Artikel:
S-2 Laris Manis dll


Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.
Nama & E-mail (Penulis): R. J. Kadarisman
Saya Guru di SMKN 6 Samarinda
Tanggal: 28 Februari 2003
Judul Artikel: S-2 Laris Manis dll
Topik: perbaikan kesejahterann dll

Artikel:

Istri Mudaku.. Memang Ok
Oleh : R.J.Kadarisman

Abang biru lampune disko
Sirah mumet mas, mikir bojo loro..
Bojo sing enom njaluk disayang
Sing tuwo ra gelem ditinggal..

SEPENGGAL lagu yang sangat berkesan sekali dan serasa pas untuk direnungkan .. Memang berat kalau sudah terlanjur beristri dua,semua minta perhatian dan kasih sayang yang sama dan sudah barang tentu semua menuntut keadilan.

Syair ini rupanya juga pas untuk kehidupan para guru yang saat ini "beristri dua", atau bahkan lebih. Eit .. nanti dulu dan jangan " Negatif Thinking " dalam menanggapi pernyataan di atas. Yang dimaksud dengan Bojo loro dalam pembicaraan kita kali ini ialah bapak dan ibu guru yang notabene"selalu kurang terus" atau mungkin lebih jelasnya, para guru negeri alias PNS yang juga mengajar di sekolah luar negeri alias sekolah swasta yang tentunya dapat merugikan sekolah yang menjadi induknya alias sang "istri pertama". Kalau kita simak dengan saksama tayangan-tayang di televisi yang menggambarkan dimana seorang suami yang beristri lebih dari satu. Banyak alasan yang dapat diutarakan mengapa si suami melakukan tindakan ini, bisa karena ingin punya anak laki, karena sang istri tua tidak mampu memberikan keturunan yang dinginkan, atau mungkin juga dapat ditinjau dari segi service yang kurang updoll.Bisa jadi sang istri muda mampu memberikan pelayanan yang oke sedang istri tua mungkin sudah "turun mesin" alias old crack sehingga kurang gesit dan agresif dalam melayani sang suami.Pun begitu juga apabila ada seorang guru yang mengajar lebih dari satu tempat, ada berbagai macam penyebab. Salah satunya juga service yang memuaskan dari "istri kedua" baik dalam bentuk pemberian jabatan tertentu dan ditunjang pula dengan insentif yang oke pula. Sehingga terkadang Ia lebih cenderung mengutamakan "istri muda" yang cantik dan molek meskipun sang istri tua sebenarnya juga mampu, namun terbentur oleh faktor - faktor non teknis.

Bagi mereka pokoke "Kanan Kiri Oke Son .." alias di sini aman di sana senang karena penghasilan juga meningkat dan besok golongan cepat terangkat.Apakah memang begini mentalitas guru-guru kita, yang katanya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. ?? Weleh .. weleh .. tak Uk Uk nya.. (kata si Komo). Adakah dalam lubuk hati para guru ini pernah merasakan tangis dan rasa cemburu dari siswa/siswi mereka yang seakan-akan tidak rela apabila para guru yang mereka cintai dan juga sarana dan prasarana yang mereka miliki dari hasil tetesan keringat dan airmata ayah dan ibu mereka digunakan oleh anak-anak dari luar lingkup mereka demi "kepulan asap dapur ? "Ibarat seorang ayah yang harus membagi perhatian dan kasih sayang pada dua anak nya dari ibu yang berbeda ? Mampukah sang ayah bersikap adil dan bijaksana serta tidak pilih kasih ? Pertanyaan untuk dunia pendidikan mau dibawa kemana perjalanan pendidikan kita, apabila mentalitas dan dedikasi serta pengabdian guru-guru kita harus dikalahkan dengan tuntutan perut ?? Masih murnikah pengabdian dan dedikasi para guru di masa kini, atau sudah harus hilangkah semboyan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" dan berganti menjadi "Pahlawan Penjual Jasa".Pak Menteri,pak Dirjen, pak kepala dinas mau dibawa kemana dunia pendidikan kita ???? ***

S-2 Laris Manis ... Oleh : R.J.Kadarisman

" Selamat siang, kenalkan nama saya Drs. Panurata, MM, MSi, MSc, Mber.... Oleh pimpinan saya ditunjuk untuk memimpin lembaga ini selama kurun waktu tertentu, dan saya berharap dapat bekerjasama dengan saudara-saudara sekalian." Sebelumnya saya adalah kepala sekolah SMU "Kada Jelas" yang cukup ternama di kota ini. Dan di belakang nama saya ini masih saya cantumkan sederetan title yang saya miliki. Jangan salah lho, Saya menyelesaikan studi S2 dalam waktu yang relatif bersamaan, dan tindak tanggung-tanggung saya adalah alumni dari beberapa perguruan tinggi ternama." Kata sang kepala sekolah dalam acara perkenalan di suatu jamuan sederhana.

Hebat dan heboooh, di zaman yang serba aneh ini, segala sesuatu mungkin saja terjadi. Sebagaimana peristiwa di atas. Sebuah potret pendidikan yang kita jumpai di masyarakat, dan mungkin ini sedang in dan trend serta menjadi wabah bahwa para kepala sekolah tingkat SMU/SMK dan juga di lingkungan Diknas harus bergelar S-2. Sedemikian hebat dan "ampuhkah" gelar yang mereka miliki untuk turut memikirkan konsep pendidikan. Boro-boro berfikir untuk perbaikan kualitas pendidikan, mungkin gagasan untuk peningkatan mutu blas tidak ada sama sekali.

Sebenarnya apa sih yang didambakan dari gelar ini ?? Kalau toh pada akhirnya tdak mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan secara signifikan ?? Keberhasilan sekolah bukan terletak pada background kepala sekolah yang bergelar master, namun lebih ditentukan oleh kemampuan untuk mengorganisir semua potensi yang ada di lembaga itu sendiri.Seorang guru pada sebuah sekolah pernah mengeluh bahwa di sekolahnya dalam satu tahun sudah ganti kepala sekolah sampai tiga kali, baginya hal itu tidaklah penting. Meskipun dalam sehari kepala sekolah tempat dia mengajar berganti seratus kali tidak akan berpengaruh pada dirinya. Saat ditanya mengapa, dengan enteng dia menjawab : " Karena Saya cuma guru honor yang tidak akan pernah direken ( dihitung), mendingan Tessy atau Timbul yang jadi kepala sekolah di sini !! Biar tiap hari bisa tertawa". Sebuah pengakuan yang lugu dan jujur dari seorang guru honor yang sudah mengabdi selama hampir empat tahun.Menurutnya hal ini patut dicatakan dalam MURI (Museum Rekor Indonesia ) sebagai suatu prestasi gemilang yang patut diketahui khalayak, dan mungkin tidak ada duanya di Indonesia. Dapat dibayangkan bila dalam waktu singkat sebuah sekolah negeri dapat berganti pimpinan sampai sekian kali, inilah salah satu bukti tidak becusnya kaum birokrat di pemerintahan, meskipun mereka banyak yang bergelar master.....( sampai-sampai mungkin ada juga yang bergelar Drunken Master alias sang Dewa Mabuk ), untuk mensikapi kejadian di atas ternyata tidak mampu.

Ada pengalaman berharga yang dapat diungkapkan pada kesempatan ini, dimana penulis melihat dari dekat betapa bobroknya mutu Pendidikan Magister. Saat penulis mendampingi seorang kolega menyelesaikan tesis S-2nya di kota Yogyakarta, para mahasiswa program S-2 dari kota tepian yang terdiri dari wakil rakyat, istri pejabat pemerintah dan juga praktisi hukum, banyak yang mengambil jalan pintas untuk meraih gelar bergengsi ini. Saat uji kemampuan bahasa Inggris, banyak diantara mereka menempuh cara-cara yang sudah tidak bukan rahasia lagi. Itu dari segi kemampuan TOEFL apalagi bila ditinjau dari segi isi tesis mereka ... waooo .. mantap.. ( kata Mastur dalam iklan multi roof ).

Inilah realita pendidikan di negeri ini, yang terkadang amat sangat memalukan. Bagaimana beliau-beliau dapat memberikan teladan yang baik untuk putra-putri dan masyarakat kalau mereka sendiri melakukan praktik yang tercela !! Para Magister yang terhormat apa jawabmu ...???? ***
==================

SARJANA TINGGAL TUNGGU NASIB !!
Oleh : R.J.Kadarisman


Engkau sarjana muda..
Susah mencari kerja..
Mengandalkan ijazah mu..

Syair lagu Iwan Fals yang benar-benar pas untuk sebuah realita kehidupan sarjana saat ini. Melihat kenyataan hidup yang ada di depan mata, sedih rasanya. Sarjana yang notabene putra-putri terbaik harus terpuruk dan menanti uluran tangan para pemegang kebijakan publik untuk mempekerjakan mereka. Sebenarnya mereka bukanlah orang-orang bodoh yang tidak bisa bekerja, namun justru belum dan mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuan yang mereka miliki. Namun coba tengok di jalan-jalan dan di pusat perbelanjaan kerap kita lihat pada jam-jam sibuk banyak sekali anggota Pekerja Nan Santai ini yang berkeliaran dan lalu lalang dengan uniform kebanggaan mereka. Itu yang tampak di depan mata, bagaimana dengan kondisi di kantor Pemerintahan ??? Mungkin lebih parah lagi, mereka hadir pukul 09.00 dan jam 10. 00 sudah baca koran dan jam 12.00 istirahat pulang sampai jam 14.00 dst. Apakah ini yang dikatakan produktif ???

Sementara itu, para sarjana dengan IP (Indeks Prestasi) gemilang, masih harus berjuang dan menanti dengan penuh kesabaran kapan saatnya untuk diberi kesempatan ?

Kalau dulu ketika menempuh kuliah, mereka dengan penuh harap kelak bila selesai studi dapat bekerja di instansi terhormat ini.

Dan saat wisuda, seluruh anggota keluarga turut mendampingi di hajatan yang mungkin belum pernah mereka lihat sebelumnya, dan mungkin moment ini sekali seumur hidup. Orang tua, Ninik Mamak, Teteh, Julak, dan Tante berduyun-duyun datang dari kampung bersandal jepit dan berbekal makanan turut mengekspresikan kegembiraan mereka. Inilah kebahagia semu yang mereka rasakan saat itu, karena telah lepas dari beban dan tanggung jawab moral dari keluarga. Namun perjuangan belum usai, pertempuran masih akan berlanjut dan tarikan nafas untuk bersabar harus terus-menerus dihembuskan. Apakah sudah tertutup pintu pekerjaan saat ini ??

Lapangan kerja dan pekerjaan masih cukup banyak. Tapi mengapa mereka tidak dapat bekerja ??

Jawabnya !!! Yang bayar tidak ada.

Sarjana Indonesia sampai kapan engkau menunggu dalam ketidakpastian ? Ataukah sudah suratan takdir kalau engkau harus menunggu dan meratapi nasib. ***
=========================

Sarjana Tanda Tangan Lulus
Oleh : R.J.Kadarisman

" Mau kemana om, minggu-minggu kok enggak ikutan mbersihin kampung, malah bawa buku tebel. Lha kok bajunya setil (rapi dan trendy)" tanya seorang bocah pada sang paman.
" Om mau pergi kuliah " jawab sang paman datar. Masih tidak puas dengan jawaban tadi sang bocah bertanya lagi:
" Kuliah , emang ada kuliah hari Minggu, jangan-jangan om mau apel ya " Kata sang bocah lagi.
" Hus, anak kecil tahu apa, gini-gini om sudah semester akhir lho, meski kuliahnya cuma Sabtu - Minggu kayak perkemahan pramuka, yang penting khan kuliah dan ada embel-embelnya besok. Sana main aja, kencing belum lurus aja banyak nanya... dasar sontoloyo " kata sang paman dengan nada tinggi mengusir si bocah.

Sambil ngeloyor pergi Sontoloyo cuman bilang : " iya seperti bapaknya Panjul, kuliah enggak pernah, tahu-tahu besok wisuda ya Om. Katanya sih bapaknya Panjul lulusan STTL alias Sarjana Tanda Tangan Lulus " kata si bocah setengah mengejek.

Ya inilah realita dunia pendidikan kita, kalau mau jujur dibeberapa kabupaten sejalan dengan semangat otonomi daerah dan gerakan giat belajar, telah bermunculan perguruan tinggi baik yang berafiliasi dengan PT di daerah lain yang menawarkan masa kuliah singkat tapi dapat gelar. Mulai dari PT yang katanya ada kerjasama dengan PTN ternama di P. Jawa dan Sulawesi sampai-sampai PT yang menggunakan nama Raja-raja zaman dulu. Mungkin saja tanpa ada seleksi yang ketat dari Kopertis ada PT yang diberi nama Universitas Mpu Gandring, Sekolah Tinggi Ken Arok dan lain sebagainya. Dalam liflet dan selebaran promosi yang dicetak dengan kertas deluxe menawarkan biaya murah dan waktu tempuh hanya 2 tahun dapat gelar S-1. Bahkan yang paling menggelikan lagi para mahasiswanya banyak berasal dari unsur dunia pendidikan dan pegawai tingkat desa dan kecamatan. Yang notabene memahami model perkuliahan dan juga output yang akan dihasilkan. Sebutlah Kepala SD anu, pegawai kantor Diknas, staf ahli kelurahan dan kecamatan ikut-ikutan mengambil program ini. Selentingan yang beredar sih biar tambah keren dan bisa ikutan ngomong di sana -sini dalam berbagai forum pertemuan kalangan intelek (katanya) di tingkat desa dan kecamatan. Selain itu juga tidak mau kalah dengan bapak-bapak pejabat daerah yang juga bergelar MM, MSi, MPd, M......ber.

Fenomena menarik dari sebuah bangsa yang masyarakatnya baru saja bangun dari tidur panjang dan setengah terperanjat akan adanya perubahan paradigma pendidikan. Mereka berlomba-lomba untuk ikut menyemarakan eforia " Pendidikan adalah kunci Masa depan. "

Pendapat itu sah-sah saja dan tak ada yang melarang, namun ya harus dilihat pendidikan model yang bagaimana yang harus diikuti, bukan hanya sebatas mengejar title dan gelar kesarjanaan saja yang pada akhirnya berbuntut pada pelecehan gelar akademik seperti judul dia atas " Sarjana Tanda Tangan Lulus". Dan memang ini telah terjadi di sekitar kita. Tak pernah masuk dan hanya titip tanda tangan atau masuk tempo-tempo dua tahun kemudian lulus. Yang penting SPP lancar dan ada THR untuk dosen pasti lancar. Apakah memang ini yang sedang kita cari dari sebuah bangsa yang pernah merasakan pembodohan dan pembatasan hak untuk meraih pendidikan yang layak. Akhirnya semua dikembalikan pada diri masing-masing apakah para sarjana STTL ini siap untuk dan berani untuk terjun kemasyarakat dan berperan aktif di masyarakat sebagai tuntunan dan bukan menjadi Tontonan. Kalau masih hanya sebatas duduk dan mendengarkan pendapat orang lain, dan tidak mampu mengambil peran aktif kiranya hanya ucapan Selamat menjadi Sarjana Tanda Tangan Lulus yang layak diberikan.***

Saya R. J. Kadarisman setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright).

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah



Print Halaman Ini