain itu para siswa-siswi memiliki motivasi yang kuat untuk
mempelajari teknologi lebih lanjut, misal sampai perguruan tinggi.
Di negara-negara yang telah maju seperti Amerika, Inggris, Jerman,
Belanda, Australia, Belgia dan sebagainya, pendidikan teknologi sudah
diperkenalkan sejak akhir dasa warsa yang lalu dan saat ini telah dijadikan
bagian dari kurikulum pokok pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan,
selain itu di Afrika Selatan sudah dipersiapkan kurikulum yang disebut
"kurikulum Afrika Selatan menuju tahun 2005" dan memasukkan pendidikan
teknologi sebagai mata pelajaran pokok.
Di Indonesia sebenarnya telah ada gagasan untuk memperkenalkan
pendidikan teknologi sebagai mata pelajaran yang terpisah, yaitu pada saat
penyuusunan kurikulum tahun 1990-1991, tetapi akhirnya diputuskan oleh
pemerintah, bahwa teknologi diintegrasikan kedalam mata pelajaran yang
sudah ada seperti Fisika, Kimia, Biologi dan sebagainya seperti yang kita
lihat dalam kurikulum tahun 1994, misanya seperti pada mata pelajaran
IPA telah diperkenalkan kegiayan merancang dan membuat dengan
mengaplikasikan konsep Fisika dengan kebutuhan siswa di masyarakat. Di SLTP
terdapat 10 %-15 % kegiatan teknologi dalam bentuk merancang dan membuat.
Pada saat ini di Indonesia Pendidikan Teknologi Dasar (BTE) mulai
diperkenalkan dalam mata pelajaran yang terpisah dan masih merupakan proyek
rintisan dan percontohan, kegiatan ini di perkenalkan di Indonesia atas
kerjasam . Departement Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan
Departement Pendidikana dan Kebudayaan pemerintah Kerajaan Belanda, secara
operasional kegiatan ini di laksanakan oleh SLO ( Pusat kurikulum Belanda )
dan Direktorat Sekolah Swasta ( Ditsiswa ) Depdikbud Indonesia. Dan di
tunjuk 4 sekolah swasta percontohan yaitu SLTP Taruna Bakti Bandung,
SLTP Al-Kautsar Bandar Lampung, SLTP Hang Tuah Ujung Pandang dan SLTP
Katolik Ambon, semua nya adalah SLTP_SLTP swasta. Kurikulumnya
dikembangkan oleh Balitbang Depdikbud, PPPG teknologi Bandung dan SLO ( Pusat
Kurikulum Belanda ), sedangakan pengembangan materi dan metodeloginya
dilakukan oleh PPPG Teknologi Bandung bekerja sama dengan Hoogeschool Van
Utrecht ( Hvu ) Belanda.
B. Peluang Pendidikan Teknologi Dasar dalam Kurikulum SLTP Tahun 1994
( Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 ).
Dalam era globalisasi, yang seperti telah dicanangkan oleh Presiden
terdahulu bahwa Indonesia tahun 2003 - 2010akan memasuki pasar bebas,
diaman setiap orang dapat melakukan aktifitas di Indonesia dengan kompetisi
objektif, tanpa melihat asal usul kewarga negaraannya, hal itu berarti
siap tidak siap, suka tidak suka, mau tidak mau semua masyarakat
Indonesia harus berhadapan dan terlibat langsung dengan perkembangan Ilmu
Perngetahuan dan Tenologi ( IPTEK ) yang sangat pesat, bagaikan "Air Bah"
yang dapat menerjang siapa saja.
Kondisi terssebut dapat memberi peluang yang sanagt besar bagi kita,
tetapi juga dapat menimbulkan tantangan yang besar pula. Hanya saja
tantangan yang besar itu jangann sampai menjadi ancaman, karen kita bangsa
Indonesia tidak mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Untuk mengantisipasi keadaaan itu, pemerintah sejak tahun 1984 telah
wajib belajar sembilan tahun oleh presiden Soeharto waktu itu, sehingga
pada tahun 2003 di harapkan masyarakat Indonesia serendah-rendahnya
berpendidikan SLTP.Pada kondisi tersebut, merupakan tonggak yang amat
kritis karena ke majuan negara sangat bergantung kepda kwalitas sumber daya
manusianya agar kita dapat bersaing secara global dengan cara kompotitf
atau kooperatif.
Selain itu masyarakat indonesia harus "melek teknologi" (sadar
teknologi), sehingga wawasan IPTEK perlu diperkenalkan secara dini kepada para
siswa-siswi kita. Persoalannya sekarang adalah, apakah sistimm
pendidikan yang sudah ada sekarang memungkinkan dapat meningkatkan wawasan IPTEK siswa ?, Apakah masih ada peluang lain untuk meningkatkan wawasan IPTEK siswa ?.
Kita tinjau kurikulum tentang Pendidikan Dasar yang telah disiapkan
oleh pemerintah, dalam buku kurikulum pendidikan tahun 1994 tentang
Pendidikan Dasar, penyajian mata pelajaran dimaksudkan agar lulusannya
memperoleh bekal kemampuan dasar untuk mengembangkan kehidupan sebagai
pribadi, warga negara dan anggota masyarakat serta mempersiapkan siswa untuk
mengikuti pendidikan menengah (PP no 28 tahun 1990 tentang Pendidikan
Dasar).
Selanjutnya dalam buku Kurikulum Pendidikan Dasar : Landasan, Program
dan Pengembangan dijelaskan bahwa "Kurikulum di SLTP lebih menekankan
pada kemampuan siswa untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan
teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan lingkungan.
Pengauasaan tersebut akan memudahkan siswa untuk mengembangkan kemampuannya secara bertahap seperti berpikir teratur, kritis dalam memecahkan masalah sederhana serta sanggup bersikap mandiri dalam kebersamnaan" makna dari ungkapan tersebut diatas, mengisaratkan bahwa peluang memperkenalkan wawasan IPTEK sudah tersirat dalam kurikulum tahun 1994 dan wawasan IPTEK sudah seharusnya mulai diperkenalkan sjak di SLTP.
C. Apa Pendidikan Teknologi Dasar itu ?
Pendidikan Teknologi Dasar menurut HJ. Grover dapat didefinisikan
sebagai pendidikan untuk massa depan yang memberi anak-anak muda kesempatan untuk mempelajari berbagai jenis bahan, proses, produk industri dan permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan dan pekerjaan dalam dunia teknologi (SLO, basic Technology Education, Nov. 1995). Definisi secara acurat sulit untuk diberikan karena teknologi berubah secara cepat.
Pendidikan Teknologi Dasar bertujuan memperkenalkan dan membiasakan
para siswa-siswi terhadap dunia teknologi dengan aspek-aspek penting yang memungkinkan siswa dapat :
1. Mengembangkan berpikir kritis terhadap teknologi.
2. Mengembangkan kemampuan berpendapat tentang teknologi dan
mampu menggambarkannya pada orang lain.
3. Mengidentifikasi dampak teknologi baik yang positif maupun
yang negatif terhadap masyarakat dan lingkungan.
4. Memiliki wawasan dalam memilih profesi dalam bidang teknologi
sehingga memiliki peran yang berarti di dalam masyarakat.
5. Memiliki motivasi untuk belajar lebih lanjut tentang teknologi.
6. Membiasakan diri bekerja sendiri dalam kebersamaan.
Teknologi bagi setiap anak dan masyarakat tidaklah sama, sebagai contoh
anak yang berada di Jakarta mempunyai pandangan tentang teknologi yang
sangat berbeda dengan anak yang berada di kota Menado, akan tetapi adan
teknologi yang bersifat umum. Selain itu pada saat ini dengan
perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat anak akan mempunyai pandangan
dasar tentang teknologi yang hampir sama dan menyadari bahwa teknologi
berkembang sangat pesat.
Dalam pendidikan teknologi dasar setiap siswa akan memperoleh
pengetahuan dan pemahaman terhadap tiga pilar teknologi yaitu :
1. Penangan produk teknologi.
Para siswa dapat menggunakan produk teknologi secara tepat
dan benar, baik berupa alat untuk memproduksi, maupun alat-alat ukur
(instrumen), sehingga memberi kesempatan kepada para siswa untuk
memahami kemampuan dan minatnya dalam bidang teknologi. Pada
bagian ini para siswa belajar tentang teknologi dengan praktek dan
praktikum dengan metoda pemecahan masalah dan pendekatan sistim.
2. Pembuatan produk teknik.
Para siswa diharapkan dapat menyadari bahwa teknologi sebagai suatu proses kegiatan yang dapat membuat sesuatu benda kerja
yang dapat berfungsi dan bermanfaat baik untuk dirinya sendiri
maupun untuk orang lain.Dalam bagian ini para siswa belajar bagaimana
membuat produk teknik atau benda kerja yang dapat berfungsi dengan cara
terlibat selama proses pembuatannya dan menggunakan produk teknologi
sebagai alatnya. Benda yang dibuat oleh siswa adalah benda yang
dapat berfungsi karena benda yang berfungsi akan memberikan motivasi
yang tinggi pada diri para siswa untuk belajar lebih lanjut.
Pada bagian ini para siswa akan belajar teknologi dasar dengan
metoda : alur produksi, kunjungan industri, pemecahan
masalahdan pendekatan sistim.
3. Teknologi dan masyarakat.
Teknologi sebagai suatu alat untuk memecahkan permasalahan
manusia. Disini terdapat hubungan yang erat antara teknologi
dengan ilmu pengetahuan lain di dalam masyarakat. Pada bagian ini para
siswa belajar dengan metoda kunjungan industri, pemecahan
masalah, alur produksi dan bekerja tematis.
Berdasarkan ketiga pilar tersebut diatas materi umum pendidikan dasar
teknologi dikembangkan, dengan koposisi sebagai berikut : (a) Penanganan
produk teknologi memerlukan waktu 30 %; (b) Pembuatan produk teknologi,
meerlukan waktu 35 %; (c) Hubungan antara teknologi dengan masyarakat,
memerlukan alokasi waktu 10 %. Sedangkan waktu yang tersisa sekitar 25
% dicadangkan untuk diisi dengan teknologi yang sifatnya lokal atau
sesuai dengan perkembangan teknologi yang yang ada didekat lingkungan para
siswa.
D. Buku Sumber.
1. ................., (1997) Basic Technology Education Curriculum
Indonesia, Educaplan, Enschede, The Netherlands.
2. Doornekamp, B.G. (1995). Technology in Dutch Primary Education,
National Institut for Curriculum Devellopment, The Netherlands.
3. Griffith, Alan K & Health, Nancy Parson, (1996), Student Secondary
view about Technology, Journal Research in Science & Technology
Education, Vol. 14, No. 2.
4. Sukadinata, Prof. Dr. Nana Syaodih, (1997) Pengembangan Kurikulum,
Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.