Artikel:
Demitologisasi Bencana


Judul: Demitologisasi Bencana
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENELITIAN / RESEARCH.
Nama & E-mail (Penulis): Edi Subkhan
Saya Mahasiswa di Universitas Negeri Semarang
Topik: Filsafat dan Bencana
Tanggal: 6 Juni 2007

Demitologisasi Bencana
Oleh Edi Subkhan*

Garuda terbakar pada pukul 07.00 WIB, tanggal 7-3-2007, dan nomor penerbangan GA-400, lalu orang sibuk "mengotak-atik gathuk" kata orang Jawa, yaitu mencocok-cocokkan antara yang terjadi yang disebut sebagai simbol dengan serangkaian mitos, ramalan, dan perhitungan klenik. Kenapa waktu dan tanggal ada kesamaan dengan seri pesawat Boeing, yakni 737; dan katanya pesawat terdampar di persawahan sekitar 400 meter dari ujung landasan, sama dengan nomor seri penerbangan, apa artinya?

Ya, itulah bangsa kita, yang masih dalam belenggu mitos, dan hampir-hampir semuanya ditafsirkan secara mitologis. Mitos adalah serangkaian keyakinan yang dianggap sakral, berbasis pada prasangka, seringkali berada di luar batas rasionalitas manusia yang belum tentu benar, dan sulit dibuktikan kebenarannya. Sebuah keyakinan yang belum tentu benar dijadikan mitos pada dasarnya bertujuan untuk melanggengkan status quo dari sebuah metanarasi, mempersatukan, menstabilkan kondisi, memberi harapan-harapan, bahkan menghegemoni, dan membodohi.

Oleh karenanya, dalam paradigma positivis, agama dan kepercayaan primitif dianggap mitos. Konsep bangsa sebagai imagined community-nya Ben Anderson adalah mitos, nasionalisme pun dinyatakan Lyotard (1989) sebagai mitos, keduanya berupaya menata sebuah peradaban dan masyarakat yang dicita-citakan -yang merupakan mitos pula. Bahkan para pemikir kritis mengatakan bahwa positivisme juga menjadi sebuah mitos dalam bangunan ilmu pengtahuan yang menganggap bahwa dirinya yang paling benar. Tampaknya sudah menjadi sifat dari mitos untuk selalu meyakinkan diri sebagai sebuah kebenaran yang tak terbantah. Walaupun begitu mitos tetap berada di antara ada dan tiada.

Demikian juga dengan Indonesia, berbagai bencana dan tragedi kecelakaan yang melanda bangsa Indonesia akhir-akhir ini pun tak sekadar dilihat dari perspektif ilmiah saja, tetapi juga secara mitologis. Tafsir mitologis pada hakikatnya berupaya mengungkap -meminjam istilahnya Immanuel Kant (1956)- noumena yang berada di balik phenomena. Tak seperti pengungkapan yang dilakukan oleh paradigma kritis yang mengasumsikan bahwa di balik fenomena terdapat jalinan kepentingan politis dan ideologis yang menghegemoni, maka mitologis justru lebih ke arah penafsiran metafisik.

Ironisnya, ketika semua pihak menafsirkan via mitos atas segala yang terjadi, termasuk bencana di negeri kita, maka masyarakat awam akan kian terlelap dalam alam mitos yang di luar jangkauan rasionalitas manusia. Hal ini berbahaya ketika merambah pada hal yang seharusnya diselesaikan secara empiris, seperti kasus kecelakaan, bencana, dan lainnya karena human error. Tafsir mitologis ini biasanya membuat masyarakat menjadi pesimis akan masa depan, takut bepergian walau dalam kondisi cuaca bagus hingga menimbulkan kepanikan nasional, baik dalam benak masing-masing individu maupun masyarakat umum. Inilah sisi negatif penafsiran mitologis.

Walaupun begitu, tafsir mitologis tetap sah saja digunakan untuk "menafsirkan" atas bencana, karena memang terdapat sesuatu yang tak dapat dijelaskan secara rasional semisal kecocokan antara simbol-simbol yang ditunjukkan dalam bencana dengan mitos tertentu. Bahkan mitos justru diperlukan ketika memang orang-orang sudah kehilangan daya hidup, misal mitos yang diperankan oleh agama, karena agama memberi harapan akan adanya alam setelah mati sebagai hal yang tak dapat dibuktikan secara empiris. Hal yang sama juga terdapat dalam konsep nasionalisme, ia menjadi mitos yang dibutuhkan oleh sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara, karena tanpa mitos nasionalisme, sudah barang tentu terjadi disintegrasi karena tiadanya loyalitas pada bangsa dan negara.

Akhirnya, efek negatif dan positif dari mitos adalah dua sisi mata uang yang sama. Adakalanya ia diperlukan sebagai upaya untuk memberikan harapan positif pada orang-orang yang putus asa. Terkadang ia diperlukan sebagai upaya pihak-pihak tertentu untuk menghegemoni dan membohongi masyarakat agar terlelap dalam ketidaktahuan, sebagaimana yang disinyalir paradigma kritis atas metanarasi. Namun ia harus ditolak ketika mengintervensi ranah empiris yang membutuhkan penyelesaian secara empiris pula.

Dalam kecelakaan yang menimba Garuda kemarin (7/3), mengaitkan simbol angka-angka dengan mitos tanpa dasar yang justru menimbulkan kepanikan masyarakat mestinya dijauhi. Termasuk ramalan beberapa "paranormal" yang di-blow up televisi yang telah menjadi mitos dengan pernyataan bahwa sampai 2008 masih akan terjadi bencana serupa, jangan sampai menimbulkan kepanikan. Walaupun begitu, kalaupun sebatas kewaspadaan berdasarkan mitos tak jadi masalah, asal jangan menganggapnya sebagai yang mutlak kebenarannya hingga menafikan rasionalitas. Di sisi lain, pendekatan ilmiah-empiris harus dilakukan ketika sebuah bencana memang berada dalam jangkauan rasionalitas manusia dan membutuhkan penyelesaian secara nyata.

Sekarang yang mestinya dilakukan adalah demitologisasi bencana yang negatif, dan membuat mitos yang positif atas bencana. Yakni membuat mitos yang dapat membuat bangsa Indonesia kembali percaya diri, mitos yang mengatakan kebesaran, keunggulan, dan ketabahan bangsa menghadapi ujian yang maha berat, karena kian berat sebuah ujian semakin tinggi pula derajat yang diuji. Bisakah?

* Edi Subkhan; Koordinator Komunitas Pendidikan untuk Masa Depan, peneliti dan konsultan, peminat kajian filsafat.

Saya Edi Subkhan setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah


Print Halaman Ini