
|
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Nama & E-mail (Penulis): Nurdin Somantri Saya Guru di SMU 8 Yogyakarta Tanggal: 26 Januari 2003 Judul Artikel: Penerapan Metode Simulasi Tematis Untuk Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris siswa Topik: Metode Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Artikel: Ini naskah lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tahun 2002 lalu. Meskipun belum berhasil memenangkan lomba tersebut, tetapi saya melihat penting untuk diketahui publik.Semoga bermanfaat. BAB I Mencoba melihat kondisi sekarang sekolah masih dianggap suatu aktifitas yang menyenangkan oleh sebagian siswa justru di luar jam pelajaran tetapi jika di dalam jam pelajaran adalah suatu aktifitas yang membebani. Belum ada penelitian yang khusus mengkaji tentang hal tersebut, tetapi sepanjang pengamatan penulis, jika para siswa berada di kelas mereka inginnya keluar kelas atau pulang, jika ada pengumuman pulang pagi, atau libur, mereka gembiranya tidak kepalang, bersorak sorai, seolah terlepas dari beban berat yang menghimpit. Hal serupa juga terjadi pada diri penulis dan mungkin guru yang lain. Rasanya pergi ke sekolah bukan lagi sebagai kegiatan yang diidam-idamkan ketika pertama kali melamar menjadi guru tetapi sudah cenderung menjadi rutinitas. Apa yang penulis rasakan sepertinya cocok dengan karakter guru yang dikemukan Zamroni dalam bukunya Paradigma Pendidikan Masa Depan. Ada lima karakter kerja guru. Kelima karakter tersebut adalah pertama, pekerjaan guru bersifat individualistis non colaboratif, kedua dilakukan dalam ruang terisolir dan menyerap seluruh waktu, ketiga kemungkinan terjadinya kontak akademis antar guru rendah, keempat tidak pernah mendapatkan umpan balik, dan kelima pekerjaan guru memerlukan waktu untuk mendukung waktu kerja di ruang kelas (Zamroni, 2000:76). Senada dengan itu Paul Suparno mengemukakan alasan mengapa guru sulit melakukan perubahan antara lain pertama, guru sering tidak jelas mengerti apa isi kurikulum baru ataupun perubahan yang diinginkan. Kedua, banyak guru meragukan perubahan atau pembaruan yang ada. Ketiga banyak guru lama telah bertahun-tahun terbiasa dengan cara mereka yang mapan dan sudah merasa enak. Keempat, moral guru sebagai tukang yang pasif dan menanti. Kelima penghargaan guru yang kecil. Keenam, pendidikan guru yang statis. Ketujuh, tugas guru dipahami sebagai konservatif. Kedelapan, menjadi guru karena terpaksa (Suparno, 2002: 4). Padahal dalam sistem pendidikan kita guru itu adalah sentral. Sebagai pusat, apa konsekuensi bagi guru apabila hasil pembelajaran tidak menghasilkan generasi yang diharapkan? Kritik terhadap guru datang dari mana-mana. Musman Hadiatmadja, 20 tahun yang lalu, mengatakan bahwa guru lebih tepat disebut melaksanakan mengajar saja secara tradisional dan konservatif. Tradisional karena melaksanakan tugas dengan mendasarkan diri pada tradisi atau apa yang telah dilaksanakan oleh para guru terdahulu tanpa ada usaha memperbaiki dengan daya kreasi yang ada padanya. Konservatif karena bertindak secara kolot menurut cara-cara lama yang kurang atau tidak sesuai dengan perubahan dan kemajuan jaman. Akibatnya siswa dijejali dengan berbagai pengetahuan sesuai kehendak guru atau kurikulum karena siswa adalah ibarat botol kosong yang tidak diberi kesempatan berfikir, mengolah atau mencerna apalagi berkreasi. Mereka pasif dan reseptif saja (Hadiatmadja, 1982:39). Mungkin sebagian guru masih seperti itu, sering penulis masuk kelas menemukan situasi yang tidak menyenangkan. Penglihatan para siswa sayu, raganya nampak ada di depan penulis, tetapi pandangannya kosong. Penulis mencoba menghidupkan situasi, dan berhasil untuk saat tersebut, tetapi pada kesempatan berikutnya keadaan itu tidak berubah. Apa yang harus penulis lakukan? Di sisi lain penulis melihat keanehan atas kondisi kemampuan Bahasa Inggris para siswa. Sudah minimal 4 tahun mereka belajar Bahasa Inggris, dari SLTP kelas 1 sampai dengan SMU kelas 1, bahkan ada yang mulai kelas 4 SD, tetapi mengapa sebagian besar mereka masih belum mampu berbicara Bahasa Inggris? Jika kita melihat input prestasi siswa ketika masuk, di sekolah swasta yang belum begitu baik, mungkin saja mereka tidak mampu berbahasa Inggris karena nilai EBTANAS Bahasa Inggris mereka rata-rata di bawah 5, tetapi di sekolah negeri favoritpun hal tersebut terjadi juga, padahal rata-rata nilai masuk mereka adalah 7 ke atas. Bahkan penulis pernah menemukan beberapa siswa yang nilai EBTANAS Bahasa Inggris SLTP-nya 10, tetapi mereka tidak bisa berkomunikasi dengan penulis. Mungkin ini yang disebut oleh Zamroni sebagai dampak problem pendidikan kita yang pertama, cenderung menjadi stratifikasi sosial. Kedua, pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer the dead knowledge, pengetahuan yang telalu bersifat text bookish yang ibarat sudah diceraikan baik dari akar sumbernya maupun aplikasinya karena tersusun dalam struktur yang bersifat rigid, manajemen bersifat sentralistis, kurikulum penuh dengan pengetahuan dan teori-teori (Zamroni, Ibid.:2-5). Penulis sering mempertanyakan bagaimana para siswa akan mensiasati hidup mereka padahal dunia mereka adalah dunia global yang penuh dengan komunikasi dalam Bahasa Inggris? Sebagai contoh internet, mereka mungkin tidak gagap teknologi karena mereka cukup mengenal kemajuan teknologi tersebut, tetapi Bahasa pergaulan yang dipakai sehubungan dengan teknologi tersebut adalah Bahasa Inggris, bagaimana mereka bisa menang dalam kompetisi global tersebut? Dari dua kenyataan tersebut, suasana belajar yang tidak menyenangkan, proses pembelajaran Bahasa Inggris yang belum berhasil meski sudah bertahun-tahun, menyiratkan ada masalah yang menghadang di hadapan kita. Menyadari hal tersebut, penulis banyak bertanya kepada para senior baik di lingkungan SMU 8 Yogyakarta sendiri maupun di forum MGMP. Penulis juga mencoba berkirim email di situs-situs Bahasa Inggris dan saling bertukar pikiran dan pendapat dengan mereka. Dari banyak persinggungan dengan banyak pihak tersebut penulis mendapatkan ide untuk membuat media bantu yang disamping murah juga membantu penulis meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris para siswa khususnya speaking sekaligus membuat suasana kelas menyenangkan bagi para siswa. Media bantu tersebut adalah berbentuk papan simulasi yang sederhana yang bisa dibuat secara manual atau dengan komputer, dari karton atau papan. Selain itu dibutuhkan dadu dan beberapa asesoris sebagai identitas. Dan yang lebih penting adalah kumpulan pertanyaan atau instruksi yang sesuai dengan tema yang kita bawakan di kelas. Untuk tujuan ini penulis membuat contoh tema Culture and Art, tahun lalu penulis membuat yang berkaitan dengan tema Work. Untuk kegiatan ekstra kurikuler penulis pernah membuat tema Tourism (tema untuk kelas I), sedangkan untuk kelas tiga tema Women Role. Media tersebut tidak saja bisa difokuskan pada speaking tetapi juga bisa digabungkan dengan bermain peran dalam bentuk instruksi. Bermain peran bisa juga dalam bentuk hukuman yang ditentukan oleh kelompok. Hal ini merupakan penjabaran dari pepatah cina yang mengatakan "Saya dengar dan saya lupa, saya lihat dan saya ingat, saya kerjakan dan saya mengerti". Sepanjang pengalaman penulis, media ini sangat cocok dipakai di kelas yang siswanya sudah mendapatkan materi untuk komunikasi dasar atau sederhana khususnya kelas 2 SMU. B. Permasalahan C. Tujuan
2. Untuk memberikan suatu gambaran bagi para rekan sejawat, membuka wawasan bahwa mereka bisa menggunakan metode simulasi tematis selain metode yang ada untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris siswa. 3. Sebagai alat bantu untuk memperlancar proses tanya jawab tentang tema tertentu dengan pendekatan teman sebagai tutor sebaya dengan demikian diharapkan terjadi pemahaman yang lebih baik atas tema yang dibawakan di kelas. 4. Suapaya siswa berlatih untuk memiliki rasa percaya diri dengan mengurangi peran dominan guru, sehingga mereka dapat mengungkapan kemampuannya, berlatih speaking secara bebas dan leluasa. 5. Untuk melihat apakah ada perubahan kemampuan para siswa yang signifikan setelah dilakukan metode simulasi tematis baik itu dalam pemahaman, speaking maupun writing. D. Pengertian Kelompok, karena harus dilakukan secara berkelompok minimal 2 orang. Untuk kelas klasikal idealnya beranggotakan 5 - 6 siswa. Pembagian kelas ke dalam kelompok-kelompok kecil bisa menjadi solusi masalah-masalah pembelajaran Bahasa Inggris. Salah satu keuntungan yang jelas adalah dapat mendorong anggota kelompok untuk secara aktif melakukan apa yang telah menjadi kesepakatan kelompok tersebut. BAB II Berikut ini hasil angket yang dilakukan pada tanggal 21 Agustus 2002. Dari 6 kelas, hadir 240 siswa/responden. Sebanyak 63 siswa atau 26,25% merasa bingung dan tidak tahu harus menjawab apa apabila guru Bahasa Inggris bertanya atau berbicara kepada mereka. Sebanyak 57 siswa atau 23,75% merasa nervous, 18 siswa (7,5%) merasa kadang-kadang mengerti kadang-kadang tidak dan karenanya menjawab semampunya, 28 siswa (11,67%) memilih diam saja, yang merasa biasanya sama sekali tidak mengerti pertanyaan atau pembicaraan guru tersebut sebanyak 15 siswa (6,25%), 1 siswa (0,42%) merasa nervous dan tidak tahu harus menjawab apa, dan 2 siswa (0,84%) tidak menjawab. Sedangkan yang merasa percaya diri dan menjawab/merespon guru tersebut kurang dari seperempatnya yakni hanya 56 siswa (23,33%) saja. Rasa percaya diri siswa justeru muncul jika yang mengajukan pertanyaan atau mengajak berbicara Bahasa Inggris tersebut adalah teman sekelas/sebaya dengan mereka yakni ada 173 siswa (72,08%). Sedangkan yang merasa tidak mengerti pembicaraan teman mereka ada 3 siswa (1,25%), yang merasa tidak tahu harus menjawab apa ada 21 siswa (8,75%), nervous ada 12 siswa (5%), memilih tetap diam saja ada 17 siswa (7,08%), menjawab semampunya ada 10 siswa (4,17%), sedangkan sisanya tetap tidak tahu harus menjawab apa sebanyak 21 siswa (8,75%) dan tidak memilih ada 4 siswa (1,67%). Kondisi demikian bisa terjadi karena berdasarkan pengakuan mereka, yang merasa bagus sekali kemampuan berbicara Bahasa Inggrisnya hanya 1 orang (0,42%), merasa bagus ada 6 siswa (2,5%) merasa buruk 76 siswa (31,67%), buruk sekali ada 13 siswa (5,42%) sedangkan bagian terbesar merasa sedang-sedang saja yakni sebanyak 141 siswa (58,75%). Siswa yang merasa kemampuan berbicara Bahasa Inggrisnya bagus sekali memberikan bukti bahwa orang asing dan guru Bahasa Inggris jika berbicara dengannya sangat mengerti perkataannya dan tidak ada kesalahpahaman. Yang merasa kualitasnya bagus, 1 orang (16,67%) memberikan bukti bahwa orang asing mengerti perkataannya dan tidak ada kesalahpahaman, 2 orang (33,33%) memberi bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris mengerti perkataannya tetapi kadang-kadang ada kesalahpahaman, sedangkan 3 orang (50%) memberi bukti bahwa guru Bahasa Inggris mengerti perkataanya dan tidak ada kesalahpahaman. Jumlah terbesar, 69 siswa (48,94%), merasa berkemampuan bicara sedang dengan memberikan bukti bahwa guru Bahasa Inggris cukup mengerti perkataan mereka dan kadang-kadang ada kesalahpahaman, sebanyak 50 siswa (35,46) memberikan bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris cukup mengerti perkataan mereka dan kadang-kadang ada kesalahpahaman, 4 siswa (2,84%) merasa orang asing cukup mengerti perkataan mereka dan kadang-kadang ada kesalahpahaman, sedangkan sisanya sebanyak 18 siswa (12,77%) merasa bahwa komunikasi mereka nyambung baik dengan teman atau guru meski memiliki lafal dan grammar yang salah. Mereka yang merasa berkemampuan speaking buruk, 28 siswa (36,84%) memberi bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris kadang-kadang mengerti kadang-kadang tidak perkataan mereka dan cukup sering terjadi kesalahpahaman, 18 siswa (23,68%) merasa guru Bahasa Inggris kadang-kadang mengerti kadang-kadang tidak perkataan mereka, 2 siswa (2,63%) merasa orang asing kadang-kadang mengerti kadang-kadang tidak perkataan mereka, 1 siswa (1,32%) tidak memberikan bukti apa-apa, sedangkan 27 siswa (35,53%) memberikan alasan beragam misalnya mereka dan orang lain sama-sama tidak mengerti, lafal dan grammar buruk, mengerti tetapi tidak bisa merespon, sering dikoreksi guru Bahasa Inggris jika bicara, atau tidak mengerti jika guru Bahasa Inggris bicara dalam Bahasa Inggris. Sebanyak 13 siswa merasa buruk sekali dengan perincian 6 siswa (46,15%) memberi bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris sama sekali tidak mengerti perkataan mereka kecuali yang sangat sederhana dan sering terjadi kesalahpahaman, 2 siswa (15,38%) merasa orang asing sama sekali tidak mengerti perkataan mereka kecuali yang sangat sederhana, 1 siswa (7,69%) merasa guru Bahasa Inggris sama sekali tidak mengerti perkataannya kecuali yang sangat sederhana, sedangkan sisanya 4 siswa (30,77%) memberi alasan bahwa mereka tidak mengerti perkataan mereka sendiri kecuali yang sederhana. Alasan-alasan bahwa kualitas speaking mereka termasuk dalam kategori tertentu didasarkan pada pengalaman mereka. Sebanyak 115 siswa (47,92%) pernah mendapatkan penilaian kualitas speaking, baik oleh teman sebangsa atau asing, orang tua atau anggota keluarga, juri perlombaan, instruktur kursus atau ekstra kurikuler, guru Bahasa Inggris, native speaker atau guide. Meskipun begitu 43 siswa (17,92%) merasa belum pernah dites speaking. Hal ini bisa dipahami karena meskipun ada ujian di sekolah tetapi tidak ada tes khusus speaking. 77 siswa (32,08%) merasa lupa atau tidak tahu, sisanya 5 siswa (2,08%) tidak menjawab. Yang pernah dinilai speaking, 28 siswa (24,35%) mengatakan bahwa kemampuan speaking mereka bagus, mendapat nilai sedang ada 57 siswa (49,57%), nilai buruk ada 28 siswa (24,35%), mendapat nilai buruk sekali ada 1 siswa (0,87%) dan 2 siswa (1,74%) menjawab tidak jelas. Dari yang pernah dites speaking, 97 siswa (84,35%) merasa diberi saran oleh penguji antara lain harus meningkatkan kemampuan dengan memperbanyak praktek baik itu pada grammar, vocabulary, pronunciation, atau sikap dengan menonton film berbahasa Inggris, sering berkomunikasi dengan orang asing atau guru Bahasa Inggris, dan yang lebih penting lagi jangan menyerah. Sedangkan sisanya 22 siswa (19,13%) merasa tidak diberi saran oleh penguji. Para siswa sendiri sudah memiliki solusi untuk peningkatan kemampuan speaking. Sebanyak 56 siswa (23,33%) dengan cara kursus di lembaga Bahasa Inggris, 26 siswa (10,83%) dengan cara mempraktekkan teori dari buku paket, 13 siswa (5,42%) dengan cara berbicara sebanyak mungkin dengan guru Bahasa Inggris, 1 siswa (0,42%) memanggil guru privat, 7 siswa (2,94%) mengkombinasikan cara-cara yang sudah disebutkan tadi, dan sisanya 136 siswa (56,67%) dengan cara praktek sendiri, les di bimbingan belajar, melalui internet, menonton film atau berita Bahasa Inggris di TV, mendengarkan lagu-lagu barat atau siaran radio Bahasa Inggris. Dikaitkan dengan penerimaan siswa terhadap pola pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah, ada 186 siswa (77,5%) merasa bosan/jenuh dengan metode pembelajaran Bahasa Inggris yang konvensional misalnya dengan melalui text book/ceramah, dan hanya 16 siswa (6,67%) menjawab tidak bosan/jenuh, sisanya 36 siswa (15%) menjawab sangat jenuh, kadang-kadang jenuh kadang-kadang tidak, atau mengantuk/melamun. Rasa bosan/jenuh membuat mereka tidak apresiatif terhadap Bahasa Inggris sebab metode konvensional menurut 85 siswa (45,70%) tidak membuat mereka mampu berkomunikasi, 36 siswa (19,35%) merasa bahan semuanya dari buku (kurikulum), 31 siswa (16,67%) berpendapat bahwa metode konvensional hanya membuat mereka bingung. Jumlah yang sama ,31 siswa, menganggap selama ini terlalu banyak kosa kata sulit yang terlalu jauh dengan kehidupan mereka, 3 siswa (1,61%) menganggap bahan semuanya dari guru, 9 siswa (4,84%) berpendapat gabungan dari semuanya itu dan 1 siswa (0,54%) memberi jawaban tidak jelas. Sedangkan yang berpendapat metode konvensional tidak membosankan, 3 siswa (18,75%) memberikan alasan karena metode tersebut mampu membuat mereka berkomunikasi, 3 siswa juga merasa guru sangat bagus menerangkannya, 6 siswa (37,5%) menganggap kosa katanya mudah dipelajari dan diingat, sedangkan sisanya 4 siswa (25%) memberi alasan gabungan yang disebutkan tadi dan memudahkan sistem pembelajaran. Metode pembelajaran Bahasa Inggris secara keseluruhan katanya mendukung kemampuan speaking mereka diungkapkan oleh 112 siswa (46,67%), 43 siswa (17,92%) menganggap tidak mendukung, 84 siswa (35%) merasa sedikit dukungannya, malah membingungkan, sisanya 1 siswa (0,42%) tidak memberikan jawaban. Jika kelasnya klasikal maka metode yang sebaiknya diterapkan menurut 128 siswa (53,33%) adalah simulasi/game, 24 siswa (10%) memilih metode diskusi, 22 siswa (9,17%) memilih bermain peran, 57 siswa (23,75%) memilih gabungan ketiganya, 8 siswa (3,33%) meminta dikelompokkan berdasarkan kemampuan, dan sisanya 2 siswa (0,83%) tidak memberi jawaban. Metode simulasi/game disarankan diterapkan untuk peningkatan speaking karena 208 siswa (85,83%) pernah mendapatkan metode tersebut baik itu di SLTP, di SMU, dalam pelajaran ekstra, atau di tempat kursus. Hanya 15 siswa (6,25%) yang tidak pernah mendapatkan metode tersebut, 18 siswa (7,5%) merasa tidak tahu, sisanya 1 siswa (0,42%) tidak memberi jawaban. Sebanyak 113 siswa (47,08%) merasa jarang sekali mendapatkan metode simulasi, 66 siswa (27,5%) pernah mendapatkan 2-3 kali, 24 siswa (10%) pernah sebanyak 4-5 kali, 7 siswa (2,92%) hanya 1 kali, sedangkan sisanya 25 siswa (10,42%) tidak memberi jawaban. Sebanyak 120 siswa (50%) menyimpulkan bahwa guru sangat perlu membawa permainan/simulasi di kelas untuk meningkatkan kemampuan speaking mereka, 113 siswa (47%) menjawab perlu, 4 siswa (1,67%) menjawab tidak perlu, 3 siswa (1,255) menjawab tidak tahu, dan sisanya 1 siswa (0,42%) tidak memberi jawaban. 2. Media Yang Dibutuhkan Sediakan pula dadu masing-masing 2 buah atau lebih per kelompok. Dadu minimal harus 2 buah guna mengantisipasi angka yang muncul kecil terus atau sama terus padahal papan simulasi ini sampai nomor 19. Usahakan dadunya berwarna warni pula sehingga bisa menarik para siswa. Bisa pula kita membuatnya dari kayu yang dicat dan dinomori. Media lain yang dibutuhkan adalah daftar pertanyaan atau instruksi yang berkaitan dengan tema/sub-tema. Paling tidak kita harus menyediakan 19 pertanyaan/instruksi. Kita juga harus menyediakan pertanyaan/instruksi cadangan untuk mengantisipasi dadu jatuh pada nomor yang sudah dibaca/dilakukan instruksinya sehingga siswa tidak bosan dan tetap ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan/instruksi-instruksi itu kita tuliskan di kertas-kertas kecil seukuran amplop kecil. Alangkah baiknya juga berwarna dan diberi gambar latar belakang. Untuk tema Culture and Art bisa berupa orang sedang bermain musik, sedang menari atau sejenis itu. Hal inipun bisa kita dapatkan dari MS Word. Sebenarnya pertanyaan bisa langsung di kertas begitu saja asalkan bagian belakangnya dinomori, tetapi lebih baik kertas-kertas tadi dimasukkan ke dalam amplop-amplop kecil dan amplopnyalah yang dinomori. Untuk pertanyaan/instruksi cadangan bisa dimasukkan ke dalam amplop tersendiri. Hal ini guna tetap mempertahanka n rasa ingin tahu siswa dan keterkejutan atas pertanyaan/instruksi. Identitas pemain juga perlu disediakan. Penulis biasanya menggunakan benda-benda dari pantai, batu-batu karang kecil, bekel, keong, atau sejenis itu, yang penting menarik bagi para siswa. Bisa juga kita meminta siswa membawa sendiri-sendiri, kadang-kadang kalau yang penulis bawa tidak cukup mereka menggunakan karet penghapus, tutup pensil, permen, atau potongan kapur. Perangkat lainnya adalah kartu kendali simulasi untuk mencek apa yang terjadi di dalam kelompok apakah pertanyaan/instruksi dilakukan dengan tepat atau tidak. Selanjutnya kertas koleksi kosa kata baru. Setiap siswa dalam kelompok wajib menyediakan kertas kosong yang digunakan untuk menulis setiap kata baru yang ia dapatkan selama permainan simulasi tersebut. Pada akhir permainan kertas-kertas tersebut dikumpulkan untuk dilihat guru kemudian nantinya dikembalikan kepada siswa. Terakhir adalah aturan permainan yang berisi langkah-langkah yang harus dilakukan selama permainan simulasi berlangsung. Organizer atau pengatur memegang peranan penting dalam hal ini. Oleh karena itu kita harus membuat mereka mengerti dulu permainan simulasi ini sebelum itu dibawakan dalam kelompok (Contoh-contoh media yang penulis buat, untuk papan simulasi lihat LAMPIRAN XI, kartu kendali simulasi lihat LAMPIRAN II, peraturan simulasi lihat LAMPIRAN III, daftar pertanyaan/instruksi lihat LAMPIRAN IV). B. Proses Pembelajaran 1. Pre-Activity Kemudian para siswa kita arahkan ke tema yang akan dibahas misalnya dengan menanyakan beberapa pertanyaan atau memperlihatkan gambar/foto. Untuk tema Culture and Art penulis kebetulan memiliki foto-foto upacara Sekatenan di Kraton Yogyakarta sehingga dengan mudah para siswa diarahkan ke tema. Langkah berikutnya penjelasan umum kepada siswa mengenai metode simulasi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, memilih organizer atau pengatur dan pembagian kelompok berisi 5 - 6 siswa termasuk pengatur. Pemilihan pengatur bisa berdasarkan pendapat siswa atau kita yang menentukan. Setelah terpilih 8 orang organizers, kemudian mereka disuruh maju ke depan untuk menerima penjelasan lebih rinci. Organizer tersebut akan menerima 1 papan simulasi dan perlengkapan lainnya seperti telah disebutkan di muka. Untuk pengisian kartu kendali simulasi bisa dijelaskan sambil proses berjalan supaya menghemat waktu. Setelah semuanya siap, maka simulasi sudah bisa dimulai. 2. Whilst-Activity Untuk kepentingan ini, penulis dibantu seorang siswa kelas 3 yang tahun lalu mendapatkan metode serupa, melakukan pengambilan gambar menggunakan handycam, sehingga proses pembelajaran ini bisa dipelajari dengan jelas, begitu pula bisa dievaluasi kelemahan-kelemahannya. Pengambilan gambar ini dilakukan di kelas yang untuk pertama kalinya mendapatkan metode simulasi tematis, sehingga penulis sendiri masih melihat banyak kekurangannya. 3. Post-Activity C. Hasil Pembelajaran NILAI RATA-RATA PRE & POST TEST PEMAHAMAN SISWA Kelas Jumlah Siswa Hadir Mean Pre-Test Mean Post test Skor terendah Pre/Post Skor tertinggi Pre/Post Deviasi Standar Pre/Post 2A 40 7,05 7,13 4 / 5 9 / 9 1,94 / 1,42 2B 42 7,36 7,43 4 / 5 9 / 9 2,08 / 1,42 2D 37 7,03 7,03 4 / 4 9 / 9 2,16 / 1,91 2. Hasil Pembelajaran Pada Kemampuan Speaking Untuk kelas 2D dilaksanakan Hari Rabu tanggal 18 September 2002. Untuk pemilihan sampel didasarkan pada pendapat siswa yakni 3 orang yang dianggap baik speaking-nya, 3 orang sedang, dan 3 orang dianggap buruk. Kemudian dicocokkan pendapat itu kepada yang bersangkutan dan terakhir penulis minta pendapat dari rekan guru Bahasa Inggris yang juga mengampu kelas tersebut. Untuk norma penilaian penulis mengacu pada norma Princeton Evaluation (lihat LAMPIRAN XII) yang meliputi Pronunciation and Accent, Grammar, Vocabulary, Fluency, Comprehension. Bandingkan dengan Harris yang menggunakan norma penilaian yang meliputi fonologi, struktur, kosa kata, dan kecepatan kelancaran umum (Harris, 1977:11) Adapun hasil pre dan post test Kelas 2 B adalah sebagai berikut :Tabel 2 NILAI PRE-TEST SPEAKING SISWA Nomor Sampel Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency Comprehension Total Rerata 1 70 65 70 75 60 340 6,80 2 60 60 65 60 65 310 6,20 3 70 70 70 70 65 345 6,90 4 65 60 60 60 60 305 6,10 5 50 60 50 55 50 265 5,30 6 45 45 45 50 50 235 4,70 7 40 40 40 45 45 210 4,20 8 40 45 50 40 45 220 4,40 9 55 55 55 50 60 275 5,50 TOTAL 495 500 505 505 500 2.505 50,10 RERATA 5,50 5,56 5,61 5,61 5,56 5,57 Tabel 3 NILAI POST TEST SPEAKING SISWA Nomor Sampel Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency Comprehension Total Rerata 1 70 70 75 65 75 355 7,10 2 60 65 70 55 70 320 6,40 3 70 70 75 70 75 360 7,20 4 60 70 70 60 65 325 6,50 5 65 75 70 65 70 345 6,90 6 55 60 65 55 65 300 6,00 7 50 55 60 45 60 270 5,40 8 50 55 60 45 60 270 5,40 9 50 55 60 55 60 280 5,60 TOTAL 530 575 605 515 600 2.825 56,50 RERATA 5,89 6,39 6,72 5,72 6,67 6,28 Berikut ini naskah dari pre dan post test speaking sample 1 mewakili yang baik, sampel 4 mewakili yang sedang dan sampel 9 mewakili yang buruk. Untuk sampel yang lain lihat LAMPIRAN VII. 2. Sampel 4 3. Sampel 9 Naskah Post Test Speaking 2. Sampel 4 3. Sampel 9 3. Hasil Pembelajaran Pada Kemampuan Writing Tabel 4 Nilai Writing Test Kelas Sampel Kelas Sampel Jml Siswa hadir Ortoghraphy Grammar Vocabulary Comprehension Total Rerata 2A 39 2.640 2.560 2.620 2.705 10.525 6,42 2C 40 2.580 2.325 2.445 2.480 9.830 5,85 4. Hasil Pembelajaran Pada Ranah Afeksi Siswa yang merasa kurang yakin memberikan bukti antara lain: tidak mendapat kosa kata baru, tidak merasa kemampuan speaking bertambah, tidak bisa menjawab tetapi tidak ada teman yang membantu, hanya bicara kalimat singkat, kurang mampu memotivasi untuk speaking, kurang serius/bergurau, masih bingung/tidak mengerti pertanyaan, memilih menerima hukuman, teman-teman tidak memberi kesempatan menjawab lengkap, masih gagu, masih campur Bahasa Indonesia/Jawa, banyak kata-kata Indonesia yang Inggrisnya tidak tahu, masih dipengaruhi bertanya dalam Bahasa Indonesia/Jawa, tidak maksimal menyampaikan pendapat karena dibatasi waktu, lebih baik menerima sangsi, tidak serius, grammar dan struktur kalimat tidak dipedulikan, kebingungan menjawab karena sulit mengungkapkannya, belum bisa menyusun kata-kata dalam Bahasa Inggris, tidak ada kosa kata baru, sudah terlanjur diberi hukuman sebelum menjawab, kemampuan speaking kurang, ada kosa kata yang tidak tahu artinya, lebih memikirkan hukuman daripada jawaban, dan kurang mengerti pertanyaan. Yang merasa tidak yakin memberikan bukti antara lain waktu terlalu singkat, tidak ada waktu untuk mengingat kosa kata baru, kemampuan tidak bertambah karena tidak percaya diri. Sebagian besar siswa memberikan kesan positif terhadap metode simulasi tematis ini yakni 73 siswa (61,34%) menyatakan bahwa simulasi tersebut menarik, Bahasa Inggris menjadi menyenangkan/enak, mengesankan, bisa hiburan/refreshing, bagus, memotivasi, cukup baik, lumayan, melatih untuk percaya diri dan kekompakan, asyik, very great, seru, ramai, pertanyaan tidak monoton, suasana baru, tidak membosankan, tidak ngantuk, menambah wawasan bidang seni dan budaya, sangat menantang, suasana akrab, membangkitkan semangat, dapat berekspresi di depan umum, menghilangkan kejenuhan, dan menimbulkan rasa gembira. Ada 30 siswa (25,21%) menyatakan bahwa simulasi tematis ini menarik dan menyenangkan tetapi kelas menjadi ramai, 4 siswa (3,36%) menyatakan biasa saja, 4 siswa juga menyatakan lucu. Sedangkan kesan negatif dinyatakan oleh 8 siswa (6,72%) bahwa simulasi ini memaksa siswa untuk melakukan sesuatu/kurang berkenan dihati, kurang bermanfaat, kurang berkesan, kurang ramai, hukuman terlalu mudah, kurang tertib, menyimpang dari sasaran, menjengkelkan, dan kurang bervariasi. .Adapun pandangan siswa tentang kelemahan/kerugian simulasi tersebut antara lain sebanyak 32 siswa (26,89%) menyatakan tidak ada, mungkin keasyikan dengan simulasi tersebut sehingga tidak menemukan titik titik lemahnya, 23 siswa (19,32%) melihat bahwa siswa terfokus pada permainan bukan pada belajar karena mereka sibuk memikirkan sangsi atau hukuman, 19 siswa (15,96%) menyatakan bahwa banyak waktu terbuang, 18 siswa (15,12%) menyatakan kelas jadi ramai sehingga suasana belajar tidak nyaman, 12 siswa (10,08%) menyatakan tidak efektif dan efisien karena banyak waktu bercanda, 10 siswa (8,40%) menyatakan program belajar kurang terencana, tidak banyak mengembangkan kemampuan dan tidak ada pengawasan. Sedangkan sisanya 5 siswa (4,20%) menyatakan tidak tahu, sulit dijalankan dan membosankan. Adapun saran-saran yang diajukan siswa untuk kebaikan simulasi tersebut antara lain permainan harap ditingkatkan sebanyak 47 siswa (39,49%), 26 siswa (21,84%) menyarankan agar lebih sering diadakan, sisanya memberikan saran yang bervariasi antara lain dibuat seperti monopoli, bahan diskusi diperluas, topik dibuat semenarik mungkin, tambah waktu, siswa harus memperhatikan yang dihukum, harus diawasi dan dilihat jika ada kosa kata yang tidak dimengerti harus dibantu, membuat anak aktif, kosa kata kurang banyak, selang seling dengan metode konvensional, topik harus mengena dengan dunia siswa (remaja), kelompok dicampur putra-putri, tidak ada kelompok, hukuman jangan kekanak-kanakan, banyak peran aktif melakukan pekerjaan, simulasi harus berguna, waktu game jangan terlalu lama, diadakan secara reguler, bobot soal ditingkatkan, organizer harus valid, jangan ada sangsi, mencakup semua tema, kelompok ditentukan guru, lebih diperbanyak, hukuman/sangsi tidak sama, permainan tebak-tebakan, didampingi orang yang mampu berbahasa Inggris, berjenjang dari yang mudah ke yang sulit, diberi pengarahan, dibuat lebih menarik dengan komputer, dilakukan di ekstra kurikuler, tidak boleh kacau, diberi kesempatan untuk menjawab, menang dapat hadiah, dan harus lebih teratur. 4.2. Tanggapan Rekan Sejawat Terhadap Metode Simulasi Tematis 5. Hasil Pembelajaran Pada Penambahan Kosa Kata BAB III Apakah para siswa memiliki kemampuan sesuai harapan orang tua mereka? Seorang pendidik dari Australia, Ian Briggs, dalam sebuah seminar "Towards More Innovative and Communicative English Language Teaching" mengatakan bahwa banyak lulusan SLTA tak mampu berbahasa Inggris dengan baik kendati sudah mempelajarinya selama 6 tahun di sekolah formal, kesalahannya bukan pada materi pelajaran tapi karena guru kurang aktif menciptakan strategi pengajaran yang dapat memotivasi siswa. Padahal motivasi berperan penting dalam mempelajari Bahasa Inggris. A. Metode Simulasi Tematis Dengan Kemampuan Pemahaman SiswaApabila diperhatikan tabel 1 di muka, maka perbandingan nilai pre-test dengan post test diprosentasekan sbb: Tabel 5 Perubahan Pemahaman Siswa Kelas Prosentase Pre-Test Prosentase Post Test Keterangan 2A 32,88% 33,03% Naik 0,15% 2B 34,33% 34,41% Naik 0,08% 2D 32,79% 32,56% Turun 0,23% Dari tabel tersebut terjadi perubahan pemahaman siswa yakni 2 kelas mengalami kenaikan dan 1 kelas mengalami penurunan. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada nilai rata-rata tetapi juga pada skor sebagian siswa yang dalam pre-test menjawab A (jawaban yang benar) setelah simulasi menjawab B (salah). Berarti proses simulasi tersebut telah memberikan perubahan pada visi siswa, merubah daya resepsi/tanggapan yang terdahulu dimiliki siswa, meskipun dari sudut kebenaran jawabannya pilihan kedua (second choice) tersebut salah. Jadi secara implisit simulasi tematis telah merubah daya resepsi siswa. Untuk kelas 2D meskipun prosentasenya mengalami penurunan tetapi persebaran nilainya relatif lebih mendekati rata-rata. Hal itu bisa dilihat pada LAMPIRAN V nilai terendah 4 menjadi hanya 1 yang pada pre-test ada 2. Perlu diketahui bahwa para siswa SMU 8 Yogyakarta sudah terbiasa menghadapi tes-tes seperti itu. Kelas 2 dan 3 harus masuk pukul 6.30 pagi guna mengikuti tes pendalaman materi selama 45 menit termasuk Bahasa Inggris. Materi soalnya mengacu pada materi UAN dan SPMB, sehingga mendapatkan tes sesulit apapun mereka tidak terkejut. B. Metode Simulasi Tematis Dengan Kemampuan Speaking Siswa Ada keraguan pada diri penulis untuk mengadakan tes speaking Apakah hasilnya subjektif atau objektif? Oleh karena itu penulis berdiskusi dahulu dengan para senior dan menyediakan alat perekam agar hasil tes tersebut bisa dituliskan sehingga ada pembanding. Untuk kepentingan penulisan makalah ini, penulis juga mencoba mentransfernya ke CD sehingga pihak lain dapat memberikan penilaian pula. Sedangkan untuk norma penilaian, penulis menggunakan Princeton Evaluation yang lebih lengkap. Adapun perkembangan kemampuan speaking siswa sebelum simulasi tematis dapat diprosentasekan sebagai berikut:Tabel 6 Prosentase Kemampuan Speaking Siswa Pra Simulasi Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency Comprehension 19,76% 19,97% 20,15% 20,15% 19,97% Sedangkan prosentase kemampuan speaking siswa setelah simulasi adalah sebagai berikut: Tabel 7 Prosentase Kemampuan Speaking Siswa Pasca Simulasi Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency Comprehension 18,76% 20,36% 21,41% 18,22% 21,25% Peningkatan kemampuan speaking siswa terjadi pada vocabulary, grammar dan comprehension, sedangkan kemampuan pronunciation and accent dan fluency mengalami penurunan. Hal ini masuk akal karena mana mungkin pengucapan dan aksen dan kefasihan seseorang dapat berubah dalam waktu cepat hanya karena simulasi? Meskipun kemungkinan tersebut tetap ada. Penurunan tersebut juga diakibatkan semakin banyaknya kosa kata yang mereka dapatkan yang pengucapannya belum sempurna sehingga nilai untuk bidang tersebut turun. Yang menarik adalah bahwa metode simulasi tematis ini mampu menghilangkan rasa nervous dan justru membangkitkan rasa percaya diri bagi siswa yang rendah rasa percaya dirinya. Keterampilan berbicara memang secara teoritis langsung, produktif dan ekspresif yang apabila itu dirangsang oleh seorang guru, bagi siswa tertentu mungkin malah sebagai penghambat kelancarannya berbicara. Lain halnya apabila stimuli itu diberikan oleh teman sebaya dengan demikian mereka juga mengembangkan listening yang sifatnya juga langsung, apresiatif, reseptif dan fisikal. Namun tidak serta merta stimuli teman itu menghilangkan rasa nervous, perlu bantuan alat peraga. Berbicara dengan bantuan alat peraga diyakini akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak (Tarigan, 1985:5). Apabila kita perhatikan naskah pre dan post speaking maka akan nampak kejanggalan-kejanggalan. Masalahnya adalah terdapat perbedaan antara komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Tarigan mengatakan bahwa ekspresi lisan cenderung ke arah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetap, dan biasanya lebih kacau serta membingungkan. Namun begitu berbicara dan menulis erat hubungannya, keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna atau arti (Ibid.:6-8). C. Metode Simulasi Tematis Dengan Kemampuan Writing Siswa Dalam hal pengungkapan ide atau gagasan, siswa yang mendapatkan simulasi tematis cenderung menjawab lebih baik daripada yang tidak dan langsung pada permasalahan, tidak berlebih-lebihan atau memutar-mutar, sedangkan yang tidak mendapatkan simulasi cenderung sebaliknya. D. Metode Simulasi Dengan Perubahan Sikap Disamping motivasi adalah mood, suasana hati. Kelas 2 SMU menurut penulis, umumnya sedang ada dalam puncak hormon. Hal-hal yang menganggu suasana hati mereka seperti putus pacar, rebutan pacar dan sejenis itu lainnya sangat mempengaruhi resepsi/tanggapan mereka terhadap semua mata pelajaran, termasuk Bahasa Inggris. Seorang guru perlu menyikapi hal tersebut misalnya dengan mengembangkan metode. Sebenarnya mood dan motivasi adalah urusan intern siswa, merekalah yang harus menata mood dan menjaga agar motivasinya tetap kuat untuk belajar sesuatu, tetapi kenyataannya tidak begitu. Justru banyak sikap dan metode guru yang menghilangkan mood dan motivasi siswa dan banyak pula guru yang dengan metode yang baik justru membangkitkan mood dan motivasi siswa . Metode simulasi yang penulis kembangkan sangat memungkinkan untuk membangkitkan mood dan motivasi siswa. Untuk itu lihat kembali Bab II tentang tanggapan siswa. Bahkan penulis pernah menemukan dalam catatan kartu kendali simulasi, kelompok yang menulis 'We think this day is a bad day, but we very very very happy and enjoy it,' dan 'less variation, not so cool but make the class alive'. Disamping itu, para siswa belajar keterampilan emosional. Mereka berlatih untuk menahan diri, untuk tidak asal menghukum, belajar sabar mendengarkan pendapat orang lain, tidak gampang menyalahkan orang lain dan bekerjasama dengan orang lain untuk meningkatkan kemampuan berbahasa. Hal tersebut sangat mendukung mereka mengembangkan kecerdasan emosional yang juga penting selain kecerdasan kognitif (Goleman, 2000:397-406). E. Metode Simulasi Tematis Dengan Penambahan Kosa Kata Diyakini bahwa semakin banyak kosa kata yang dimiliki siswa maka semakin mudah pula mereka mengembangkan empat kemampuan berbahasa, tetapi kosa kata apa yang penting bagi siswa? Dari hasil angket ternyata para siswa mendapatkan penambahan kosa kata, tetapi seperti dugaan penulis, kosa kata yang didapatkan para siswa kemungkinan kosa kata umum, baik yang berkaitan dengan tema Culture and Art maupun kosa kata sehari-hari. Diyakini pula bahwa dengan bertambahnya kosa kata siswa akan menambah baik pula kefasihan berbicara dan menulis. Dan hal tersebut terbukti dalam hasil tes speaking maupun writing bahwa kosa kata siswa sampel dan kelas sampel cenderung mengalami peningkatan. BAB IV Metode simulasi tematis disamping mampu membuat suasana kelas hidup dan menyenangkan, juga mengindikasikan adanya peningkatan kemampuan berbahasa Inggris siswa yang cenderung lebih baik dalam bentuk pemahaman terhadap tema tertentu maupun dalam kemampuan speaking dan writing. Meskipun begitu ada pula kelemahan metode ini. Pertama, membuat kelas menjadi ramai sehingga kadang-kadang sulit membedakan apakah keramaian itu memberikan suatu proses pembelajaran atau tidak. Kedua, tidak bisa dipakai berulang-ulang secara terus menerus. Artinya, mungkin dalam satu tahun pelajaran hanya 4 - 5 kali penggunaan dalam kelas yang sama. Ketiga, memerlukan pengawasan yang lebih daripada proses pembelajaran biasa karena dalam situasi yang demikian ramai, para siswa sering lupa untuk terus menggunakan Bahasa Inggris dalam simulasi tersebut. Adapun keuntungannya, metode ini fleksibel, dapat digunakan untuk semua tema dan dapat dimulai dari tingkat kemampuan siswa yang sudah memiliki kemampuan komunikasi dasar. Menurut Endang Adi, metode pembelajaran Bahasa Inggris melalui simulasi ini sifatnya nor formal sehingga penentuan materi pembelajaran bisa bersifat longgar, tanpa harus mengacu pada kurikulum yang berlaku. (Adi, 2002:37). Penulis mencoba menyatukannya dengan kurikulum dan menyesuaikan dengan kemampuan siswa kelas 2 SMU. Kedua, mendorong siswa untuk secara otomatis berbicara Bahasa Inggris karena menuntut kelompok untuk membangun suasana pembelajaran Bahasa Inggris. B. Saran-saran Adi, Endang. 2002 "Kartu Simulasi. Media Bantu Pemerolehan Bahasa Inggris Bagi Anak-Anak". Majalah Gerbang, Edisi 6 TH. I, Maret - April 2002. Denmas, Nurul Isnaini dan Armon 1997 Teaching Speaking. Artikel. Disajikan pada Latihan Kerja Instruktur PKG Bahasa Inggris Tahun 1997/1998 Jakarta 14-25 Juni 1997
Depdikbud. Dryden, Gordon dan Jeannette Voss 2000 Revolusi Cara Belajar Bagian I Keajaiban Pikiran. Bandung, Kaifa. Fajar, A. Malik. 2002 "Pendidikan Sebagai Praksis Humanisasi. Aspek Kemanusiaan Sebagai Basis Pembaharuan Paradigma Pendidikan Nasional". Majalah GERBANG, Edisi 2 TH.II, Agustus 2002.
Goleman, Daniel.
2000 Kecerdasan Emosional . Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.
Hadfield, Jill Hadiatmadja, Musman. 1982 "Analisa Transaksional Dalam Proses Belajar Mengajar" dalam Kumpulan Pikiran-Pikiran Dalam Pendidikan. Jakarta, Rajawali. Harris, David P. 1977 Testing English as a Second Language. New Delhi, Tata Mc Graw Hill Publishing Company. John E. Brewton, et al. 1962 Using Good English. Composition and Grammar. Illinois, Laidlaw Brother's Publisher. Larcom, David L. 1997a English is Fun first Edition. Jakarta, Visipro. 1997b English is Fun second Edition. Jakarta, Visipro. "MBS Mendobrak Kebakuan Berpikir Anak Didik". Kompas, 18 September 2002. Nasution, S. 2001 Metode Research. Jakarta, Bumi Aksara. Palim, John. et al. 1992 Tombola. Hongkong, Nelson. Purwanto, M. Ngalim. 2000 Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung, PT Remaja Rosdakarya. Rogers, John. 1977 Group Activities for Language Learning. Singapore, SEAMO Regional Language Centre. Rooijakkers, Ad. 1993 Mengajar Dengan Sukses. Petunjuk Untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran. Jakarta, PT Grasindo. Siswari, Esther Sri dan Budiono. 1997 The Teaching of Vocabulary An Article. Presented in the English LKI Jakarta 14 - 25 June 1997 Somantri, Nurdin. 2002a Visi Keberagamaan Kita Sekarang dan Masa Depan. www.pendidikan.net, 2002b Teaching English by Using Multimedia. WEBZINE/BESTPRACTICE, 2nd Edition. 2002c Penulisan dan Pendiskusian Makalah Bahasa Inggris Sub-tema Seks Bebas Oleh Kelas 2 Angkatan 2001/2002 SMU N 8 Yogyakarta Sebagai Wacana Peningkatakan Imtaq. Naskah Lomba. Tidak diterbitkan. Suparno, Paul. 2002 "Guru dan Reformasi Pendidikan". Kompas, 22 Agustus 2002. Supriadi, Dedi. 2000 Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta, Adicita Karya Nusa. Tarigan, Henry Guntur. 1985 Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung, Angkasa. Tittil, Bruce and Mary Newton Bruder. 1985 Speaking Naturally. Communication Skills in American English. Melbourne - Australia, Cambridge University Press. Strevens, Peter. t.t. Teaching English as an International Language. From Practice to Principle. Oxford, Pergamon Institue of English. Sudjana, Nana. 1991 Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung, Sinar Baru. Watcyn-Jones, Peter. 1988 Pair Work. Activities For Effective Communication. London, Penguin Books. Zamroni. 2000 Paradigma Pendidikan Masa Depan.Yogyakarta, Bigraf Publishing. Saya Nurdin Somantri setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|




