
|
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Nama & E-mail (Penulis): Ign.Sumarya SJ Saya Pengamat di Jakarta Tanggal: 2 Desember 2002 Judul Artikel: Pendidikan nilai/budi pekerti: MATA dan TELINGA Topik: pendidikan nilai Artikel: Pendidikan nilai/budi pekerti: MATA dan TELINGA Dalam kesempatan pertemuan "Pendidikan Katolik Internasional" di Brasilia-Brasil, seorang rekan dari Amerika Serikat berceritera bahwa "seorang anak nonton tv satu jam saja sudah akan berpengaruh terhadap perilakunya". Pernyataan itu kemudian kami eksplorasi bersama: mengapa demikian. Di Amerika cukup banyak saluran tv. Bukankah seseorang termasuk anak akan menonton siaran tv tidak hanya asal menghidupkan pesawat tv, tetapi yang bersangkutan pasti akan memilih saluran atau siaran-siaran yang diminati alias menjadi seleranya. Yang menjadi masalah adalah selera. Mengapa menjadi masalah? SELERA Orang(anak) yang hanya mengikuti selera atau dominan dalam hal selera akan cenderung menjadi egois, dan jika ia menghadapi tantangan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan seleranya, ia akan marah (mencelakakan yang lain: kalau ia tidak punya kuasa akan "ngambek/dableg"/membisu, kalau ia penguasa dapat membuat kebijakan yang membuat orang lain menderita). Terbiasa mengikuti selera pribadi akan membuat orang kurang menghargai yang lain atau tidak tahan dalam penderitaan/tantangan/kesulitan. MATA DAN TELINGA. TANTANGAN UNTUK PENDIDIKAN NILAI/BUDI PEKERTI. Apa yang DILIHAT nampaknya pada masa kini perlu memperoleh perhatian serius, misalnya: Demikian pula dengan apa yang DIDENGAR. Orang dapat bermain sandiwara: dihadapan anak kelihatan baik, tetapi jika tidak dilihat anak bertindak seenaknya (mengikuti selera sendiri). Ingat: bermain sandiwara tidak dapat bertahan lama, dan ketika orang tidak mampu bermain sandiwara, alias ia sudah hidup biasa dengan dan melalui perilaku tertentu, ia tak dapat menyembunyikan diri (bersandiwara lagi). Dengan demikian apa yang ia lakukan dengan mudah akan tersiarkan atau diceritakan dari mulut ke mulut...dan kemungkinan sangat besar terjadi ceritera itu sampai ke telinga orang/anak , kepada siapa sebenarnya ia ingin menyembunyikan. Dan jika hal ini terjadi akibatnya akan fatal. Ingat: penyelewengan suami/isteri, korupsi dan sebagaimana. Tantangan: hidup jujur dan disiplin. Catatan: pengamatan kami anak-anak masa balita kurang memperoleh pendampingan atau pendidikan yang memadai, karena kesibukan orangtua (orangtua tidak punya waktu untuk anak secara memadai). Ketika anak masih kecil(balita) dapat dititipkan pada pembantu atau pengasuh/perawat. Dan memang anak balita tidak akan "rewel" atau "protes" atas hal itu. Tetapi kelak ketika menjadi remaja/pubertas, mereka mulai protes...dan inilah kenakalan yang tak terkendali sebagaimana yang terjadi saat ini. Hal ini merupakan permenungan pribadi. Silahkan para pembaca mengkritisi. Tetapi pengalaman dan pengamatan kami: masa BALITA PENTING (5 tahun pertama usia anak=anak, 5 tahun pertama usia perkawinan/hidup berkeluarga, 5 tahun pertama dalam kerja dst..). Ign.Sumarya SJSaya Ign.Sumarya SJ setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|




