Artikel:
Ironi: Politik Dominasi dalam Bahasa Indonesia


This material is suitable for: Public Information / Education bagian BAHASA / LANGUAGES Nama (Author): mohammad arif
E-mail (Author): mohamad_arief@fmi.com
I'm a Teacher at YPJ School, Tembagapura. Papua
Topic: OPTIONAL
Date: 16-05-2007


Ironi: Politik Dominasi dalam Bahasa Indonesia
Oleh : Mohammad Arif


Pada awal 1990-an sepanjang jalan di beberapa kota besar, banyak petugas berseragam coklat sibuk membaca papan reklame dan papan toko. Dengan sekaleng cat dan kuas di tangan, para petugas memberi tanda silang pada setiap papan yang dianggap menggunakan bahasa asing (= inggris). Setelah papan di coret, petugas segera mendatangi pemilik toko dan mengingatkan untuk menggantinya dengan tulisan yang baru, yang menggunakan ejaan dan tulisan berbahasa Indonesia. Jika belum digantikan dalam satu bulan setelah menerima peringatan, pemilik toko akan dikenakan denda. Beberapa toko segera menggantinya, meski dengan terpaksa, ada juga yang tetap tidak mau menggatinya dengan ejaan yang baru. Salah satu contoh yanng sampai kini masih bisa kita lihat adalah papan nama sebuah toko yang ada di jalan A. Yani, Surabaya. Sebuah papan reklame produk rokok dengan kalimat "Welcome to Marlboro Country" penuh garis silang. Toko sudah lama tutup, pintu besinya sudah rapuh berkarat, temboknya sudah berlumut tak terawat.

Peristiwa di atas, konon bermula dari kegelisahan seorang menteri ketika berlibur ke Bali dan melihat hampir tidak ada lagi papan nama yang menggunakan bahasa Indonesia, dia merasa seolah-olah di negeri yang jauh. Kegelisahan seorang menteri adalah perintah bagi semua bawahannya, dari Sabang sampai Merauke, tipikal pemerintahan Jawa yang feodalistik. Ironisnya pada tahun yang sama, seorang menteri yang lain sedang giat-giatnya menjaring wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia. Sang menteri kemudian membuat program dengan nama VISIT INDONESIA YEAR 1991, maka demi rasa solidaritas sesama menteri, atau takut dibilang tidak adanya koordinasi sesama menteri dalam membuat program, VISIT INDONESIA YEAR 1991 diubah menjadi TAHUN KUNJUNGAN INDONESIA 1991. Meski secara gramatikal kalimat TAHUN KUNJUNGAN INDONESIA 1991 adalah aneh dan salah, tetapi bukan itu yang menjadi keprihatinan kita. Ironi yang dipamerkan adalah kelucuan yang sangat tidak menghibur. Para wisatawan berdatangan tetapi kemudian bingung karena melihat semuanya jadi serba aneh penuh coretan dan tampak kotor.

Semangat nasionalisasi bahasa itu bertahan hingga tahun 1998, ketika semua berakhir, kemapanan, kekukasaan, dan satabilitas. Sebuah tirani jatuh dikuti pembangkangan luar biasa di mana-mana. Tidak seorangpun kemudian peduli pada kegelisahan sang menteri. Kegelisahan akan hilangnya bahasa Indonesia dari jalanan di Republik Indonesia. Hingga kemudian tiba-tiba kita dikagetkan munculnya istilah baru di kalangan remaja Indonesia, gaul. Kata gaul digunakan sebagai kata ganti dari trendy, fashionable dalam gaya hidup pop. Semua yang tampil dengan masa kini disebut gaul. Gaul diantonimkan dengan kata kuno, ketinggalan jaman. Sebuah editorial majalah remaja menyambut baik kemunculan istilah ini, lebih akrab didengar dan lebih Indonesia daripada kata trendy. Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa kata gaul adalah adaptasi dari kata arab, Hawl yang berarti teman. Ironi kembali muncul.

Setelah menikmati beberapa ironi di atas, sekarang marilah kita melihat kembali sejarah pemunculan Bahasa Indonesia. Berawal dari moment berkumpulnya sekelompok pemuda dari beberapa daerah yang merupakan jajahan Belanda pada tahun 1928, lahirlah Sumpah Pemuda. Dalam Sumpah Pemuda inilah disepakati pemakaian Bahasa yang secara pemakainya adalah minoritas, sebagai Bahasa Nasional. Bahasa minoritas itu adalah Bahasa Melayu. Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, justru pemuda Jawa yang paling gigih mengusulkan pemakaian Bahasa Melayu sebagai Bahasa Nasional, kemudian dikenal sebagai Bahasa Indonesia. Para pemuda Jawa sadar, bahasa Jawa terlalu feodalistik, sehingga tidak cocok digunakan sebagai Bahasa Nasional dalam menuju Indonesia yang modern, yang salah satu semangatnya adalah persamaan hak, Egalitarianism. Meski Bahasa Jawa lebih kaya secara literer, tetapi Bahasa Melayu dianggap lebih mampu mendukung nilai-nilai kemodernan.

Namun masalah belum selesai, karena Bahasa Melayu yang digunakan adalah Bahasa Sumatera, dan suku-suku Melayu dan Minang adalah suku yang mengalami proses Islamisasi yang berat. Berbeda dengan Jawa yang proses masuknya Islam banyak mengalami akulturasi dan adaptasi, hal ini tampak dalam peninggalan bangunan Masjid Demak yangn secara arsitektur mengadopsi penuh bangunan candi Hindu. Sumatera lain, Islam masuk dan dibawa oleh orang-orang yanng memiliki antusisme yang tinggi terhadap kekuasaan dan dominasi. Adaptasi sangat minim dilakukan, salah satu contoh yang bisa kita saksikan sampai sekarang adalah tari-tarian yang berkembang di Sumatera, adalah tari-tarian padang pasir yang digabung dengan tarian masyarakat pesisir pantai, jadilah tarian Aceh dan juga Padang. Gairah dominasi itu hingga kini masih muncul dengan ide-ide pemberlakuan syariat Islam di banyak wilayah Sumatera. Walaupun beberapa bagian pulau Jawa juga ikut latah dengan ide ini, tak lebih itu hanya sebagai komoditas politik menjaring pemilih menghadapi pemilu lima tahunan. Ada juga yang menyebutkan Islam yang berkembang di Sumatera adalah Islam Wahabi, yang cenderung fundamental tanpa kompromi.

Khasanah Islam (=Timur Tengah) mendominasi produk-produk lokal, salah satunya adalah bahasa. Ini meninggalkan ciri-ciri permanen tertentu dalam bahasa kita. Ciri-ciri keislaman itu salah satunya tercermin dalam 'nomenklatur' perpoplitikan resmi dalam bahasa Indonesia.Terbukti dalam ungkapan yang pernah disindir oleh Nurcholis Majid dalam Essaynya yang berjudul "Islam dan Demokrasi".

"Wakil-wakil rakyat dalam Dewan dan Majelis bersama ahli-ahli dari Mahkamah dan Kehakiman, secara musyawarah dan mufakat membahas masalah hak-hak dan asasi, hukum , ketertiban umum dan keamanan sebagai syarat mutlak terwujudnya, masyarakat adil dan makmur, dan hasilnya melalui maklumat resmi akan disiarkan ke daerah-daerah dan wilayah-wilayah".

Dengan membaca secara sekilas saja, orang akan tahu kekentalan khasanah keislaman dalam ungkapan di atas. Kecuali kata-kata penghubungnya, semua istilah berasal dari bahasa Arab. Itu hanya sedikit contoh dari sekian banyak kasus yang ada dalam gejala Bahasa Indonesia. Jika sudah demikian, apakah salah kalau kita lantas menduga apa sebetulnya yang menjadi sumber kegelisahan sang menteri. Nasionalisme atau justru kekhawatiran akan lunturnya sebuah dominasi?

I mohammad arif agree that the materials being sent can be used on the Pendidikan Network homepages and guarantee that these materials are my own products and not subject to copyright.

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah



Print Halaman Ini