
|
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan. Nama & E-mail (Penulis): R. J. Kadarisman Saya Guru di SMKN 6 Samarinda Tanggal: 31 Januari 2003 Judul Artikel: Kok Mumet Sekolah Topik: Banyak Jargon bikin mumet " Ma.. ini ada undangan dari sekolah untuk rapat besok membahas pembentukan komite sekolah " kata seorang anak pada ibunya seusai pulang sekolah. " Apa itu komite sekolah Din", lanjut sang ibu. Dina dengan penuh semangat memberikan penjelasan pada sang ibu tentang segala sesuatu yang diketahuinya tentang komite sekolah sebagaimana disampaikan oleh pihak sekolah. " Ya ... itu kan sama saja alias Samimawon dengan BP-3, sekarang ini yang dipermasalahkan oleh masyarakat kita bukanlah pembentukan lembaga baru seperti komite sekolah dan tetek bengeknya, namun yang utama adalah bagaimana upaya pemerintah dan pemegang kebijakan pendidikan mampu mengubah opini masyarakat dari " Kok Mumet Sekolah " menjadi komite sekolah sebagai lembaga Dari, Oleh dan Untuk kemajuan dunia pendidikan yang ada di masyarakat serta mampu melihat segenap aspek penyerta. Sebuah ungkapan sederhana yang keluar dari hati nurani kalangan akar rumput yang bernada sindiran halus, kiranya perlu untuk disikapi oleh para penentu kebijakan di negeri ini. Bahasa plesetan yang dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak terlalu menohok ulu hati dan jantung para pemimpin kita memang di rasa pas diung kapkan daripada harus berbuat anarkhis. Memang dunia pendidikan kita sedang sarat dengan beban sebagaimana diungkapan sang ibu dengan lontaran khasnya " Kok mumet sekolah". Kita semua memang sedang mumet ( pusing - Jawa) apalagi dengan adanya kenaikan BBM, TDL dan tarif telpon. Dan itu semua berdampak di masyarakat, termasuk institusi pendidikan. Mulai dari siswa yang mumet karena beban mata pelajaran yang berat dan sarat akan target pencapaian kelulusan serta persiapan masuk perguruan tinggi.Orang tua mumet karena harus menambah ongkos transport sekolah dan biaya pembelian alat tulis dan buku yang mahal harganya karena harus didatangkan dari P. Jawa ( katanya sih ongkos kirimnya ikut naik ). Para guru tambah lebih mumet lagi karena harus tetap eksis di depan kelas sementara beban ekonomi rumah tangga membengkak karena gaji tidak naik. Institusi sekolah juga ikut-ikutan mumet karena banyak yang harus diperbaiki termasuk atap dan dinding sekolah yang perlu di cat ulang, namun ternyata kas sekolah kosong akibat siswa banyak yang nunggak membayar iuran BP-3. Dan yang tak mau kalah adalah para mahasiswa juga ikut-ikutan mumet karena para dosen sibuk cari obyekan untuk menutup kebutuhan dapur dibanding memberi perkuliahan . Daripada tidak ada kuliah dan suntuk di kampus lebih baik turun ke jalan ikut menyemarakan kontes demo yang mungkin mereka sendiri banyak yang tidak tahu kemana arah perjuangan ini. Pokoknya semua serba mumet, lalu siapa yang harus bertanggung jawab kalau semua masyarakat kita MUMET ? Masakan dunia pendidikan yang diharapakan sebagai pencetak kader bangsa juga harus ikut-ikutan mumet ? Memang tidak salah kalau para orang tua siswa terutama para ibu dewasa ini lebih condong dan mendukung ungkapan " Kok Mumet Sekolah daripada mendukung pendirian Komite Sekolah, toh tidak ajauh beda dari BP-3 yang hanya ganti baju karena sudah usah dan ditambah sedikit asesoris pemanis. /Joe Saya R. J. Kadarisman setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|




